Asal Usul dan Sejarah Lebaran Ketupat

Menu

Mode Gelap
Buntut Tragedi Stadion Kanjuruhan, Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat Dicopot! Update Korban Tragedi Kanjuruhan: 174 Orang Meninggal Dunia Terbaru! Ini Lokasi Sim Keliling Kota Bogor, Jumat 30 Sepember 2022 Lagi! Kota Bogor Hujan Hari Ini, Jumat 30 September 2022 Melonjak Rp 10 ribu Per Gram, Cek Harga Emas Antam Hari Ini

Nuansa Ramadhan · 6 Mei 2022 06:55 WIB

Dirayakan Usai Idulfitri, Berikut Asal Usul dan Sejarah Lebaran Ketupat


 Ilustrasi ketupat. (Angga Budhiyanto/Suara.com/Bogordaily.net) Perbesar

Ilustrasi ketupat. (Angga Budhiyanto/Suara.com/Bogordaily.net)

Bogordaily.net– Masyarakat di Pulau Jawa umumnya mengenal dua kali lebaran yakni Idulfitri dan lebaran ketupat. Jika Idul Fitri diperingati pada 1 Syawal setiap tahun, maka lebaran ketupat akan diperingati 8 syawal atau sepekan setelah Idul Fitri. Meski kerap disebut lebaran ketupat, tidak semua daerah menghadirkan ketupat sebagai makanan khas. Seperti apa sejarahnya?

Dilihat dari sejarahnya, beberapa sumber menyebutkan tradisi lebaran ketupat sudah ada di Jawa sejak masa Wali Songo. Sunan Kalijaga, salah satu bagian dari Wali Songo saat menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa memperkenalkan dua kali lebaran yakni Idulfitri dan Bakda Kupat.

Sunan Kalijaga saat itu membawa ajaran puasa enam hari di bulan Syawal yang diajarkan umat muslim. Hadis Imam Muslim menyebutkan Rasulullah Muhammad SAW bersabda barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian melanjutkan enam hari di bulan Syawal maka baginya pahal puasa selama setahun penuh.

Atas dasar itulah, Sunan Kalijaga memperkenalkan puasa syawal mulai tanggal 2-7 syawal atau selama enam hari berturut-turut. Kemudian pada 8 Syawal orang-orang kembali merayakan lebaran yang disebut sebagai lebaran ketupat.

Melansir Suara.com dari NU Online, ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut kupat mengandung filosofi ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Prosesi ngaku lepat umumnya diwujudkan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak bersimpuh dan memohon maaf di hadapan orang tuanya.

Kita diajak untuk memahami arti pentingnya menghormati orang tua, tidak angkuh dan tidak sombong kepada mereka serta senantiasa mengharap ridho dan bimbinganya. Hal ini sebagai bukti cinta dan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya begitupun orang tua kepada anaknya.

Prosesi ngaku lepat pun tidak hanya berkutat pada tradisi sungkeman seorang anak kepada orang tua, lebih jauh lagi adalah memohon maaf kepada tetangga, kerabat dekat maupun jauh hingga masyarakat muslim lainya, dengan begitu umat Islam dituntun untuk  mau mengakui kesalahan dan saling memaafkan dengan penuh keikhlasan yang disimbolkan dengan ketupat tersebut.

Ketupat menjadi simbol maaf bagi masyarakat Jawa, yaitu ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabatnya nantinya mereka akan disuguhkan ketupat dan diminta untuk memakannya, apabila ketupat tersebut dimakan secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala salah dan khilaf antar keduanya terhapus.***

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Menyisakan Misteri, Dimana Ponsel Brigadir J?

24 Agustus 2022 - 11:44 WIB

ponsel brigadir J

Bolehkan Puasa Syawal dan Puasa Utang Ramadan Digabung? Berikut Penjelasannya

8 Mei 2022 - 11:39 WIB

Selain Puasa, Ini Amalan di Bulan Syawal, Salah Satunya Bisa Dilakukan Wanita Haid  

7 Mei 2022 - 08:09 WIB

Puasa Qadha Ramadan di Bulan Syawal, Ketahui Niat, Pengertian, dan Ketentuannya

6 Mei 2022 - 10:53 WIB

Pagi

Jasa Marga Ungkap Rekor Mudik Lebaran Tertinggi di Tahun 2022

5 Mei 2022 - 10:36 WIB

mudik lebaran

Sambut Puasa Syawal, Warga Lampung Meriahkan Tradisi Sekura

4 Mei 2022 - 18:49 WIB

Trending di Nuansa Ramadhan