99 Persen Kasus Arbitrase Negara Berkembang Selalu Dikalahkan

Menu

Mode Gelap
Breaking News, Pesawat Rimbun Air Hilang Kontak di Papua Lokasi Simling Kota Bogor, Rabu 15 September 2021 Cek Para Semifinalis Mojang Jajaka Kota Bogor Disini! Menu Baru Djoeragan Resto, Spicy Chicken Mozzarella with Salad Ponpes di Rumpin Ludes Terbakar, Hubungan Arus Pendek Diduga Jadi Penyebabnya

Ekonomi · 14 Sep 2021 13:34 WIB

99 Persen Kasus Arbitrase Negara Berkembang Selalu Dikalahkan


 Garuda Indonesia | Foto: Dok KedaiPena.Com Perbesar

Garuda Indonesia | Foto: Dok KedaiPena.Com

Bogordaily.net – Arbitrase Internasional bukanlah cara untuk memenangkan kasus bisnis internasional. Pandangan ini mengemuka pasca kekalahan PT Garuda Indonesia (GI) dalam kasus gugatan pembayaran uang sewa pesawat di Pengadilan Arbitrase Internasional London (LCIA).

Saat pertemuan dengan begawan ekonomi Rizal Ramli di Jakarta pada 2007, pemenang Nobel, Prof Joseph Stiglitz menjelaskan bahwa 99 persen kasus arbitase negara berkembang selalu dikalahkan.

Stiglitz kemudian menyarankan agar arbitrase internasional jangan dimasukkan ke pasal UU Investasi RI.

“Itulah mengapa ketika Garuda dituntut bangkrut karena gagal bayar utang 1,8 miliar dolar AS tahun 2000/2001, pesawat Garuda diancam disita kreditor-kreditor Eropa, RR selamatkan Garuda bukan dengan arbitrase. Tapi menggunakan cara-cara out the box,” ucap Menko Ekuin di era Presiden Gus Dur tersebut, ditulis Senin 13 September 2021.

Beberapa bulan lalu, RR sendiri sempat menyatakan siap membantu menyelamatkan perusahaan pelat merah itu dari krisis keuangan akut.

Hal ini disambut dan didukung netizen yang kemudian mendesak DPR dan Pemerintah melibatkan RR untuk menyelamatkan Garuda yang sudah berada di bibir jurang kebangkrutan.

Sementara itu, mantan Komisaris GI, Peter F Gontha, merasa sedih atas kekalahan ini. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Minggu 12 September 2021, Peter menyebut salah satu penyebab rusaknya tatanan Garuda.

“Karena adanya kelompok-kelompok di dalam Perusahaan Garuda (Bukan BUMN) yang terlalu berkuasa dan terus menerus menyandera perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Sekarang dengan rencana pengurangan pesawat maka mereka yang menjadi korbannya sendiri. Tidak mempunyai pekerjaan dan akan kehilangan segalanya. Itulah kalau beberapa orang mempengaruhi koleganya,” tulis Peter.

“Semoga Garuda tetap terbang meski dalam jumlah armada yang jauh lebih sedikit. Kita lihat perkembangannya yang mana yang akan jalan terus dan mana yang angkat bendera putih. Semoga yang masih punya hati tidak ikut-ikutan,” sambungnya.***

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

KemenkopUKM Gelar Pelatihan Vocational Ekspor Impor Produk UKM di Kuningan Jabar

18 September 2021 - 18:36 WIB

MenKopUKM Tegaskan Kelembagaan Ekonomi Petani Perlu Dibenahi untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan

18 September 2021 - 17:05 WIB

Digitalisasi UMKM Indonesia Timur Episode Kota Jayapura, Bangkitkan Ekonomi Lokal

18 September 2021 - 10:28 WIB

Ekonomi Lokal

Minggu Ketiga September, Harga Daging Ayam dan Sayur Sumbang Inflasi

17 September 2021 - 17:52 WIB

Harga

MenKopUKM Lepas Ekspor Biji Kopi Hasil Koperasi Ke Arab Saudi

17 September 2021 - 17:04 WIB

MenKopUKM

MenKopUKM Dorong Kepatuhan Wajib Pajak UMKM

16 September 2021 - 18:16 WIB

Wajib Pajak UMKM
Trending di Ekonomi