Ketika kesenjangan sosial terjadi, di mana ada perbedaan signifikan dalam hal status ekonomi, kekuatan, atau popularitas antara individu atau kelompok, hal ini dapat menciptakan ketidaksetaraan yang menjadi lingkungan yang subur bagi tindakan bullying.
ADVERTISEMENT
Faktor-faktor seperti rendahnya pendapatan, ketidaksetaraan akses pendidikan, atau perbedaan budaya dapat memicu perilaku bullying sebagai respons terhadap perbedaan tersebut.
Kesadaran akan ketidaksetaraan sosial dan upaya untuk mengatasi kesenjangan tersebut dapat berkontribusi dalam mengurangi insiden tindakan bullying.
ADVERTISEMENT
Selain itu, dalam situasi kesenjangan sosial, terkadang individu atau kelompok yang merasa rendah statusnya mungkin menggunakan bullying sebagai cara untuk mendapatkan kekuasaan atau mengatasi rasa inferioritas.
ADVERTISEMENT
Perbedaan dalam akses sumber daya, peluang, dan hak juga dapat menciptakan ketegangan, yang kemudian diekspresikan melalui perilaku bully.
Pentingnya menciptakan lingkungan inklusif, edukasi tentang diversitas, dan mendukung kesetaraan untuk mengurangi risiko tindakan bullying di masyarakat.
Kasus bullying di Indonesia telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Banyak laporan kasus bullying yang terjadi di sekolah-sekolah, baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah tinggi.
Kesenjangan ini juga dapat memperkuat pola kekuasaan yang mendukung perilaku bullying. Orang yang merasa lebih kuat secara sosial mungkin cenderung mengeksploitasi atau merendahkan mereka yang dianggap lebih lemah.
Mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan sosial dan mengedukasi Masyarakat tentang pentingnya empati dapat menjadi Langkah-langkah untuk mengurangi kesenjangan yang berkontribusi pada kasus bullying.***
Ditulis oleh: Hendro Simalango, mahasiswa Universitas Pakuan