Sejarah Pura Mangkunegaran, Lokasi Pernikahan Kaesang

Menu

Mode Gelap
Info Terkini Gempa, BMKG: Terjadi di Kepulauan Talaud Sulut dan China Harga Emas Antam Hari Ini, Senin 30 Januari 2023 Jadwal Layanan SIM Keliling di Kota Bogor, Senin 30 Januari 2023 Prakiraan Cuaca Kota Bogor Hari Ini Senin, 30 Januari 2023 Info Terkini Gempa Menurut BMKG, Sabtu 28  Januari 2023

Wisata · 1 Dec 2022 11:54 WIB

Jadi Lokasi Pernikahan Kaesang dan Erina, Ini Sejarah Pura Mangkunegaran


 Puro Mangkunegaran. (Foto: Puromangkunegaran.com/Bogordaily.net)
Perbesar

Puro Mangkunegaran. (Foto: Puromangkunegaran.com/Bogordaily.net)

IIMS

Bogordaily.net– Pura Mangkunegaran di Solo, Jawa Tengah akan menjadi lokasi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Sofia Gudono. Keduanya menjadi pasangan pertama dalam sejarah di luar kerabat keluarga Mangkunegaran yang menggelar perayaan pernikahan di kompleks Pura Mangkunegaran. Berikut sejarah Pura Mangkunegaran.

Pura Mangkunegaran terletak di Jalan Ronggowarsito, Dusun Kerato, Desa Keraton, Kecamatan Keraton, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Dilansir dari laman Puromangkunegaran.com, pada 17 Maret 1757 atau bertepatan hari Sabtu Legi tanggal 5 Jumadilawal, tahun Alip Windu Kuntara, tahun Jawa 1638 dilakukan penandatanganan Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III dengan Raden Mas Said di Salatiga disaksikan oleh perwakilan Sultan Hamengkubuwana I dan VOC.

Perjanjian Salatiga menandai berdirinya Mangkunegaran. Dari perjanjian tersebut, Mangkunegara I memerintah di wilayah Kedaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu.

Pendiri Mangkunegaran yakni Raden Mas Said yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I atau nama lengkapnya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang. Penguasa Mangkunegaran berkedudukan di Puro Mangkunegaran.

Mangkunegaran merupakan Kadipaten yang posisinya di bawah Kasunanan dan Kasultanan. Pada tahun 1757 – 1946, Kadipaten Mangkunegaran merupakan kerajaan otonom yang memiliki wilayah yang sangat luas dan berhak memiliki tentara sendiri yang independen dari Kasunanan.

Setelah Kerajaan otonom, pada September 1946 Mangkunegara VIII menyatakan bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun meletusnya revolusi sosial di Surakarta pada tahun 1945-1946 membuat Mangkunegaran kehilangan kedaulatannya.

Meski demikian Mangkunegara dan Puro Mangkunegaran masih tetap menjalankan fungsinya sebagai penjaga budaya.

Sejak 1757 hingga saat ini pemegang tahta Puro Mangkunegaran adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I (1757-1795); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II (1796-1835); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara III (1835-1853); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (1853-1881); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara V (1881-1896);

Kemudian Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI (1896-1916); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VII (1916-1944); Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII (1944-1987); dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX (1987-sekarang).

Sementara itu dilansir Suara.com,  Pura Mangkunegaran menghadap ke bagian selatan dan terbagi menjadi tiga halaman. Halaman pertama yang terletak di selatan berupa Pamedan. Pamedan merupakan lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran.

Di bagian Timur Pamedan ada bangunan Kavaleri Artileri dengan dua lantai. Terdapat pintu gerbang kedua menuju halaman dan ada Pendopo Akbar dengan ukuran 3.500 meter persegi. Pendopo ini mampu menampung hingga sepuluh ribu orang.

Terdapat pula tiang kayu persegi yang menyangga atap joglo. Seluruh konstruksi ini diketahui dibangun tanpa palu.

Lalu di pendopo tersebut terdapat empat set gamelan. Penggunaannya berbeda yakni pemakaian rutin dan ketiga lainnya akan digunakan di acara upacara khusus.

Warna pendopo yang didominasi warna hijau dan kuning adalah warna pari anom atau padi muda. Warna ini menjadi warna khas keluarga Mangkunegaran.

Hiasan langit pendopo berwarna terang yang melambangkan astrologi Jawa-Hindu. Terdapat pula lampu gantung antik.

Beranda terbuka di bagian belakang pendopo disebut Pringgitan. Terdapat tangga menuju Dalem Ageng yang dikenal sebagai ruang tidur pengantin kerajaan. Area ini menjadi museum yang memamerkan petanen atau persemayaman Dewi Sri dengan lapiran tenunan sutra.***

Copy Editor: Riyaldi Suhud

 

Simak Video Lainnya dan Kunjungi YouTube BogordailyTV

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Redaktur

Baca Lainnya

Camping Ground Pasir Luhur: Harga Tiket dan Lokasi

30 January 2023 - 08:35 WIB

Camping ground Pasir Luhur

Curug Cipeuteuy Bogor, Tempat Asyik Habiskan Akhir Pekan

29 January 2023 - 17:48 WIB

Curug Cipeuteuy bOGOR

Curug Tebing, Air Terjun Tersembunyi di Hutan Pamijahan

29 January 2023 - 12:16 WIB

Curug Tebing di Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.

Camping Ground Pasir Luhur Pamijahan, Wisata Kemah Eksotis Dikelilingi Pohon Pinus

29 January 2023 - 11:42 WIB

Camping ground Bumi Perkemahan Pasir Luhur

Situs Cibalay, Salah Satu Wisata Geopark dan Sejarah di Kabupaten Bogor

28 January 2023 - 22:04 WIB

Situs Cibalay

Museum Zoologi Bogor, Wisata Edukasi yang Sudah Ada Sejak 1894

26 January 2023 - 08:59 WIB

Museum Zoologi Bogor, Wisata Edukasi yang Sudah Ada Sejak 1894
Trending di Wisata