Mahsa Amini Tewas Gegara Aturan Hijab, Apa Itu Polisi Moral Iran?

Menu

Mode Gelap
Breaking News: Gempa M 6,4 Guncang Garut Piala Dunia 2022: Link Live Streaming Polandia vs Argentina Piala Dunia 2022: Ghana Sikut Korea Selatan 3-2 Merosot, Ini Harga Emas per Gram Hari Ini Lagi, Gempa Susulan Guncang Cianjur 21 Kali dalam Semalam

Internasional · 25 Sep 2022 09:00 WIB

Mahsa Amini Tewas Gegara Aturan Hijab, Apa Itu Polisi Moral Iran?


 Kericuhan terjadi dalam aksi demontrasi di Iran memprotes kematian seorang wanita bernama Mahsa Amini.(AP/CNN Indonesia/Bogordaily.net) Perbesar

Kericuhan terjadi dalam aksi demontrasi di Iran memprotes kematian seorang wanita bernama Mahsa Amini.(AP/CNN Indonesia/Bogordaily.net)

Bogordaily.net–   Iran dihantam gelombang demo besar-besaran hingga dikabarkan menewaskan 50 orang. Pendemo protes atas kematian perempuan keturunan Iran-Kurdi, bernama Mahsa Amini (22). Ia tewas setelah ditangkap polisi moral saat sedang berkunjung ke ibu kota Teheran bersama dengan keluarganya, pada Jumat, 13 September 2022 pekan lalu.

Amini ditangkap polisi moral Iran lantaran ia disebut tidak memakai hijab sesuai dengan peraturan yang berlaku. Beberapa jam setelah menjalani ‘bimbingan’ di kantor polisi setempat, ia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma.

Berdasarkan keterangan polisi yang memeriksa, Amini menderita serangan stroke dan jantung. Tiga hari kemudian, ia dinyatakan meninggal dunia.  Namun, pernyataan polisi disangkal oleh pihak keluarga. Sebab, sebelum penangkapan terjadi Amini dalam kondisi sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit apa pun.

Mereka meyakini bahwa Amini tewas akibat menerima perlakuan yang buruk dari polisi moral setelah ditemukan adanya bekas memar di kepala dan juga kaki Amini.

Polisi juga tidak memberikan penjelasan terkait alasan Mahsa Amini ditahan, selain menyangkut tentang aturan hijab. Menurut pihak keluarga Amina sudah mematuhi aturan serta mengenakan jubah panjang yang longgar.

Lalu apa itu polisi moral? Dikutip Suara.com, polisi moralitas merupakan komponen dari Pasukan Penegakan Hukum Iran (LEF) yang bertugas menegakkan aturan terkait ketidaksopanan dan juga kejahatan sosial. Selama bertugas, mereka mempunyai akses kekuasaan, senjata, dan juga pusat penahanan.

Polisi moral memiliki kendali soal “pusat pendidikan ulang” yang belakangan ini baru diperkenalkan. Adapun pusat pendidikan tersebut bertindak layaknya fasilitas penahanan. Jadi setiap warga bisa saja ditahan akibat tidak mematuhi aturan soal kesopanan di Iran.

Di dalam fasilitas penahanan, para tahanan nantinya akan diberikan kelas tentang pendidikan Islam dan pentingnya mengenakan jilbab sesuai syariat. Sebelum bebas, pihak berwenang akan memaksa mereka yang melanggar aturan agar menandatangani perjanjian untuk mematuhi peraturan berpakaian.

Iran memiliki beberapa jenis ‘polisi moral’ sejak terjadinya Revolusi Islam pada 1979 pecah, namun sejak 2005 lalu Gashte Ershad menjadi lembaga utama yang menegakkan hukum dan juga etik Islam di masyarakat Iran.

Mereka akan melakukan penangkapan terhadap perempuan yang dinilai tidak mau berpakaian syar’i. Sebagai negara Islam, hukum di Iran menyatakan jika pakaian perempuan seharusnya menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan juga tangan mereka.

Tak hanya perempuan, ternyata pria juga ikut menjadi sasaran penangkapan Gashte Ershad. Penyebab utamanya yaitu janggut mereka yang terlalu panjang dan mereka dinilai mirip jihadis atau gaya rambut pria tampak kebarat-baratan. Meski demikian, tetap kaum perempuanlah yang menjadi sasaran utamanya.

Perempuan akan ditangkap jika melakukan sejumlah kesalahan. Seperti terlalu banyak terlihat rambut saat mengenakan hijab, memakai pakaian dengan warna cerah, memakai make-up terlalu berlebihan, hingga jika sedang berjalan berdua dengan seorang laki-laki yang bukan suami atau keluarganya di tempat umum.

Polisi moral Iran saat bertugas biasanya akan mengendarai sebuah mobil van berwarna hijau dan putih. Dengan petugas laki-laki ditemani oleh wanita yang berpakaian chador (pakaian syar’i sesuai aturan negara Islam) warna hitam.

Mereka akan berdiri di tempat-tempat umum yang tengah sibuk, seperti di stasiun, pusat perbelanjaan atau alun-alun untuk melakukan penangkapan.

Aturan ketat berpakaian secara bertahap telah berkurang di bawah pemerintahan mantan presiden Hassan Rouhani. Situasi berubah ketika Ebrahim Raisi yang saat ini berkuasa.

Raisi bersama dengan sekutu dekatnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, kemudian mengadopsi aturan yang lebih tegas terkait penerapan perilaku sesuai dengan kaidah Islam konservatif dalam lingkungan masyarakat. ***

 
Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

1.700 Anjing Laut Ditemukan Mati di Pantai Laut Kaspia

5 Desember 2022 - 10:26 WIB

Anjing Laut

Peringatan Tsunami Dicabut setelah Gempa Berkekuatan 7,3 di Samoa Amerika

5 Desember 2022 - 07:18 WIB

peringatan tsunami amerika

Deretan Penjara Termewah di Dunia, Ada Tempat Spa

3 Desember 2022 - 14:57 WIB

penjara termewah di dunia

Penyebab Followers Pengguna Twitter Alami Penurunan, Ternyata Karena Ini

2 Desember 2022 - 15:58 WIB

penurunan followers twitter

Perdana Menteri Spanyol Diteror Bom Surat

2 Desember 2022 - 11:50 WIB

Rumput Laut Baru Ditemukan di Perairan Dalam Antartika

1 Desember 2022 - 20:06 WIB

rumput laut antartika
Trending di Internasional