Heboh Startup PHK Massal, Ini Penyebabnya

Menu

Mode Gelap
Ini Lokasi Perpanjang SIM di Kota Bogor, Kamis 11 Agustus 2022 Pekan Depan, LPSK Umumkan Hasil Asesmen Istri Ferdy Sambo Waspada, BMKG Ramalkan Kota Bogor Hujan, Kamis 11 Agustus 2022 Harga Emas Antam dan UBS di Pegadaian, Rabu 10 Agustus 2022 Profil Irjen Ferdy Sambo, Tersangka Kasus Pembunuhan Brigadir J

Ekonomi · 2 Jun 2022 07:45 WIB

Heboh Startup PHK Massal, Ini Penyebabnya


 Ilustrasi PHK.(Pexels/Suara.com/Bogordaily.net) Perbesar

Ilustrasi PHK.(Pexels/Suara.com/Bogordaily.net)

Bogordaily.net–  Sejumlah startup di Indonesia beberapa hari belakangan melakukan PHK terhadap para pekerja mereka. Maraknya fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah startup ini pun tengah menjadi sorotan.

Pengamat menilai Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK ini disebabkan karena perusahaan tidak fokus dalam bisnis, kehabisan dana, dan tidak memiliki strategi yang baik untuk berkembang di pasar.

Hal tersebut diungkapkan Analis dan praktisi hukum restrukturisasi utang dari Kantor Frans & Setiawan, Hendra Setiawan Boen. Ia juga menuturkan, dana operasional menjadi masalah besar bagi startup lantaran ketergantungan dari pihak luar melalui fundraising, private placement sampai pinjaman.

“Memang dana dari investor sangat berguna bila ingin ekspansi tapi tentu tidak bisa terus-terusan mengandalkan pihak luar. Startup ini harus bisa menghitung kapan perusahaan bisa mandiri, break-even point, mengembalikan dana pinjaman dari investor dan mulai meraup keuntungan,” ujar Hendra dilansir Suara.com dari Antara.

Hendra pun mencontohkan, ada perusahaan startup besar Indonesia yang sudah berdiri selama puluhan tahun tetapi masih beroperasi dengan menanggung utang puluhan triliun rupiah serta gelontoran dana investor.

“Bagi saya praktik seperti ini tidak masuk akal dan tidak sustainable. Kalau tiba-tiba investor startup kehabisan uang, apakah si startup masih bisa beroperasi atau malah kasak-kusuk mencari investor lain untuk suntikan modal?,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menyarankan, startup Indonesia tidak perlu terlalu terburu-buru untuk booming. Lebih baik tumbuh secara organik. Kalau memang mau ekspansi baru cari investor. Dana dari investor itu hanya alat bantu untuk berkembang dan bukan tujuan utama mendirikan startup.

Ia memberi analogi investor pada startup itu seperti baby walker untuk bayi dapat belajar berjalan. Namun akhirnya bayi itu harus bisa berjalan sendiri tanpa alat bantu. Apabila tidak, berarti ada masalah dan bayi tersebut harus dibawa ke ahli tumbuh kembang anak.

“Lebih baik punya perusahaan yang berkembang secara perlahan tapi sehat dan bertahan lama daripada dikarbit menjadi besar dalam sehari tapi besoknya layu,” pungkasnya.

Sementara itu sebelumnya, sejumlah startup melakukan PHK di antaranya PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) atau LinkAja dan Zenius Education, Fabello, TaniHub, Uang Teman hingga JD.ID. Sebelumnya beberapa startup Indonesia juga gulung tikar antara lain Airy Rooms, Stoqo, Qlapa, dan Sorabel.***

Artikel ini telah dibaca 2.400 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Mendag Sebut Tak Ada Kenaikan Harga Mi Instan Tiga Kali Lipat

11 Agustus 2022 - 12:34 WIB

Waduh! Dua Bulan Lagi Kuota BBM Pertalite dan Solar Habis

11 Agustus 2022 - 11:42 WIB

Analis Proyeksikan Pencapaian BRI Group Semakin Mengkilap di Akhir Tahun 2022

11 Agustus 2022 - 09:30 WIB

BRIFast Remittance

Harga Emas Antam Hari Ini Masih Stabil, Berikut Rinciannya

11 Agustus 2022 - 09:25 WIB

emas antam

Pasar Modal Teruji Hadapi Berbagai Peristiwa Sejarah Ekonomi Indonesia

11 Agustus 2022 - 06:42 WIB

Pasar Modal Indonesia

Edukasi & Akselerasi UMKM Naik Kelas, BRI Selenggarakan “Pengusaha Muda BRILian 2022″

10 Agustus 2022 - 22:06 WIB

Trending di Ekonomi