Profil Sayuti Melik Tokoh di Balik Teks Proklamasi

Menu

Mode Gelap
Melonjak Rp 10 ribu Per Gram, Cek Harga Emas Antam Hari Ini Terbaru! Ini Lokasi Perpanjang SIM Kota Bogor, Kamis 29 September 2022 Siap-siap Payung, Kota Bogor Hujan Hari Ini, Kamis 29 September 2022 Harga Emas Pegadaian Turun, Rabu 28 September 2022 Jangan Telat Perpanjang SIM! Ini Lokasi Simling Kota Bogor, Rabu 28 September 2022

Tokoh ยท 12 Agu 2022 21:45 WIB

Profil Sayuti Melik Tokoh Penting di Balik Teks Proklamasi


 Sayuti Melik Tokoh Pentig Tercetusnya Naskah Proklamasi Kemerekaan RI. (kompas/Bogordaily.net) Perbesar

Sayuti Melik Tokoh Pentig Tercetusnya Naskah Proklamasi Kemerekaan RI. (kompas/Bogordaily.net)

Bogordaily.net – Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Sayuti Melik. Sayuti Melik ialah sosok yang mengetik teks proklamasi setelah konsep disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo. Berikut profil Sayuti Melik.

Mohamad Ibnu Sayuti atau Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta, 22 November 1908. Ia anak dari pasangan Abdul Mu’in (Partoprawito) seorang bekel jajar atau kepala desa di Sleman dan Sumilah.

Sayuti memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di Desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

 

Nasionalisme telah ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil. Saat itu, ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.
Sayuti Melik adalah putra dari Abdul Muin alias Partoprawito dan Sumilah. Istrinya bernama Soerastri Karma Trimurti, seorang aktivis perempuan dan wartawati.

Mohamad Ibnu Sayuti memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro (setara dengan SD) di Desa Srowolan hingga kelas IV. Ia meneruskan pendidikannya ini hingga mendapatkan ijazah di Yogyakarta.

Mengutip dari situs Encyclopedia Jakarta, Sayuti Melik melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru di Solo. Namun, ia ditangkap Belanda karena dicurigai tergabung dalam kegiatan politik.

Semenjak saat itu, ia lebih sering belajar mandiri atau belajar sendiri. Setelah Indonesia merdeka, ia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Indonesia. Namun, hanya dalam waktu yang singkat dan Sayuti Melik tidak mendapat gelar.

Nasionalisme dalam diri Sayuti Melik didapat dari didikan bapaknya, yang saat itu menentang kebijakan Belanda terkait penanaman tembakau di sawah miliknya. Ia juga mempelajari nasionalisme saat mengenyam pendidikan di Sekolah Guru di Solo.

Perannya dalam Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Sayuti Melik turut menjadi saksi penyusunan teks proklamasi kemerdekaan, di ruang makan rumah Laksamana Maeda. Dalam hal ini, ia mewakili golongan pemuda bersama Sukarni.

Saat proses penyusunan naskah proklamasi, Sayuti Melik membantu Ir. Soekarno. Sedangkan Mohammad Hatta dibantu oleh Sukarni.

Dalam buku yang berjudul Sejarah Museum Perumusan Naskah Proklamasi (1990) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan bahwa Sayuti Melik mengusulkan agar naskah proklamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.

Setelah Sayuti Melik mengusulkan hal tersebut, Sukarni segera mengumumkan jika naskah proklamasi hanya perlu ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia.

Usulan tersebut diterima oleh para hadirin yang datang. Kemudian Ir. Soekarno meminta Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi yang telah disusun sebelumnya.

Ditemani oleh BM. Diah, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi tersebut di ruang bawah dekat dapur rumah Laksamana Maeda.

Saat proses pengetikan naskah, Sayu Melik melakukan perubahan tiga kata, yakni kata ‘tempoh’ diganti menjadi ‘tempo’. Kata ‘wakil-wakil Bangsa Indonesia’ diubah menjadi ‘Atas Nama Bangsa Indonesia’ serta pengubahan tulisan bulan dan hari.

Setelah kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia merdeka, pada 1946, Sayuti Melik ditangkap oleh Pemerintah Indonesia atas perintah Mr. Amir Syarifudin. Penangkapan ini terjadi karena Sayuti Melik dianggap sebagai pihak yang memiliki hubungan dekat dengan ‘Persatuan Perjuangan’.

Selain itu, ia juga dianggap bersekongkol dan ikut terlibat dalam ‘Peristiwa 3 Juli 1946’. Ia dinyatakan tidak bersalah oleh Makhamah tentara.

Sayuti Melik kembali ditangkap Belanda saat Agresi Militer Belanda II dan dipenjara di Ambarawa. Setelah KMB (Konferensi Meja Bundar) selesai dilakukan, ia dibebaskan.

Pada 1950, Sayuti Melik diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR serta menjadi Wakil Cendekiawan. Sebelas tahun kemudian, tepatnya pada 1961, ia menerima Bintang Maha Putera Tingkat V.

Kemudian pada 19 Mei 1973, ia menerima tanda Bintang Mahaputra Adipradana II dari Presiden Soeharto. Pada 1971 hingga 1977, Sayuti Melik diangkat menjadi anggota MPR dan DPR, sebagai perwakilan dari Golongan Karya.

Sayuti Melik tidak hanya berkarir dalam bidang politik saja, namun juga dalam bidang jurnalistik. Ia pernah melakukan kunjungan kerja sebagai wartawan ke Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Serikat, Australia dan negara lainnya.

Pada 23 Desember 1982, Sayuti Melik mendapat penghargaan Satya Penegak Pers dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat.

Itulah tadi profil Sayuti Melik, Tokoh dibalik terbentuknya teks proklamasi.(*)

Artikel ini telah dibaca 100 kali

badge-check

Redaktur

 
Baca Lainnya

Sosok Johanis Tanak, Pengganti Lili Pintauli Siregar

29 September 2022 - 08:56 WIB

sosok Johanis Tanak

Profil Febri Diansyah, Eks Jubir KPK yang Kini Jadi Pengacara Putri Candrawathi

28 September 2022 - 16:51 WIB

Rasamala Aritonang, Eks Penyidik KPK yang Kini Jadi Pengacara Ferdy Sambo

28 September 2022 - 16:20 WIB

Sosok Giorgia Meloni, PM Perempuan Pertama di Italia

27 September 2022 - 08:12 WIB

sosok Giorgia Meloni

Sosok Syekh Yusuf Qaradhawi, Ulama Berpengaruh yang Wafat di Usia 96 Tahun

26 September 2022 - 23:13 WIB

Profil dan Biodata Evie Effendi, Ustaz Gaul dari Bandung

26 September 2022 - 09:02 WIB

Trending di Tokoh