Monday, 22 April 2024
HomeNasionalDepresi, Bocah SD Dipaksa Menyetubuhi Kucing Oleh Temannya Hingga Tewas

Depresi, Bocah SD Dipaksa Menyetubuhi Kucing Oleh Temannya Hingga Tewas

Bogordaily.net – Seorang pelajar SMP diduga terlibat dalam aksi terhadap bocah berumur 11 tahun di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Bocah SD ini dipaksa menyetubuhi kucing sambil direkam oleh para pelaku.

Tidak hanya mengaku sempat dipukuli teman sepermainannya, bocah ini juga dipaksa untuk menyetubuhi seekor kucing. Mirisnya, aksi pemaksaan tersebut direkam hingga korban mengalami depresi dan tidak mau keluar rumah.

Bahkan, beredar pula rekaman korban ketika dipaksa oleh teman-temannya menyetubuhi kucing tersebut.

Rekaman korban lalu disebar oleh teman-temannya. Korban yang mengetahui rekaman itu tersebar menjadi depresi dan tidak mau makan.

Akibat dari hal tersebut, kondisi tubuh korban melemah dan oleh orang tuanya membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Namun takdir berkata lain, nyawa korban tidak bisa diselamatkan hingga dinyatakan meniggal dunia pada Minggu, 18 Juli 2022.

Ibu kandung korban, T (30) mengatakan, kedua dari empat bersaudara tersebut memang kerap mendapatkan oleh teman-temannya.

“Seminggu sebelum meninggal, rekamannya itu menyebar. Dia pun di-bully teman-temannya makin menjadi. saya jadi malu, tak mau makan minum. Bahkan melamun sampai dibawa ke rumah sakit dan meninggal saat perawatan,” ujar sang ibu.

Kepada ibu kandungnya, korban mengaku dipaksa teman-temanya menyetubuhi kucing sambil ditonton dan diolok-olok.

“Sebelum kejadian itu, katanya suka dipukul-pukul oleh mereka. Puncaknya dipaksa begitu,” katanya.

Menurut T, keluarga teman-teman korban yang merundung tersebut datang ke rumah dan meminta maaf. Ia pun mengaku sudah ikhlas dengan kepergian anaknya.

“Saya minta jangan lagi ke lainnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rianto membenarkan kejadian yang menewaskan bocah SD di Tasikmalaya.

KPAID sudah mengunjungi rumah korban dan akan memproses kejadian tersebut agar tidak ada lagi kejadian serupa.

“Sesuai keterangan keluarga, 11 tahun ini di-bully sampai depresi. Kemudian meninggal saat rekaman pemaksaan tak senonohnya tersebar. Kita juga akan proses hukum supaya kejadian ini tak terulang lagi,” tandasnya.***

(Riyaldi Suhud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here