Rizal Ramli : Pertumbuhan Ekonomi Direvisi, Ngibul Kok Keterlaluan

Menu

Mode Gelap
Presiden Jokowi Sapa Peserta Vaksinasi Merdeka di IPB Akibat Pohon Tumbang di Depok, Jalur KRL Bogor Masih Diperbaiki Breaking News, Pesawat Rimbun Air Hilang Kontak di Papua Lokasi Simling Kota Bogor, Rabu 15 September 2021 Cek Para Semifinalis Mojang Jajaka Kota Bogor Disini!

Ekonomi · 8 Jul 2021 09:07 WIB

Rizal Ramli : Pertumbuhan Ekonomi Direvisi, Ngibul Kok Keterlaluan


 Rizal Ramli. (istimewa/Bogordaily.net) Perbesar

Rizal Ramli. (istimewa/Bogordaily.net)

Bogordaily– Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merevisi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021 hanya 3,7 persen hingga 4,5 persen akibat penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali.

“Overall growth (pertumbuhan) tahun 2021 ada di antara 3,7 hingga 4,5 karena pada kuartal I kita tumbuhnya minus 0,7 persen,” kata Menkeu Sri Mulyani dalam webinar Bisnis Indonesia Mid Year Economic Outlook, Rabu.

Pertumbuhan ekonomi tersebut, lanjut Sri Mulyani, dipengaruhi oleh skenario penerapan PPKM Darurat. Jika menggunakan skenario moderat dengan penyebaran kasus COVID-19 terus memuncak hingga minggu ke-2 Juli, diikuti dengan relaksasi PPKM pada minggu ke-1 Agustus, dan pemulihan aktivitas ekonomi kembali terjadi secara gradual mulai pertengahan Agustus 2021 maka proyeksi pertumbuhan tahunan 2021 menjadi 4,5 persen.

Melalui skenario moderat ini, proyeksi pertumbuhan pada kuartal III sebesar 5,4 persen dan naik menjadi 5,9 pada kuartal IV.

“Maka kita berharap pertumbuhan di kuartal III masih bisa bertahan di atas 5 persen dan kemudian menguat kembali pada kuartal IV,” ujar Menkeu Sri Mulyani.

Baca Juga  Kisah Hidup yang Inspiratif

Namun jika penerapan PPKM Darurat menggunakan skenario berat dengan penurunan mobilitas masyarakat hingga 50 persen, penyebaran COVID-19 terus memuncak hingga minggu ke-2 Juli dengan level penambahan kasus harian yang lebih tinggi, diikuti relaksasi PPKM pada minggu ke-3 Agustus, dan pemilihan aktivitas ekonomi kembali terjadi secara gradual mulai September 2021, maka proyeksi pertumbuhan tahunan 2021 menjadi 3,7 persen.

“Jika lamanya bisa sampai dengan bulan Agustus dan normalisasi baru terjadi September, kita bisa turun pada pertumbuhan sekitar 4 sampai 4,6 di kuartal III dan kuartal IV,” jelas Sri Mulyani.

Kendati demikian Menkeu masih optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal II di atas 7 persen karena pemberlakuan PPKM Darurat baru terjadi pada awal Juli.

“Kita sepertinya optimis bisa di atas 7 persen dan kita berharap pada minggu ke-3 dan ke-4 Juni tidak sangat mempengaruhi sehingga mungkin masih di atas 7 persen,” ujarnya.

Baca Juga  Gerakan Natural-Organik: Gerakan Moral Dihancurkan Kekerasan.

Adapun sebelum penerapan PPKM Darurat Jawa-Bali dan meningkatnya kasus COVID-19 akibat varian Delta, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 persen-5,3 persen.

Menanggapi hal tersebut, Rizal Ramli sudah Memperingatkan

Sebelumnya, pada awal tahun ini, ekonom senior sudah mengingatkan laju ekonomi Indonesia di tahun 2021 masih akan melambat. Pemerintah diminta tidak terlalu mengobral angin surga.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menekankan bahwa sejak tahun 2018 hingga 2019 ekonomi Indonesia sudah konsisten melambat. semua indikator makro ekonomi, misalnya neraca perdagangan, transaksi berjalan, ‘primary balance‘ anggaran merosot bertahap.

“Ekonomi melambat. Tidak tumbuh lebih dari 5,1 persen,” bebernya,

Sejak awal pandemi, pemerintah sudah salah langkah. Covid-19 dianggap seolah flu biasa yang bisa hilang dengan sendirinya. Alih-alih melakukan lockdown, pemerintah justru memberi insentif untuk pariwisata, khususnya wisatawan asing.

Padahal di saat yang sama bandara-bandara negara lain, seperti Jepang dan Singapura, menutup diri dari wisatawan. “Tapi kita sok jago, malah kita kasih insentif untuk turis asing, termasuk China, untuk masuk Indonesia,” katanya.

Baca Juga  Rizal Ramli Sarankan Ini ke Pemerintah

Parahnya lagi, pemerintah justru memberi anggaran miliaran kepada influencer untuk menarik wisatawan. Mereka seperti diminta menutupi permasalahan Covid-19 di dalam negeri.

Singkatnya, kesalahan di awal pandemi membuat Indonesia kehilangan waktu berharga selama tiga bulan. Padahal waktu itu bisa dimanfaatkan untuk mengambil langkah-langkah strategis mengurangi risiko krisis ekonomi dan kesehatan.

Buntutnya, saat pandemi melanda ekonomi mengalami masalah yang kompleks dan daya beli hancur. Parahnya lagi, banyak pekerja yang mengalami PHK dan uang yang beredar di masyarakat berkurang.

“Nah ada dua versi, versi angin surga oleh Menteri Keuangan terbalik (Sri Mulyani) bahwa tahun 2021 ini akan bakal tinggi 5,5 persen. Aduh ampun deh, sebelum Covid-19 saja belum pernah 5,5 persen, cuma 5,1 persen,” kata mantan Menko Kemaritiman itu.

“Ini kok tahun 2021 Covid-19 masih banyak, sudah ngaku klaim 5,5 persen. Sebaiknya kalau ngibul itu jangan keterlaluan,” tegasnya.(*)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Demi Gerakkan Ekonomi Warga, Ribuan Paket Bantuan Disalurkan

22 September 2021 - 23:29 WIB

Tangkal Hoaks, AMSI Jabar Gelar Pelatihan Literasi Berita

22 September 2021 - 21:20 WIB

AMSI

Erick Ubah Strategi Antara Sucofindo dan Surveyor

22 September 2021 - 20:20 WIB

Erick

Kredit Hanya Dirasakan 20 persen Pelaku UMKM, Ini yang Dilakukan Elly Rachmat Yasin

22 September 2021 - 15:38 WIB

Elly Rachmat Yasin

Kolaborasi Indonesia dan Korea Mendukung Future SMEs

22 September 2021 - 15:08 WIB

SMEs

Shoppe dan Tokopedia Terus Bersaing Berebut Dominasi

22 September 2021 - 12:05 WIB

Trending di Ekonomi