PENTING! Ragam Cara Menolak Kantong Plastik Berbayar. Ini yang Paling Rasional!

  • Whatsapp

BOGORDAILY – Pemberlakuan kantong plastik berbayar sudah lama diberlakukan pemerintah. Setiap berbelanja di supermarket dan Anda lupa membawa keranjang sendiri, pasti akan diminta membayar Rp200,00 untuk membayar kantong plastik yang dulu digratiskan.

Ada yang mengiyakan saja, karena tak mau ambil pusing dan mengikuti kebijakan itu, banyak juga yang menolak dengan cara masing-masing. Di sosial media aksi itu bertebaran.

Satu yang paling rasional dan dikemukakan dalam akun facebook adalah Joko Prasetyo. Dalam akun facebooknya itu dia menyebut kebijakan itu zhalim. Seperti ini argumentasi dan pernyataannya soal plastik berbayar itu.

Dalam laman facebooknya ia menceritakan biasanya ia menunggu di motor saat mengantar istrinya belanja, namun kali itu, ia ikut masuk ke kassa dan menolak membayar kantong plastik.

jokoprasetyo
Ia juga mengajak orang orang untuk melawan kedzaliman pemerintah ini meski hanya menolak membayar kantong keresek.

Ayo Lawan Kedzaliman Penguasa Meski Hanya Dengan Menolak Bayar Kantong Keresek 200 Perak. Saya biasanya menunggu di motor, tapi barusan setelah menunggu satu menit, lalu menyusul istri masuk ke Indomart.

“Saya tidak mau bayar yang Rp 200 untuk kantong kereseknya Mbak!” ujar saya begitu membaca pengumuman di kassa sejak Ahad 21 Pebruari pembeli yang memakai kantok plastik dari Indomart diharuskan membayar Rp 200 untuk mengurangi sampah plastik.

“Itu sudah aturan dari pemerintahnya Pak…” ujar pelayan Indomart di kassa. “Justru itu, saya tidak mau… pemerintah dzalim!” tegas saya.

“Lihat,” ujar saya sembari menenteng sabun cair pencuci piring Sunlight yang saya sabet dari rak pajangan. “Plastiknya tebal, butuh waktu ratusan tahun bagi tanahuntuk mengurainya! Tapi mengapa kita malah harus bayar kantong keresek yang mudah diurai?,”

Pembeli yang di kassa melihat saya sambil senyum, pelayan Indomart yang laki-laki menghampiri dan mendampingi pelayan perempuan. Pelayanan lainnya sambil mengelap kaca memandang ke kassa.

Mendengar saya berbicara dengan nada tinggi (nada tinggi itu versi istri ya, versi saya itu biasa saja, hee.. he..) di kassa, istri langsung menghampiri. Saya lalu merebut minyak goreng yang berbungkus plastik tebal yang
dipegang istri, Sovia.

“Ini juga butuh ratusan tahun! Tapi kenapa kita yang malah disuruh mengurangi penggunaan kantong plastik! Bukannya perusahaan-perusahaan itu yang dilarang menggunakan kemasan plastik? Di kantong plastik Indomart kan ada tulisan go green, pertanda mudah diurai, mengapa penggunaannya harus dikurangi dengan harus membayar Rp 200 bila tetap ingin memakainya tetapi… lihat, itu… Coca Cola, botolnya dari plastik, butuh waktu ratusan tahun untuk diurai! ”

Lalu saya memegang mie instant Indomie yang disodorkan pembeli lain ke kassa yang hanya senyum- senyum saja melihat saya. “Ini juga plastik, butuh waktu yang jauh lebih lama untuk diurai daripada kantong keresek go green!”

“Tapi ini sudah aturannya ya Pak,” ujar pelayan laki-laki.

“Justru itu, Mas lapor ke atasan Mas, saya tidak mau bayar, bukan saya tidak mampu, tapi saya tidak mau menaati kebijakan pemerintah yang dzalim itu! Kalau tetap harus bayar 200 saya tidak jadi belanjanya. Biar Indomart lapor juga ke pemerintah, rakyat tidak mau didzalimi terus!” tegas saya.

“Kalau berbicara lingkungan,” lanjut saya, “Mengapa lima anak perusahaan Sinar Mas yang membakar hutan dibiarkan? Mengapa perusahaan-perusahaan minyak, minuman, sabun, dibiarkan menggunakan plastik tebal? Kenapa kita, rakyat ini, mau pakai plastik go green saja
harus bayar Rp 200? Apa karena mereka yang membiayai kampanye pemilunya? Pungkasnya. (bdn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *