KemenKopUKM Dorong Pembentukan Ekosistem Kondusif Koperasi

Menu

Mode Gelap
Pacu Adrenalin, Wisata Air Curug Kiara Cocok Jadi Pilihan Yuk Rajin Periksakan Gigi ke RSUD Kota Bogor! Punya Modal Arsitek dan Kepala Daerah, Ridwan Kamil Digadang Jadi Kepala IKN Kota Bogor Terus Lanjutkan Vaksinasi Booster Kasus Harian Covid-19 Tembus 3 Ribu, Komisi IX Ingatkan Pemerintah Hal Ini

Ekonomi · 26 Nov 2021 19:50 WIB

KemenKopUKM Dorong Pembentukan Ekosistem Kondusif Koperasi dan UKM


 Deputi Bidang UKM kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman. (Istimewa/Bogordaily.net) Perbesar

Deputi Bidang UKM kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman. (Istimewa/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) terus mendorong pelaku UKM agar masuk pasar ekspor.

Salah satunya dengan cara membentuk ekosistem kondusif bagi pelaku koperasi dan UKM, melalui kebijakan UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

Berdasarkan data BPS pada tahun 2021, Ekspor nasional meningkat, pada triwulan III 2021 pertumbuhan mencapai 22,71% (q to q), dengan negara tujuan utama China, Amerika, dan Jepang.

Deputi Bidang UKM kementerian Koperasi dan UKM Hanung Harimba Rachman menyampaikan, kenaikan kinerja ekspor ini salah satunya disebabkan oleh peningkatan ekspor non migas sebesar 6,75%.

Dengan produk-produk utama seperti lemak dan minyak hewani/nabati, besi dan baja, alas kaki, ampas dan sisa industri makanan serta berbagai produk kimia.

“UMKM merupakan salah satu sektor yang turut serta berkontribusi mendorong peningkatan kinerja ekspor Indonesia. Untuk mendukung dan memfasilitasi UMKM, Pemerintah telah memberikan afirmasi kebijakan melalui UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan PP Nomor 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM,” ungkap Hanung Harimba Rachman Saat memberikan keterangan pers secara daring, Jumat 26 November 2021.

Hanung menjelaskan, Peraturan tersebut juga memberikan Insentif Kepabeanan bagi UMK berorientasi ekspor, memberikan kemudahan impor bahan baku dan bahan penolong industri.

Pelaku UKM juga didorong untuk memanfaatkan peluang kemitraan dengan usaha besar sehingga tercipta rantai pasok yang kuat.

“Akses pembiayaan juga dimudahkan, koperasi dan UKM yang berorientasi ekspor dapat mengajukan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat Berorientasi Ekspor (KURBE) yang disalurkan oleh LPEI/Eximbank dengan plafon pinjaman sebesar Rp50 miliar dengan suku bunga ringan. Selain itu, tahun ini kami juga memberikan standarisasi internasional kepada 185 UKM, yang terdiri dari sertifikasi ISO, HACCP, SNI, FSSC/BRC, Organic, dan SVLK,” katanya.

Hanung menambahkan, Dalam kegiatan perluasan promosi dan akses pasar UKM, KemenKopUKM melalui Deputi Bidang UKM, pada Tahun 2021 berpastisipasi dalam pameran internasional yaitu, Specialty Coffee Expo (SCE) tahun 2021 yang dilaksanakan di New Orleans.

Dalam ajang tersebut tercatat potensial order yang diperoleh UKM senilai Rp105,4 miliar dengan volume lebih dari 922 ton, Dubai Expo 2020 yang menampilkan lebih dari 300 produk UMKM siap ekspor dari seluruh dunia.

Tercatat potensial order selama event berlangsung senilai Rp21,6 miliar, dan Ultimate Women’s Expo yang dilaksanakan di Atlanta, Expo terbesar di Amerika Serikat.

Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM berkolaborasi dengan GIZ mengembangkan platform SMEsta (Small Medium Enterprise station) yang terhubung dengan ASEAN Access, sebagai e-katalog produk UMKM serta menjadi layanan informasi untuk UKM Indonesia di pasar ASEAN.

Kementerian Koperasi dan UKM juga melakukan inisiasi untuk pembentukan SATGAS Percepatan Ekspor bagi UKM, dengan berkolaborasi dengan Kementerian/Lembaga, untuk memberikan solusi permasalahan ekspor dan upaya percepatan ekspor produk UKM Indonesia ke pasar global.

“Beberapa contoh pelepasan ekspor UKM di tahun ini antara lain PT Galasari Gunung Sejahtera asal Gresik mengekspor buah mangga dengan brand Mangga Sultan ke Singapura sebanyak 1 ton, PT Daya Gagas Indonesia yang merupakan perusahaan startup fishOn telah mengekspor produk tuna sashimi dan katsuobushi skipjack sebanyak 15 ton ke Malaysia dan Jepang, dan CV. Coconut Internasional Indonesia mengekspor tiga kontainer briket tempurung kelapa ke Arab Saudi dan Jordania dengan nilai US$ 35.000 per kontainer. Ekspor briket merupakan salah satu potensi ekspor UMKM karena pasarnya ada di seluruh dunia,” tambahnnya.

Sebagai informasi, Pemerintah, BUMN, Asosiasi dan seluruh stakeholder terus membentuk ekosistem yang kondusif bagi Koperasi dan UKM, sehingga Koperasi dan UKM semakin eksis, maju dan berdaya saing.***

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Siap Dukung Pembiayaan, Menteri Teten Minta Lumajang Angkat Produk Unggulan

23 Januari 2022 - 20:06 WIB

Buka Rekening BSI secara Online? Cek Persyaratannya Yuk!

23 Januari 2022 - 08:55 WIB

Buka Rekening BSI

Integrasi Teknologi Kurangi Tenaga Kerja, Menkominfo Dorong Tingkatkan Keterampilan Digital

22 Januari 2022 - 19:08 WIB

KemenKopUKM Akan Intervensi Kawasan Hunian Baru Korban Erupsi Semeru Menjadi Desa Modern

22 Januari 2022 - 17:43 WIB

hunian

Minyak 14 Ribu: Pembeli Bahagia, Pedagang di Pasar Tradisional Menjerit

22 Januari 2022 - 16:48 WIB

Antusiasme Masyarakat Tinggi, KPR BRI Virtual Expo Sukses Catatkan 4.000 Pengajuan

22 Januari 2022 - 15:39 WIB

Trending di Ekonomi