Gus Dur Sang Pembela - bogordaily.net
BOGOR CITY

Gus Dur Sang Pembela

Pada 30 Desember 2016, Pukul 18:00 WIB,7 tahun yang lalu, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat dengan meninggalkan sejuta kenangan.

Warga muslim dengan segala alirannya; Aswaja, Syiah, Ahmadiyah, Kristen/Katholik, Konghucu, Hindu, Budha dan penganut kepercayaan apapun.

Gus Dur yang nyaris buta dihormati dan dicintai rakyat karena sikapnya yang menerima segala perbedaan agama dan kepercayaan. Mengambil resiko tanpa ragu membela mereka yang ditindas kemanusiaannya.

Sikapnya konsisten sejak menjadi seorang tokoh Pro-demokrasi, ketua PB NU dan sebagai Presiden RI.
Suatu sikap yang asli. Genuine. Tidak untuk mencari popularitas apalagi mengarah pada sikap munafik.
Ketika menjabat ketua PB NU, Gus Dur mau saja diminta menjadi saksi nikah kawanku aktivis Nuku Sulaiman (almarhum) yang saat itu sedang dalam penahanan polisi karena aktivitasnya mengedarkan stiker SDSB; SOEHARTO DALANG SEGALA BENCANA.

Ia tanpa ragu dan pikir panjang oke saja diminta menjadi saksi nikah tersebut. Padahal dengan sikapnya itu, dia bisa dinilai setuju dengan Nuku yang anti Soeharto. Apalagi, saat itu Presiden Soeharto sangat kuat hegemoninya.

Tanpa ragu, ketika sebagai presiden banyak ide-ide nyelenehnya yang menunjukkan keberpihakannya pada kebenaran. Seperti hendak membubarkan DPR yang dinilainya selalu ribut persis anak TK. Dan juga sikapnya yang setuju Golkar dibubarkan.

Satu peninggalan monumental pada kelompok etnik Tionghoa adalah ditandatanganinya keputusan presiden yang mencabut larangan praktek keagamaan Konghucu, selain berbagai UU yang pro pada hak asasi manusia.

Rasanya saat inipun sangat terasa perlunya kehadiran Gus Dur untuk memberikan cahaya pada jalan gelap umat dalam menyikapi persoalan kebangsaan, sikap sektarian, dan politisasi agama.

Sekiranya Gus Dur masih ada, kita akan menjadi lebih yakin dengan jalan-jalan yang ditempuh. Karena dia sebagai penerang jalan, akan berjalan didepan kita dengan pikiran sikap-sikapnya yang menuntun dengan tegas.

Persoalan dugaan penodaan agama oleh Ahok salah satu kontestan politik pilkada DKI dengan antitesa dilahirkan fatwa MUI dan gerakan nasional pengawal fatwa MUI telah mendegradasi bangsa ini, dalam 2 kelompok yang terkesan berhadap-hadapan secara diametral. Kelompok Pembela Islam versus Kelompok Kebangsaan.
Gus Dur pernah berujar: Tuhan tidak perlu dibela karena Tuhan sudah maha segalanya. Yang perlu dibela adalah manusia yang tertindas.

Mungkin perspektif Gus Dur sebagai kiai yang sangat dihormati oleh kaum nahdliyin menjadi acuan organisasi NU dengan tegas melalui Ketua Umum PB NU, Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, memberi arahan untuk tidak larut ikut dalam gerakan politik bela Islam yang dimotori oleh GNPF MUI yang didalamnya tergabung spektrum aliran Islam garis keras.

Perdebatan membela Islam juga berkembang dalam bentuk wacana pemikiran. Bila dalam perspektif Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela, apakah itu bermakna juga agama (Islam) tidak perlu dibela? Padahal terdapat perintah menegakkan agama?

Gus Dur pernah juga berujar: meninggikan kemanusiaan juga adalah meninggikan Tuhan, merendahkan kemanusiaan juga bermakna merendahkan Tuhan.

Agama tidak berada pada ruang kosong dan berdiri untuk kepentingan dirinya sendiri. Akan tetapi agama berada pada ruang sejarah peradaban manusia dalam fungsinya untuk meninggikan akhlak.
Bila terdapat upaya-upaya merendahkan kemanusian maka disana perlu ditegakkan nilai-nilai agama dengan cara membela hak-hak manusia yang direndahkan dan ditindas tersebut.

Sehingga bila upaya membela agama diwujudkan dengan aksi-aksi massa yang tidak menghormati hukum, pemaksaan kehendak, menebar pernyataan kebencian. Bahkan, lebih jauh lagi, menyasar pada gerakan politik, sudah pasti dalam perspektif Gus Dur itu bukanlah gerakan bela agama (Islam).

Gus Dur sering membela kelompok-kelompok keagamaan yang pengikutnya didiskriminasi dan yang mengalami penindasan. Seperti kelompok jemaah Ahmadiyah, Syiah, Kristen, dan lain-lain. Itulah perspektif bela agama dalam diri Gus Dur.

Sikap pembelaan Gus Dur berpijak pada pemahaman yang mendalam pada hakikat agama itu sendiri. Bukan pada sikap dogmatis yang jauh dari pemahaman konstektual agama.

Sikap Gus Dur ini juga berbasis pada paradigma fikir yang dibangun oleh NU (fikrah nadliyah) yaitu fikrah tawasuthiyah (pola pikir moderat), yang mengedepankan sikap seimbang, tidak bersikap ekstrim (tafrith).

Kemudian, fikrah tasamuhiyah (toleran) yang mengedepankan hidup berdampingan secara damai dengan paham lain walaupun aqidah, cara pikir dan budayanya berbeda.

Dan terakhir adalah fikrah Ishlahiyah (reformatif ). Yang senantiasa mengupayakan perbaikan menuju pada kebaikan.

Sikap Gus Dur yang konsisten membela kemanusiaan menempatkan dirinya sebagai seorang pembela yang melintasi batas dan sekat-sekat apapun, sehingga dapat dimengerti Gus Dur dicintai oleh berbagai kalangan dan bagi kaum nahdliyin Gus Dur dianggap setara dengan Wali Allah di muka bumi.

Mengenang jasa-jasanya pada perjuangan memuliakan manusia, maka setiap tahun di Indonesia diadakan Haul Gus Dur. Bukan saja oleh kalangan Nahdliyin tetapi juga dikenang dan diadakan oleh kalangan lintas iman.

Peradi, Yayasan Satu Keadilan dan Front Pembela Indonesia, sebagai organisasi yang kerap membela hak-hak warga tertindas ikut melaksanakan Haul Gus Dur dalam semangat untuk mengenang dan merawat pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Semoga sprit “Sang Pembela” dapat menumbuhkan generasi baru yang membawa misi menngkatkan peradaban kemanusiaan.

Joglo Keadilan
Bogor, 30 Desember 2016

Sugeng Teguh Santoso, SH

Komentar Anda?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

To Top
Download Premium Magento Themes Free | download premium wordpress themes free | giay nam dep | giay luoi nam | giay nam cong so | giay cao got nu | giay the thao nu