Menjaga Lisan

  • Whatsapp
Ii Syafri

Assalamualaikum wr.wb! Ahwat Muslimin wal Muslimat pembaca yang dimuliakan Alloh. Segala Puji Milik Alloh, Salam Sholawat semoga selamanya tercurah atas junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan pengikutnya.

Pernah terjadi, kadang lidah Kita terpeleset salah ucap, hingga melukai hati atau perasaan orang lain, kerap lisan kita tidak dengan enteng mengucap sumpah atau janji. Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya, mulutnya begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang secara khusus belajar supaya memiliki kemampuan bicara yang bagus.

Read More

Lisan memang karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan Lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan terjerumus ke dalam jurang kesalahan. Karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan agar Kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berfirman yg artinya,
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” (al’Ahzab : 70)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. al-Imam al-Bukhari hadits no. 6089 dan al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Lisan (lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk berhenti. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya mengingatkan Kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6092)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (Sahih, HR. al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” (al-Adzkar hlm. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011)

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya. ” (al-Adzkar hlm. 284) Demikianlah ulasan singkat Tataros Teropong semoga bermanfaat buat yg menulis dan pembaca. Wabilahi taufik wal hidayah. Wassalam.

Loading...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *