Kisah Ibu Kota Negara Tetangga, Pemerintah Belajar Dari Myanmar

Menu

Mode Gelap
Tok! Lin Che Wei Resmi Jadi Tersangka Kasus Mafia Minyak Goreng Jangan Telat, Yuk Daftar Gelombang 3 TA 2022/2023 Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor! Presiden Jokowi Beri Bantuan untuk Warga dan PKL di Pasar Cibinong Asyik! Mulai Hari Ini, Jokowi Izinkan Buka Masker di Ruang Terbuka Diduga Nikah Sirih, Viral Tersebar Buku Nikah Al Ghazali dan Pacar

TERKINI · 22 Jan 2022 12:24 WIB

Kisah Ibu Kota Negara Tetangga, Pemerintah Belajar Dari Myanmar


 Pemerintah Akan Mendirikan Ibu Kota Negara.  (republika/Bogordaily.net) Perbesar

Pemerintah Akan Mendirikan Ibu Kota Negara. (republika/Bogordaily.net)

Bogordaily.net–  Rencana pemerintah memindahkan ibu kota negara (IKN) memang sudah final. Bahkan nama Nusantara menjadi pilihan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk kota pengganti Jakarta tersebut.

Pemindahan IKN merupakan hal wajar, di mana sejumlah negara pernah melaluinya. Inggris pernah memindahkan ibu kota dari Winchester ke London tahun 1066.

Amerika Serikat (AS) memindahkan Ibu kota dari New York ke Washington DC tahun 1800-san. Hal sama juga dilakukan tetangga RI, Australia, saat memindahkan ibu kota Melbourne ke Canberra tahun 1927.

Namun ternyata ada pula sejumlah negara yang dianggap gagal. Salah satunya tetangga RI di ASEAN, Myanmar. Berikut rangkuman yang dilansir dati detikcom.

Myanmar awalnya memindahkan ibu kota negara dari Yangon ke Naypyitaw November 2005. Pemindahan dilakukan saat junta militer dikuasai Jenderal Than Shew.

Proyek urbanisasi dimulai pada tahun 2001. Alasannya Yangon macet dan sangat padat.

Namun laporan Nikkei Asia menduga pemindahan juga memiliki alasan lain. Mulai dari mewaspadai gerakan pro-demokrasi hingga bentuk strategi militer setempat.

Naypyitaw  yang artinya “Istana Kerajaan” berada di Desa Kyatpyae, Kota Pyinmana, Provinsi Mandalay. Letaknya 372,8 kilometer dari Yangon.

Namun sayang kota berukuran empat setengah kota London itu, sekitar 7.054 km, kerap dijuluki “kota hantu”. Padahal, pemindahan menelan biaya hingga US$ 4 miliar.

Dana dipakai untuk membangun jalan raya megah, pembangkit, lapangan golf, hotel, pusat perbelanjaan, resto dan cafe. Namun, mengutip Business Insider dari The Guardian, kota itu minim penduduk, hanya dihuni 924 ribu jiwa saja, dari pencatatan tahun 2017.

“Jalan raya yang luas benar-benar kosong dan ada keheningan di udara. Tidak ada yang bergerak,” tulis The Guardian seraya menyebut bahkan wifi gratis dan cepat, yang jarang di negara itu, tak sanggup menarik lebih banyak orang ke sana.

“Pada hari Minggu sore yang cerah, jalanan sepi, restoran dan lobi hotel kosong. Sepertinya gambaran menakutkan dari pinggiran kota Amerika pasca-kiamat; seperti film David Lynch di lokasi di Korea Utara,” jelas media itu lagi.

Dalam laporan media lainnya, pejabat mengaku tak memilih tinggal di Naypyidaw karena kurangnya fasilitas komersial dan pendidikan. Sebelum dijatuhkan junta militer Februari 2021, Aung San Suu Kyi sampan membuat kebijakan yang mendorong kedutaan negara sahabat menempati kantor di Naypyidaw. ***

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Pemerintah Kecamatan Parung Panjang Bogor Perbaiki Jalan Berlubang

17 Mei 2022 - 16:20 WIB

Komisi I Ingatkan Pemkot Bogor Segera Terbitkan 103 Perwali

17 Mei 2022 - 15:16 WIB

Hari Hipertensi Sedunia, Puskesmas Leuwisadeng Bogor Cek Kesehatan Gratis

17 Mei 2022 - 14:52 WIB

Jokowi ke Pasar Gunung Batu Bogor, Arus Lalu Lintas Macet

17 Mei 2022 - 14:30 WIB

Heboh, Pasar Gunung Batu Bogor Dijaga Tentara Bersenjata Laras Panjang

17 Mei 2022 - 13:56 WIB

Emak-emak Menyemut Tunggu Jokowi di Pasar Cibinong Bogor

17 Mei 2022 - 13:45 WIB

Trending di Kabupaten Bogor