Friday, 12 July 2024
HomeOpiniDi Hari Merdeka Malaysia Ke-66 Kelompok 22 Menosea KKM Internasional IUQI Bogor...

Di Hari Merdeka Malaysia Ke-66 Kelompok 22 Menosea KKM Internasional IUQI Bogor Silaturahim ke Zawiyah Idrisiah Hulu Langat Selangor Malaysia

Di hari Merdeka Malaysia ke-66 Kelompok 22 Menosea Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Internasional Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI)  Bogor silaturahim ke Zawiyah Idrisiah yang ada di Hulu Langat Selangor Malaysia pada Kamis, 31 Agustus 2023.

Yunadi menyampaikan pengetahuannya ketika bersilaturahim bahwa Tarekat Idrisiyyah dinisbatkan kepada nama Syaikh Ahmad bin Idris al-Fasi al-Hasani (1172-1253 H/1758-1837 M).

Ada beberapa nama diberikan kepada aliran tarekat ini. Terkadang disebut al-Idrisiyah, nama yang dihubungkan dengan Sayyid Ahmad bin Idris, namun sering pula disebut al-Khidiriyah, yang dikaitkan kepada Nabi Khidir a.s.

Bahkan, Sayyid Muhammad Ali al-Sanusi dalam kitabnya al-Manhalu aI-Râwî al-Râ’iq fî al-Sânîd al-‘Ulûm wa Ushûli al-Tharîq menyebut tarekat ini dengan al-Muhammadiyah juga, ada pula catatan yang menyebut tarekat ini Ahmadiyah, nama yang dinisbatkan kepada Ahmad bin Idris.

Beliau dilahirkan di Naisabur, salah satu desa Kota Fas Maroko pada tahun (1173H./1760M).

Nasab beliau sampai kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Beliau berasal dari keluarga yang taat beragama dan tumbuh di wilayah yang menjadi salah satu pusat kajian agama di Wilayah maghribi (Maroko).

Ini terbukti sejak kecil beliau sudah didik dengan pelajaran dan keilmuan agama, Fiqih, Tafsir, Hadis, Aqidah, dan berbagai macam ilmu lahir.

Syaikh Ahmad bin Idrîs terkenal sangat cerdas sehingga guru-guru beliau memberikan perintah utuk mengajarkan semua ilmu yang telah dipelajari.

Kebiasaan zikir yang biasa dilakukan oleh jama’ah Tarekat Idrîsiyah adalah di setiap ba’da Maghrib hingga isya dan ba`da subuh hingga isyraq.

Pelaksanaan zikir di tarekat ini dilakukan dengan jahr (suara keras), diiringi lantunan shalawat (terkadang dalam moment tertentu dengan menggunakan musik).

Semoga hasil dari kunjungan ke Zawiyah Idrisiyyah itu sebagai sarana untuk mempertajam spritualitas.

Di samping itu, juga ingin lebih mengenal tokoh sufi yang sangat agung “Syaikh Ahmad bin Idris al-Fasi al-Hasani” sebagai pendiri Thoriqoh Idrisiyyah yang sangat banyak sekali pengikutnya.

Bang Akas selaku petugas di Zawiyah Idrisiah mengatakan bahwa Zawiyah Idrisiah ini merupakan tempat berkumpulnya jama’ah Thoriqoh Idrisiyyah.

Yang mana, tempat itu juga bisa dikatakan sebagai pondok pesantren, karena ada 60 santri yang menetap disana, belajar ilmu-ilmu Islam dan menghafal Al-Qur’an.

Dan amalan wirid Thoriqoh Idrisiyyah ini biasa dilaksanakan Ba’da Salat Maghrib dan Salat Subuh secara continue (terus menerus).

Sedangkan Mursyid yang mentalqin (membai’at) jama’ah di Zawiyah Idrisiyyah ini adalah Syaikh Fuad.

Tidak lupa Kelompok 22 Menosea memberikan bingkisan sebagai tanda terima kasih atas diskusi dan sudah diizinkan untuk berkeliling di Zawiyah Idrisiah Hulu Langat Selangor Malaysia.

Ditulis oleh: Mutawarudin
Mahasiswa IUQI, Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Semester VII

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here