Dedie Rachim Lihat Potensi Tanaman Hias di Minaqu Indonesia

Menu

Mode Gelap
Muhammad Ameer Azzikra, Putra Ustaz Arifin Ilham, Meninggal Dunia Buset, Mercy Bodong dengan Sopir Tak Ber-SIM Lawan Arah Tol Tabrak 3 Mobil Usai Lantik Pengurus Baru, AMSI Gelar Seminar Media Siber Sehat Ade Yasin Klaim Vaksinasi Kabupaten Bogor Sudah Lampaui Target Polisi Selidiki Video Mesum Durasi 35 Detik Diduga Dua Pelajar

Kota Bogor ยท 20 Okt 2021 19:37 WIB

Dedie Rachim Dampingi Menteri Teten Lihat Potensi Tanaman Hias di Minaqu Indonesia


 Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim bersama Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki ke Green House milik Minaqu Indonesia yang berlokasi di kawasan perumahan BNR, Bogor, Selasa 19 Oktober 2021.(Istimewa/Bogordaily.net) Perbesar

Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim bersama Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki ke Green House milik Minaqu Indonesia yang berlokasi di kawasan perumahan BNR, Bogor, Selasa 19 Oktober 2021.(Istimewa/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim mendampingi Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki ke Green House milik Minaqu Indonesia yang berlokasi di kawasan perumahan BNR, Bogor, Selasa 19 Oktober 2021.

Melihat potensi tanaman hias yang ada di Bogor, Teten melalui Kemenkop dan UKM mendukung penuh Minaqu sebagai salah satu opsi untuk pemulihan ekonomi di masa pandemi sekarang ini.

Teten juga mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan Minaqu Indonesia sebagai offtaker produk tanaman hias. Dimana mereka telah menggandeng kurang lebih 1.000 petani di Jawa Barat dan telah bermitra dengan empat koperasi.

“Tanaman hias memiliki potensi besar dikembangkan di Indonesia. Pasalnya, global market value (potensi pasar) tanaman hias mencapai nilai Rp 3.000 Triliun, lebih tinggi dibandingkan kopi dan teh. Namun, Indonesia baru memenuhi ceruk pasar dunia sebesar 0,01 persen,” jelas Teten.

Sambung Teten, para petani harus dikonsolidasi. Jangan sampai, mereka hanya menggarap di lahan yang sempit. Maka lebih baik terkonsolidasi melalui koperasi.

“Kalau sudah ada koperasi, para petani dapat fokus untuk berproduksi di lahan yang juga dikonsolidasikan menjadi skala ekonomi,” kata Teten.

Menurut Teten, yang berperan menjadi offtaker pertama adalah koperasi yang berperan sebagai agregator. Dimana kemudian mereka melakukan pengolahan hasil panen, yang berhadapan dengan pembeli sehingga harga tidak dipermainkan buyer.

“Koperasi sebagai badan usaha yang berbadan hukum juga dapat melakukan kerja sama dengan berbagai pihak. Mulai dari akses terhadap sumber-sumber pembiayaan dan kerja sama dengan Perguruan Tinggi untuk teknologi tepat guna, sampai pada hilirisasi produk (pemasaran) baik secara offline dan online,” papar Teten.

Bagi Teten, apa yang dilakukan Minaqu telah mencerminkan terjadinya proses inclusive close loop, dimana telah tercipta sebuah ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.***

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Lokasi dan Jadwal SIM Keliling Kota Bogor, Senin 29 November 2021

29 November 2021 - 07:10 WIB

jangan terlewat

Prakiraan Cuaca Bogor 29 September 2021 : Hujan Petir Di Sore Hari

29 November 2021 - 06:54 WIB

Angin kencang

Bersama Kapolresta, Dandim 0606/Kota Bogor Gelar Razia Kawasan Wajib Vaksin

28 November 2021 - 16:12 WIB

Kawasan Wajib Vaksin

Sambil Diajak Mancing, Dedie Lantik Pengurus JMI Bogor Raya

28 November 2021 - 14:00 WIB

JMI

Wisuda Perdana PKS Muda Academy, Atang: Ambil Estafet Kepemimpinan

28 November 2021 - 07:13 WIB

PKS Muda Academy

Gerak Jalan HUT KORPRI ke-50, Bima Arya : Singkirkan Ego Tupoksi

28 November 2021 - 07:00 WIB

Gerak jalan
Trending di Kota Bogor

Sorry. No data so far.