14 Politikus Inggris Dinonaktifkan karena Komentar Anti-Islam di Medsos

Ilustrasi (Clodagh Kilcoyne/Reuters)

BOGORDAILY – Sebanyak 14 politikus Inggris dinonaktifkan karena memposting komentar bernada rasis dan anti-Islam di media sosial. Para politikus yang dinonaktifkan itu merupakan anggota Partai Konservatif yang kini berkuasa di Inggris.

Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Rabu (6/3/2019), langkah ini menindaklanjuti temuan rentetan komentar bernada Islamofobia, rasis dan menghina orang lain pada akun Twitter dan sejumlah akun Facebook, yang diketahui dikelola oleh para politikus anggota Partai Konservatif atau yang biasa disebut Tory ini.

Kumpulan komentar-komentar rasis yang dilontarkan para anggota Partai Konservatif itu juga diposting sebuah akun Twitter.

Salah satu komentar berbunyi ‘Depak semua muslim dari jabatan publik’ dan satu komentar lainnya menyerukan pemerintah untuk ‘mengenyahkan semua masjid’.

Beberapa akun medsos milik politikus Partai Konservatif diketahui menyerang rekan satu partainya, Sajid Vajid, yang seorang muslim dan kini menjabat Menteri Dalam Negeri Inggris. Komentar itu berbunyi mereka tidak boleh memilih Javid, karena suara untuknya sama saja suara agar ‘Islam memimpin negara ini’.

Seorang juru bicara Partai Konservatif yang enggan disebut namanya menyatakan bahwa akun-akun Facebook dan Twitter itu tidak terkait langsung dengan partai.

Ditegaskan oleh juru bicara itu bahwa anggota-anggota partai yang bersangkutan telah dinonaktifkan dan akan diselidiki lebih lanjut.

Menanggapi penonaktifan itu, Dewan Muslim Inggris menyebut ‘skala Islamofobia di semua level partai (Konservatif) sungguh menakjubkan’. Dewan Muslim Inggris juga menyerukan dilakukannya penyelidikan lebih lanjut.

Sebelumnya, seorang politikus senior Partai Konservatif, Sayeeda Warsi, menuduh partainya telah menjadi ‘Islamofobik secara institusional’. Komentar itu disampaikan Warsi usai anggota parlemen, Peter Lamb yang pernah melontarkan komentar Islamofobia, ditugaskan kembali di parlemen. (detikcom/bdn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *