Kelaparan, Warga Mariupol Makan Merpati untuk Bertahan Hidup

Menu

Mode Gelap
Link Streaming Man City vs Arsenal, Aman dan Legal Catat, Ini Nomor Hotline Pengaduan Penculikan Anak di Kota Bogor Doa Buka Puasa Rajab 2023 dan Qadha Ramadhan Lengkap Pasar Kaget di Taman Heulang Dikeluhkan Warga, Sahib Khan Usulkan Relokasi Profil Najwa Shihab, Jurnalis Intelektual yang Penuh Kritis

Internasional · 28 Jun 2022 22:59 WIB

Kelaparan, Warga Mariupol Makan Merpati untuk Bertahan Hidup


 Kota Mariupol.(Foreign Policy/Bogordaily.net) Perbesar

Kota Mariupol.(Foreign Policy/Bogordaily.net)

IIMS

Bogordaily.net – Wali Kota Mariupol yang diasingkan, Vadym Boichenko, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Senin 26 Juni 2022, bahwa penduduk telah berjuang untuk bisa terus hidup dan memberi makan diri sendiri dengan cara apa pun, termasuk memasang jebakan untuk menangkap burung merpati.

Salah seorang pejabat di Mariupol memposting pernyataan di media sosial, “orang-orang sedang merakit perangkap merpati, seperti yang mereka lakukan selama Kelaparan Besar tahun 1932-1933.”

“Penduduk Mariupol berada di ghetto, tanpa air minum dan makanan. Mereka tidak bisa meninggalkan kota,” kata Boichenko, dikutip dari RMOL.

Di tengah kesengsaraan itu, dilaporkan bahwa pasukan Rusia mengejek dengan mengatakan kepada orang-orang yang dulu hidupnya nyaman, yang tidak tahu apa itu kelaparan atau kekurangan air minum.

Mariupol, yang saat ini diduduki oleh pasukan Rusia, situasinya cukup memprihatinkan. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah kota hanya cukup untuk sejumlah kecil orang. Kelaparan mengancam mereka, belum lagi ahaya wabah penyakit menular.

Tidak diketahui berapa banyak penduduk kota yang tewas sejak awal perang. Angka resmi mengatakan bahwa setidaknya ada 22.000 yang tewas, bisa juga lebih dari itu.

Oleksandr Lazarenko, kepala Puskesmas di Mariupol menginformasikan tentang bahayanya orang memakan merpati.

“Merpati adalah tempat berkembang biak bagi banyak penyakit virus, bakteri dan jamur. Dalam hal ini, daging dapat terinfeksi. Dapat menyebabkan histoplasmosis, ensefalitis, ornithosis, salmonellosis, toksoplasmosis dan penyakit berbahaya lainnya. Penyakit seperti itu sangat berbahaya bagi anak-anak dan orang tua. Dengan tidak adanya perawatan medis yang tepat, itu bahkan dapat menyebabkan kematian,” katanya, seperti dikutip dari CNN.***

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Malaysia Diterjang Banjir, Belasan Ribu Warga Dievakuasi

27 January 2023 - 14:22 WIB

Seluas Kota London, Gunung Es di Antartika Pecah

26 January 2023 - 15:30 WIB

Gunung Es Antartika Pecah

Main Petak Umpet di Kontainer, Bocah Bangladesh Ini Ditemukan di Malaysia

26 January 2023 - 15:17 WIB

bocah main petak umper di Kontainer

Festival Layang-Layang di India, 6 Tewas Terjerat Benang

26 January 2023 - 02:25 WIB

Ilmuwan Internasioanal Temukan Meteorit Langka Seberat 17 Pon di Antartika

25 January 2023 - 15:35 WIB

Ilmuwan meteorit langka antartika

AS dan Jerman Siap Kirim Tank Tempur ke Ukraina

25 January 2023 - 15:09 WIB

Jerman tank ke Ukraina
Trending di Internasional