Yusof Bin Ishak, Presiden Pertama di Singapura Berdarah Indonesia

Menu

Mode Gelap
Geger! Instagram Mendiang Vanessa Angel Mendadak Hilang Tok! Lin Che Wei Resmi Jadi Tersangka Kasus Mafia Minyak Goreng Jangan Telat, Yuk Daftar Gelombang 3 TA 2022/2023 Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor! Presiden Jokowi Beri Bantuan untuk Warga dan PKL di Pasar Cibinong Asyik! Mulai Hari Ini, Jokowi Izinkan Buka Masker di Ruang Terbuka

Tokoh · 14 Mar 2022 16:12 WIB

Yusof Bin Ishak, Presiden Pertama di Singapura Berdarah Indonesia


 Yusof Bin Ishak, Presiden Pertama Singapura. (bombastis/Bogordaily.net) Perbesar

Yusof Bin Ishak, Presiden Pertama Singapura. (bombastis/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Yusof Bin Ishak, adalah Presiden pertama Singapura yang memiliki darah Indonesia dari kedua orangtuanya yang asli Indonesia. Ayahnya berasal dari Minangkabau dan Ibunya berasal dari melayu langkat (langkat kota di sumatera utara).

Yusof dilahirkan pada tanggal 12 Agustus 1910 di Padang Gajah, Trong, Bandar (Kota) Taiping, Negara Bagian Perak, Kerajaan Malaysia. Ayah Yusof bin Ishak berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia, sedangkan ibunya berasal dari Langkat, Sumatera Utara, Indonesia.

Encik Yusof adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayah Encik Yusof bernama Encik Ishak bin Ahmad, yang merupakan seorang Ketua Penyuluh Perikanan Negeri-Negeri Selat dan Persekutuan Tanah Melayu. Ibu Encik Yusof bernama Aishah binti Tun Haji Aminuddin.

Encik Yusof mengenyam pendidikan dasarnya di sebuah sekolah Melayu di Kuala Kurau, Perak, Malaysia, sebelum akhirnya dipindahkan ke Malay School di Taiping.

Pada tahun 1921, Yusof meneruskan pendidikannya ke King Edward VII School yang berbahasa Inggris di kota yang sama.

Tahun 1932, Ayah Encik Yusof dipindahkan tugaskan ke Singapura. Akhirnya, semua keluarga Encik Yusof memutuskan untuk mengikuti ayahnya ke Singapura.

Tahun 1924, Encik Yusof dimasukkan ke sekolah Raffles Institution, di mana Encik berhasil lulus Cambridge School Certificate selama tiga tahun dengan nilai yang sangat memuaskan, sehingga diberikan peluang untuk melanjutkan pendidikannya dalam program Queen’s Scholarship.

Encik Yusof aktif dibeberapa kegiatan sekolah, seperti olahraga hoki, kriket, angkat berat, dan tinju. Encik pernah menjuarai pertandingan tinju di kelas lightweight (1933). Selain itu, Encik juga sering terpilih menjadi ketua kelas.

Setelah menyelesaikan kewajibannya, Encik Yusof memulai kariernya sebagai seorang jurnalis dan menjalin kerja sama dengan dua teman lainnya untuk menerbitkan majalah khusus berita olahraga, Sportsman. Tiga tahun kemudian, atau pada tahun 1932, Yusof bergabung dengan surat kabar Malaysia saat itu, Warta Malaya.

Dengan keahliannya sebagai seorang wartawan, Encik Yusof menerima jabatan sebagai Asisten Pengurus dan Penanggung Jawab Suntingan walaupun dalam kurun waktu yang sebentar.

Tahun 1938, Encik Yusof akhirnya mengundurkan diri dari Warta Malaya, dan mendirikan Utusan Melayu Press Ltd. bersama dengan beberapa petinggi Malaysia yang ada di Singapura (1939).

Selama Jepang menjajah pada tahun 1942-1945, surat kabar ini terpaksa menghentikan peredarannya karena mesin cetak yang mereka miliki dibajak oleh Jepang untuk menerbitkan surat kabar berisi propaganda, Berita Malai. Pada saat itu, Encik Yusof memutuskan untuk menetap di Semenanjung Malaya.

Setelah akhirnya Jepang menyerah kepada Sekutu, akhirnya Encik Yusof pun memutuskan untuk kembali ke Singapura, dan melanjutkan karirnya di Utusan Melayu. Encik Yusof berkunjung ke Inggris sebagai anggota delegasi First Press Delegation (1948)

Yusof telah banyak menjabatan posisi penting di pemerintahan Singapura. Ia pernah menjadi bagian dari Komite Perfilman, Nature Reserves Committee atau Komite Pelestarian Lingkungan, hingga Komisi Organisasi Malaya.

Puncak karir Encik Yusof adalah tanggal 3 Desember 1959, saat itu Encik akhirnya dilantik menjadi Yang Di-Pertuan (Kepala Negara) Negara Singapura yang pertama.

Pada tanggal 9 Agustus 1965, Singapura memutuskan untuk memisahkan diri dari Malaysia dan menjadi negara yang merdeka serta berdaulat, Encik Yusof pun masih menjabat sebagai Kepala Negara. Encik Yusof juga kembali diberi kepercayaan untuk menjabat empat tahun pada tanggal 4 Desember 1967.

Sebagai bentuk jasa, Singapura pun mengabadikan namanya dalam tiga hal. Pertama, sebuah masjid di Woodlands yang bernama Yusof Ishak.***

Artikel ini telah dibaca 100 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Profil Flandy Limpele, Sosok Dibelakang Suksesnya India Juara Thomas Cup

18 Mei 2022 - 21:50 WIB

sosok Flandy Limpele

Tokoh: Budi Suhartana dan Gamelan di Tanah Jawa

18 Mei 2022 - 15:47 WIB

Mengenal Supeno, Pahlawan Bangsa yang Ditembak Mati oleh Belanda

18 Mei 2022 - 14:03 WIB

Supeno

Mengenal Lin Che Wei, Tersangka Mafia Minyak Goreng

17 Mei 2022 - 23:58 WIB

Lin Che Wei

Profil Ustaz Abdul Somad, Sang Ulama Keturunan Melayu

17 Mei 2022 - 18:41 WIB

Ustaz Abdul Somad

Tirto Adhi Soerjo dan Gerakan Sarekat Islam di Bogor

17 Mei 2022 - 08:56 WIB

Trending di Tokoh