Bogordaily.net – Meningkatnya permintaan akan durian asal Malaysia di China, Akademi Inspeksi dan Karantina China (CAIQ) meluncurkan Aturan Pelaksanaan Sertifikasi Durian Malaysia.
Pelaksanaan tersebut bertujuan untuk melindungi petani durian, penjual dan konsumen sehingga menciptakan lingkungan perdagangan yang adil dan terpercaya.
CAIQ menyatakan bahwa standar sertifikasi durian malaysia sudah sesuai dengan Peraturan Republik Rakyat Tiongkok tentang Sertifikasi dan Akreditasi untuk Produk Pertanian Berkualitas Tinggi yang Dapat Dilacak Dunia: Durian Malaysia (T/CASME 13 – 2021) standar kelompok.
CEO CAIQTEST Malaysia, Ch’ng Soo Ee mengatakan jika kualitas durian malaysia telah diakui masyarakat di Cina. Permintaan durian di China yang tinggi menyebabkan peningkatan standar hidup petani durian malaysia.
Menurut Ch’ng, durian asal Malaysia memiliki keunggulan dalam hal warna, tekstur dan rasa daging buah.
Namun, menurut dia harga durian Malaysia di Cina juga jauh lebih tinggi daripada varietas durian lainnya akibat biaya transportasi yang mahal. Hal itu berpotensi maraknya durian impor yang diklaim sebagai durian malaysia.
“Mengingat permintaan durian Malaysia yang kuat dan harganya yang lebih tinggi, ini telah menyebabkan beberapa importir yang tidak bermoral memanipulasi asal dan varietas durian lain untuk mendapat keuntungan yang tinggi,” katanya dikutip dari The Sun Daily.
Karena itu, Ch’ng menekankan standar sertifikasi durian Malaysia yang diterapkan akan membantu memerangi praktik importir nakal yang memanipulasi informasi asal durian.
“Karena mereka memerlukan Sertifikasi Durian Malaysia untuk mengotentikasi asalnya,” katanya.
Aturan Pelaksanaan yang dirumuskan CAIQ mulai sekarang akan diterapkan di tingkat importir durian Malaysia di China dan eksportir durian di Malaysia.
Ch’ng menjelaskan standar tersebut akan membantu mendorong petani durian Malaysia untuk meningkatkan investasi mereka, memperbaiki dan mengembangkan varietas durian baru serta meningkatkan kualitas durian yang ditargetkan untuk ekspor ke China.
“Ini adalah game changer karena ini adalah salah satu standar pertama yang diterapkan sejalan dengan ‘Garis Pengembangan Standardisasi Nasional’,” katanya.***