Survei Membuktikan 2 dari 5 Karyawan di Indonesia Alami Stres

Menu

Mode Gelap
Muhammad Ameer Azzikra, Putra Ustaz Arifin Ilham, Meninggal Dunia Buset, Mercy Bodong dengan Sopir Tak Ber-SIM Lawan Arah Tol Tabrak 3 Mobil Usai Lantik Pengurus Baru, AMSI Gelar Seminar Media Siber Sehat Ade Yasin Klaim Vaksinasi Kabupaten Bogor Sudah Lampaui Target Polisi Selidiki Video Mesum Durasi 35 Detik Diduga Dua Pelajar

Kesehatan ยท 25 Nov 2021 12:46 WIB

Survei Membuktikan 2 dari 5 Karyawan di Indonesia Alami Stres


 Foto: Shutterstock
Perbesar

Foto: Shutterstock

Bogordaily.net – Tingkat stres karyawan di Indonesia meningkat selama pandemi Covid-19. Meski begitu, secara global, angka stres di Indonesia masih lebih rendah dibanding negara lain di Asia dan dunia.

Survei Mercer Marsh Benefit (MMB) menemukan, 2 dari 5 karyawan di Indonesia alami stres akibat pekerjaan selama pandemi.

“Ada 2 dari 5 karyawan atau 37 persen mengalami stres. Ini meningkat dibandingkan sebekumnya, meskipun masih lebih kecil dibandingkan Asia dan global.”

“Mungkin ini menunjukkan kalau mental orang di Indonesia lebih kuat,” kata Senior vice president MMB Wulan Gallacher dalam konferensi pers Pemaparan hasil survei Health on Demand Indonesia 2021, Kamis 25 November 2021.

Wulan menambahkan, rata-rata tingkat stres karyawan di Asia mencapai 51 persen, berbeda sedikit dari tingkat dunia yang angkanya 50 persen.

Gangguan finansial akibat pekerjaan yang terganggu selama pandemi Covid-19 dianggap menjadi pemicu utama kaeyawan Indonesia mengalami stres.

Di sisi lain, terkait akses terhadap kesehatan mental bagi karyawan di Indonesia juga belum merata.

Hasil survei menemukan, baru 56 persen karyawan yang memiliki akses ke tunjangan kesehatan mental di tempat kerja.

“Hal itu membuat mereka lebih kecil kemungkinannya untuk meninggalkan perusahaan, jika dibandingkan dengan sebanyak 39 persen yang tidak memiliki akses,” katanya.

Selama terjadi pandemi, sebagian karyawan juga merasa kurang diperhatikan kesehatannya oleh perusahaan. Kesejahteraan kesehatan, baik secara materi maupun bukan, baru terasa saat karyawan benar-benar sudah sakit.

Wulan mengatakan, fenomena tersebut rata terjadi di banyak negara.

“Banyak karyawan di seluruh dunia merasa kurang diperhatikan dan secara keseluruhan di Indonesia 61 persen karyawan di Indonesia merasa di diperhatikan (perusahaan). Angka itu bisa dibilang turun dibandingkan 2019 yang hasilnya 68 persen,” kata Wulan.

Meski turun, Wulan mengatakan, angka tersebut masih lebih besar dibandingkan dengan tibgkat global maupun Asia. Di mana secara global hanya 46 persen karyawan yang merasa diperhatikan oleh kantornya dan di Asia sebanyak 48 persen.

Survei tersebut dilakukan secara global di 13 negara, baik berkembang maupun negara maju. Jumlah responden mencapai 14 ribu karyawan di dunia.

Sebanyak 1.007 responden di antaranya karyawan di Indonesia yang berusia 18 sampai 64 tahun dengan tingkat pendidikan dari SMA sampai dengan S3.***

 

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Antisipasi Varian Omicron, Warga 8 Negara Ini Dilarang Masuk Indonesia

29 November 2021 - 11:39 WIB

Cek Jadwal Praktik Poliklinik Urologi RSOP Ciamis

28 November 2021 - 15:35 WIB

urologi

Ini Alasan Orang Tua Sering Kehilangan Nafsu Makan

28 November 2021 - 11:26 WIB

nafsu makan

Kapolri dan Bupati Ade Yasin Tinjau Vaksinasi Serentak Indonesia

27 November 2021 - 16:02 WIB

Kapolri dan Bupati Ade Yasin Tinjau Vaksinasi Serentak Indonesia

Percepat Vaksinasi, Polresta Bogor Kota Gelar Vaksinasi di Puskesmas Kedung Badak

27 November 2021 - 15:35 WIB

Percepatan Vaksinasi, Polresta Bogor Kota Lakukan Vaksinasi Serentak Indonesia di Puskesmas Kedung Badak

Muncul Varian Baru, Negara di Dunia Ramai-ramai Melarang Warganya ke Afrika

27 November 2021 - 14:45 WIB

Trending di Kesehatan

Sorry. No data so far.