Diskusi Dua Legenda Sastra Indonesia Berlangsung Penuh Tawa - bogordaily.net
NASIONAL

Diskusi Dua Legenda Sastra Indonesia Berlangsung Penuh Tawa

BOGORDAILY – ‘A Rare Conversation Sapardi X Jokpin’ sukses digelar di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (6/5/2016) malam. Diskusi tersebut berlangsung penuh tawa.

Acara itu dibuka pukul 19.20 WIB oleh penampilan dari Duo Ari-Reda. Syair-syair puisi yang dibawakan keduanya sukses memecah keheningan Teater Kecil.

Selanjutnya, Najwa Shihab selaku host acara diskusi pun menyapa ratusan penonton yang bahkan rela berdiri sepanjang acara. Tak lama, dua penyair ternama Indonesia pun hadir, Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo.

Di awal kesempatan, Najwa bertanya mengenai kebiasaan Sapardi yang tidak diketahui banyak penggemarnya. Pria 76 tahun itu mengaku suka jalan-jalan di pusat perbelanjaan.

“Jadi kata dokter saya disuruh banyak jalan. Kalau di jalanan kan panas, kalau di mall enak. Jalan satu jam saja nggak terasa,” jawab Sapardi polos.

Setelah penonton berhenti tertawa, Najwa menyinggung buku kumpulan puisi karya perdana Sapardi, ‘Duka-Mu Abadi’. Kemudian Sapardi pun melanjutkannya dengan mengisahkan awal mula buku tersebut terbit pada tahun 1969.

“Jadi saya dulu punya teman yang saat ini menjadi pelukis. Kita berjanji siapa yang kaya duluan, bakal bantu yang lainnya. Saya seneng, penyair kan nggak mungkin kaya,” seloroh Sapardi yang mengundang tawa seisi ruangan.

Pertanyaan Najwa pun berpindah tujuan ke Jokpin. Ia menanyakan mengenai asal-usul karya-karya pria berusia 53 tahun itu yang berbeda dengan penyair lainnya.

“Mas, ini ada yang celana, jemuran, sarung, telepon genggam? Puisi kok celana?” tanya Najwa yang membuat Jokpin tertawa.

“Jadi kepenyairan saya tumbuh di saat saya berhadapan dengan penyair besar waktu itu. Saya harus cari yang beda. Saya harus belok kiri, kalau lurus terus saya nggak bisa sampai ke Taman Ismail Marzuki,” urai Jokpin.

Tentu tak lengkap jika diskusi dengan dua orang legenda hidup Tanah Air tanpa mengorek tips mengenai cara mereka membuat karya. Sapardi mengaku dirinya terbiasa melahirkan karya dengan kondisi yang tenang.

Menurutnya, emosi yang meluap-luap tidak akan menghasilkan karya yang baik. Termasuk juga ketika sedang jatuh cinta atau bahagia yang terlewat batas.“Jadi, apa lagi kalau kita lagi marah ya, jangan bikin puisi, tapi banting gelas,” ucap Sapardi yang dilanjut tawa penonton.

“Harus ada jarak dengan apa yang mau kita tulis. Kalau nggak gitu cengeng nanti. Kalau marah lebih baik demo daripada nulis puisi,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Sapardi dan Jokpin pun membacakan karya mereka masing-masing yang dianggap paling berkesan. Sapardi memilih ‘Tentang Mahasiswa yang Mati’, sedangkan Jokpin membacakan ‘Kamus Kecil’. (detik)

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu