Resesi Seks Melanda Jepang

Menu

Mode Gelap
Pakai Mobil Mercy, Perempuan Ini Maling Cokelat di Minimarket Gereja di Mesir Kebakaran, 41 Tewas Termasuk 18 Anak-anak Jadwal dan Lokasi Sim Keliling Kota Bogor, Senin 15 Agustus 2022 Pencuri Jadi Bulan-bulanan Warga, Sempat Todong Pistol Bharada E Dipastikan Aman di Rutan Bareskrim Polri

Internasional · 6 Jun 2022 08:20 WIB

Resesi Seks Melanda Jepang, Angka Kelahiran Merosot


 Angka Kelahiran di Jepang Semakin Berkurang. (detik/Bogordaily.net) Perbesar

Angka Kelahiran di Jepang Semakin Berkurang. (detik/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Fenomena resesi seks mulai melanda Jepang. Hal ini terlihat dari sebuah laporan pemerintah yang menyebut angka kelahiran Negeri Sakura merosot secara signifikan.

Resesi sendiri berarti kemerosotan. Dalam istilah ekonomi, resesi merupakan pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Maka dari itu, ‘resesi seks’ merujuk pada rendahnya kemauan warga untuk menikah sehingga angka kelahiran menjadi turun di suatu negara dalam kurun waktu tertentu. Umumnya kondisi ini terjadi pada di negara-negara maju.

Mengutip Reuters, Senin, 6 Juni 2022 ada sekitar 811.604 kelahiran di Jepang pada tahun 2021. Angka ini merupakan rekor terendah sejak 1899.

Masih di tahun yang sama, angka kematian justru naik menjadi 1.439.809 jiwa. Hal ini menyebabkan penurunan populasi hingga 628.205 jiwa.

Selain itu, tingkat kesuburan keseluruhan turun selama enam tahun berturut-turut, menjadi 1,3. Tingkat kesuburan keseluruhan ini, menggambarkan jumlah rata-rata anak yang lahir dari seorang wanita seumur hidupnya.

Jepang menjadi salah satu tingkat kesuburan terendah di bumi dan bisa menjadi peringatan bagi Amerika Serikat (AS) dan sejumah negara industri lainnya.

Hal ini rupanya menimbulkan fenomena aneh, gejala resesi seks atau hasrat berhubungan seks menurun bagi kaum muda.

Jepang juga merupakan negara yang mengalami penuaan tercepat di dunia. Dengan angka kelahiran yang rendah, Tokyo saat ini mulai mengandalkan pekerja dari luar negeri.

Tak hanya Jepang, baru-baru ini Singapura juga mengalami kejadian serupa. pada 2021, angka kelahiran negara kota itu hanya mencapai 1,12 bayi per wanita. Angka ini tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan rata-rata global yang berkisar di angka 2,3.

Beberapa cara telah dilakukan Pemerintah Singapura untuk mengatasi hal ini. Sebelumnya pihak berwenang menawarkan insentif uang tunai ‘bonus bayi’ untuk menaikan angka kelahiran.

Selain itu, saat ini pusat keuangan Asia itu berencana mengizinkan para wanita lajang untuk membekukan sel telurnya mulai tahun depan. Hal ini untuk membuka kemungkinan bagi para wanita untuk hamil sekalipun saat tubuhnya tak lagi memproduksi sel telur.***

Artikel ini telah dibaca 200 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Kebakaran Hebat Tejadi di Gereja Koptik Mesir, 41 Orang Tewas

15 Agustus 2022 - 10:11 WIB

Dor! Satu Bus di Kota Tua Yerusalem Ditembaki Teroris

15 Agustus 2022 - 09:39 WIB

Bus Yerusalem

Kabar Baik, Sekolah di Shanghai Segera Buka Kembali

15 Agustus 2022 - 09:04 WIB

Sekolah di Shanghai

Gereja di Mesir Kebakaran, 41 Tewas Termasuk 18 Anak-anak

15 Agustus 2022 - 07:49 WIB

gereja di mesir

Mencekam! Perang Antar Genk di Meksiko Meluas, Belasan Orang Tewas

14 Agustus 2022 - 20:28 WIB

Geng Narkoba

Geger! Penulis Novel Salman Rushdie Ditikam di Atas Panggung

14 Agustus 2022 - 13:26 WIB

Salman Rushdie.
Trending di Internasional