Kasus Gopal, Keluarga Menjadi Benteng Pemahaman Seks Sejak Dini

Menu

Mode Gelap
Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Dicopot! Update Korban Tragedi Kanjuruhan: 174 Orang Meninggal Dunia Terbaru! Ini Lokasi Sim Keliling Kota Bogor, Jumat 30 Sepember 2022 Lagi! Kota Bogor Hujan Hari Ini, Jumat 30 September 2022 Melonjak Rp 10 ribu Per Gram, Cek Harga Emas Antam Hari Ini

Kabupaten Bogor · 15 Feb 2022 00:21 WIB

Belajar Dari Kasus Gopal, Keluarga Menjadi Benteng Utama Pemahaman Seks Sejak Dini


 Gopal Junior, Dijerat Selama 6 Tahun Masa Kurungan.(Kumparan/Bogordaily.net) Perbesar

Gopal Junior, Dijerat Selama 6 Tahun Masa Kurungan.(Kumparan/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Muhammad Gopal Junior, pelatih futsal yang sosok nya menarik perhtian publik lantaran kasus yang ia buat. Pelecehan seksual, ia torehkan kepada anak didiknya di Klub Sepakbola, Kabupaten Bogor.

Gopal, sapaan akrabnya ternyata menurut  pernyataan Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin, fakta bahwa  Gopal sebenarnya juga merupakan korban pencabulan. Hal itu terungkap dari pemeriksaan yang dilakukan kepada Gopal.

Atas rasa dendamnya, Gopal melampiaskan hal tersebut kepada beberapa anak didiknya. Melalui pesan singkat di whatsaap, Gopal mengajak korab nya untuk melakukan hal yang tidak terpuji. Mulai dari memfoto alat kelaminnya, hingga minta dihisap, serta menyebut ukuran kelamin anak didiknya.

Saat melakukan aksinya, modus Gopal yakni  mengiming-imingi korban dengan beragam kemudahan. Salah satunya, lebih mudah menjadi pemain inti dari tim futsal sekolahnya. Ada kepuasan tersendiri yang dirasa Gopal, ketika ia sudah melakukan obrolan di whatsapp dengan para korban.

Menanggapi hal tersebut, Psikolog Anak Ayuna Eprilisanti,M.Psi, mengatakan bahwa jika benar Gopal melakukan hal tersebut karena ingin membalas dendam dari masa lalunya, hal tersebut harus dibuktikan dengan melakukan beberapa tes.

“Untuk memastikan apakah tindakan pelaku murni karena balas dendam atau ada motif lain, harus ada penyelidikan lebih lanjut dan dilakukan asesmen psikologis terhadap pelaku,” ujarnya.

Melihat dari sisi korban, banyak korban yang malu mengungkapkan hal yang menimpa diri mereka. Kebanyakan dari mereka, beranggapan bahwa ini adalah aib. Namun, pihak Kapolres Bogor meminta agar korban tidak malu mengungkapan pelecehan yang menimpa mereka.

“Korban diharap segera melapor, jangan malu untuk mengungkap tindak pelechan sesksual karena ini bukan aib,” ucap AKBP Imam Imanuddin.

Kasus pelecehan seksual serta pornografi yang dilakukan via whatsapp oleh seorang pelatih futsal, Muhammad Nopri alias Gopal Junior kepada beberapa anak didiknya, menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Terutama pihak keluarga, Psikolog anak Ayuna Eprilisanti menjelaskan bahwa, tindak asusila yang sering terjadi pada anak, karena kurangnya pemahaman anak terhadap perilaku orang dewasa yang tidak pantas terhadap dirinya.

“Budaya kita yang menganggap tabu untuk mendiskusikan pendidikan seks, sehingga anak banyak mencari sendiri informasi dari tempat yang kurang tepat,”

Disamping itu, sikap anak yang cenderung takut dan malu untuk melaporkan hal yang terjadi pada dirinya kepada orang tuanya.

“Kembali lagi, dalam kebudayaan kita, anak lebih banyak “diajarkan” untuk bersikap submisif sehingga anak tidak terbiasa untuk bersikap asertif. (Asertif adalah kemampuan dalam mengutarakan pendapat, pikiran dan perasaannya secara jujur, namun tidak menyinggung perasaan lawan bicaranya),” ujar Ayuna saat diwawancara oleh wartawan bogordaily.net.

Kekerasan atau pelecehan seksual kerap mengancap anak dibawah umur. Guna mencegah agar hal tersebut tidak terulang kembali, menurut Ayuna ada beberapa hal yang wajib dibentengi oleh pihak keluarga terhadap anak mereka.

Bentengi anak dengan Pendidikan agama yang benar dan berkesinambungan. Disamping itu ajarkan anak sedari balita tentang bagian tubuhnya.

“Pehaman agama harus kuat, serta para orang tua juga jangan segan untuk menginformasikan bagian tubuh mana saja yang boleh disentuh atau dilihat oleh orang lain. Siapa saja yang boleh anak cium, yang boleh anak dekat secara fisik, siapa saja yang hanya boleh bersalaman saja. Jika diajarkan dari kecil, anak akan risih dan akan berusaha menjauhi jika suatu saat ada seseorang yang melakukan tindakan amoral tersebut,” jelasnya.

Selain itu, sebagai orang terdekeat korban yakni keluarga, harus mampu menstabilkan rasa trauma yang timbul akibat derita yang menimpa korban.

Mengatasi rasa trauma, bisa dilakukan dengan memastikan lingkungan tempat tinggal mendukung dan kondusif untuk menyebuhkan trauma korban asusila. Dan yang utama adalah, dukungan dari anggota keluarga.

“Pihak keluarga mendukung dan membantu melupakan trauma tersebut, tidak menyalahkan korban, dalam hal ini anak yang mengalami korban pelecehan. Berikan kepercayaan diri pada anak dengan memberikan pikiran-pikiran positif,” ujar Psikolog Anak Ayuna.

Ayuna juga menambahkan, jika rasa trauma yang diderita korba asusila sangat besar, korban bisa dibantu dengan mencarikan ahli yang bisa membantu meredakan tarumanya.

Ditempat berbeda, Sekretaris KPAD Kabupaten Bogor Erwin Suryana berharap kasus serupa tak lagi terjadi, apalagi diduga sebagian besar korban merupakan anak-anak.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencegah peristiwa tersebut tidak terulang kembali?

Menurut Erwin, yang harus dilakuan adalah semua pihak harus selalu mengawasi tempat-tempat aktivitas anak-anaknya.

“Tidak hanya dari cabang futsal saja, kita harus juga melakukan pengawasan dari pihak terkait lainnya yang concern di bidang olahraga untuk melakukan pengawasan apakah itu di klub, di sekolah dan sebagainya, antara atlet, pelatih dan lain-lain,” terangnya.

Selain itu, Erwin juga menegaskan agar ada pengawasan terhadap komponen olahraga seperti pelatih dan lain-lain menurutnya juga perlu dilakukan dengan regulasi yang ketat.

“Dari sisi aturan regulasi umpamanya setiap klub menerapkan aturan yang ketat saat berlatih dan sebagainya itu yang harus disikapi,” pungkasnya.

Atas perbuatannya tersebut, Gopal dikenakan pasal 27 ayat 1 juncto pasal 45 ayat 1 Undang-Undang nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan pasal 37  juncto pasal 11 atau pasal 32 serta Undang-Undang nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi dengan ancaman hukuma pidana penjara maksimal selama 6 tahun.

“Dengan pasal maupun UU tersebut, tersangka terancam hukuman pidana penjara maksimal 6 tahun,” ujarnya Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin.***

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 200 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Ridwan Muhibi Soroti Maraknya Gengster yang Meresahkan Masyarakat

3 Oktober 2022 - 19:20 WIB

maraknya gengster

Lihat Progres Pembangunan Jembatan Rawayan, Plt. Bupati Bogor Turun Langsung ke Desa Mekarjaya

3 Oktober 2022 - 16:20 WIB

pembangunan Jembatan Rawayan

Himpro BKI IUQI Bogor Berkunjung ke Pesantren Qotrunnada Depok

3 Oktober 2022 - 14:22 WIB

Mahasiswa IUQI Bogor: Keresahan Masyarakat Terhadap Gangster

3 Oktober 2022 - 14:17 WIB

Himpro BKI IUQI Gelar Diklat BKI 2022   

3 Oktober 2022 - 13:21 WIB

Jadwal Razia Operasi Zebra di Bogor: Awas Jangan Lupa Pakai Helm SNI

3 Oktober 2022 - 10:24 WIB

Trending di Kabupaten Bogor