Bogordaily.net – Di tengah perkembangan zaman, sejumlah tradisi adat di berbagai daerah masih terus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Salah satunya adalah tradisi buang ayam di Jembatan Ngujang yang dilakukan pasangan pengantin saat prosesi pernikahan.
Tradisi ini menjadi bagian dari ritual simbolis yang dipercaya memiliki makna mendalam bagi kehidupan rumah tangga pasangan yang baru menikah.
Dalam pelaksanaannya, ayam dilepas sesuai arah asal mempelai sebagai bentuk pamit kepada orang tua sekaligus “permisi” kepada penjaga bumi agar perjalanan rumah tangga diberi kelancaran dan keberkahan.
Masyarakat setempat meyakini bahwa tradisi tersebut bukan sekadar seremoni biasa, melainkan doa dan harapan agar pasangan pengantin dapat menjalani kehidupan baru dengan harmonis dan penuh tanggung jawab.
Menurut juru kunci setempat, ayam dipilih karena dianggap sebagai hewan yang mampu hidup mandiri sejak lahir.
Filosofi tersebut kemudian diharapkan dapat menjadi gambaran bagi pasangan pengantin agar mampu hidup mandiri setelah membangun rumah tangga sendiri.
Selain itu, pelepasan ayam juga dimaknai sebagai simbol melepas masa lajang dan memulai kehidupan baru bersama pasangan.
Tradisi ini biasanya dilakukan sebelum atau sesudah prosesi inti pernikahan, tergantung kebiasaan keluarga masing-masing.
Meski saat ini tidak semua pasangan menjalankan ritual tersebut, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi buang ayam di Jembatan Ngujang karena diyakini membawa kebahagiaan dan kelancaran dalam kehidupan rumah tangga.
Bagi masyarakat sekitar, tradisi ini bukan hanya bagian dari budaya lokal, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang terus dijaga hingga sekarang.***
