Ada Persewaan Kamar Esek-esek di Gang Sandiwara Kemang Bogor

  • Whatsapp

BOGOR DAILY– “Mas ngamaar yuk,” celetuk seorang wanita mengenakan gaun hitam menerawang. Wangi parfum yang menyengat menarik hasrat untuk duduk merapat. Malam itu di sebuah warung pinggiran Jalan Raya Kemang, tak sedikit perempuan berbalut rok mini duduk sembari mengumbar kemolekan tubuhnya. Bersama para lelaki, mereka tampak menggoda dengan bibir merah merona. Hingga akhirnya beranjak menuju sebuah gang yang diam-diam menjajakan kontrakan asmara. Itulah Gang Sandiwara.

Sejak pukul 20:00 WIB, biasanya wanita berparas ayu sudah menunggu pria penikmat seks di bawah lampu temaram jalanan di Desa Kemang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Sementara di ujung Gang Sandiwara, tampak pintu besi setinggi satu meter setengah dengan panjang delapan meter terbuka. Sosok lelaki bertubuh tegap, lengkap dengan jaket kulitnya sudah berdiri di depan pagar. “Ayo mas masuk,” ajak wanita bergaun hitam itu sambil melempar senyum dan menarik lengan tamunya.

Read More

Siapa sangka, di balik rumah gedong itu berjajar kamar-kamar yang sengaja disewakan untuk memadu kasih terlarang. Kontrakan asmara itu tiap malamnya dijaga bodyguard. Sekilas seperti pabrik. Namun ketika masuk, terlihat kos-kosan dua lantai itu dipenuhi sekitar 80 kamar khusus untuk layanan jasa seks.

Setiap kamar hanya berukuran 2×2 meter, satu paket dengan kamar mandinya. Sebuah kasur busa, kipas angin kecil dan TV 17 inci menjadi fasilitas di dalamnya. “Sabar ya Mas, aku ke kamar mandi dulu. Sambil nunggu, lampunya matiin saja dulu,” ujar wanita bohay itu sambil melempar senyum genitnya.

Penelusuran Metropolitan, kontrakan asmara itu sudah ada sejak 1996. Sekitar 21 tahun, kawasan Gang Sandiwara itu jadi magnet para pendatang. Merunut sejarah, dulunya Gang Sandiwara tu sering jadi pusat hiburan. Pertunjukan layar tancap jadi primadona kala itu hingga menyedot perhatian banyak pendatang. Itulah asal muasal gang itu disebut Gang Sandiwara.

Namun belakangan, kawasan itu jadi berubah hingga santer dikenal jadi tempat hiburan malam. Berawal dari panti pijat hingga menjadi kontrakan asmara terlarang.

Salah seorang warga sekitar berinisial AS mengungkapkan, keberadaan warung remang-remang sudah ada sejak 1996-an. Meski sudah berulang kali ditertibkan, bisnis jasa layanan seks di tempat tersebut tetap marak hingga kini. Terbukti, keberadaan wanita nakal yang rata-rata dari luar daerah sudah ada sejak dulu membuat praktik prostitusi ini tumbuh subur. “Penyediaan akan pasokan rumah kontrakan, warung hingga makanan, dibutuhkan untuk eksistensi kegiatan warung remang-remang ini,” katanya.

Sejak 1970, nama Gang Sandiwara yang berada di Kampung Kemang, RT 04/09, Desa Kemang, Kecamatan Kemang, merupakan tempat hiburan rakyat yang banyak dikunjungi warga dari luar daerah. Seiring zaman, Gang Sandiwara akhirnya berubah menjadi tempat pijat yang banyak dikunjungi para lelaki hidung belang dari luar wilayah.

Banyaknya pengunjung yang datang ke Gang Sandiwara, dijadikan kesempatan oleh warga sekitar untuk mengais rezeki dari jasa penyewaan kamar dengan tarif Rp50 ribu per jam. Harga sewa kamar yang murah dengan pengamanan terjamin mebuat bisnis lendir tumbuh subur di Gang Sandiwara. Terbukti, setiap malamnya gang tersebut dijadikan mangkal para PSK dari luar Kecamatan Kemang untuk mengais rezeki.

Menanggapi hal itu, Entang mengatakan bahwa kebanyakan para pemilik kontrakannya bukan warga asli Kemang, melainkan pendatang. Begitu juga dengan Pekerja Seks Komersial (PSK)-nya.

“Memang dulunya itu jadi tempat hiburan rakyat. Sekitar 1970, banyak warga dari luar daerah yang ke sana (Gang Sandiwara, red),” ujar Kepala Desa Kemang Entang Suana.

Kedatangan mereka pun yakni malam hari dengan cara kucing-kucingan. Namun, pihak desa sudah melaporkannya kepada pihak Kecamatan Kemang, khususnya Satpol PP. “Kalau pihak desa hanya melaporkan, tetapi yang melakukan penindakan tentunya dari kecamatan,” ujar Entang.

Rencananya, ke depan pemerintah desa bakal membuat Peraturan Desa (Perdes) bagi para pengontrak yang ada di wilayah Kemang. Pengontrak diharuskan membuat surat domisili dengan melengkapi KTP. Dengan adanya surat domisili, meraka yang ngontrak bisa terdata dari mana saja. “Dari data para ketua RT dan RW, kontrakan yang ada di desa kemang ada sekitar 493 pintu,”tandasnya (metropolitan)

Loading...

Related posts