Saturday, 24 February 2024
HomeEkonomiBukti Keberpihakan pada Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.068,7 triliun

Bukti Keberpihakan pada Ekonomi Kerakyatan, Kredit UMKM BRI Tembus Rp1.068,7 triliun

Bogordaily.net Kredit UMKM menembus angka Rp1.068,7 triliun dan menjadi salah satu bukti keberpihakan pada ekonomi kerakyatan.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau terus meningkatkan portofolio pembiayaan kepada segmen Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Hal ini dilakukan sebagai upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional. UMKM sebagai penggerak ekonomi kerakyatan merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61% dan menyerap 97% tenaga kerja di Indonesia.

Wakil Direktur Utama Catur Budi Harto mengatakan hingga akhir Desember 2023 portofolio kredit UMKM mencapai Rp1.068,7 triliun atau tumbuh 10,7% year on year. Dibandingkan dengan posisi sama tahun 2022 yakni sebesar Rp965,3 triliun.

“Artinya, dalam jangka waktu satu tahun tercatat mengucurkan kredit baru kepada UMKM sebesar Rp103,4 triliun,” ujar Catur.

Ia menjelaskan pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi. Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit UMKM industri perbankan nasional yakni sebesar 7,9% di tahun 2023.

“Ini mempertegas posisi sebagai bank yang menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM,” tambahnya.

Apabila dibandingkan dengan total portfolio kredit , kredit UMKM proporsinya mencapai 84,4%.

“Perseroan akan terus mendorong porsi kredit UMKM mencapai 85% di tahun 2025 sebagai upaya untuk mencapai visi The Most Valuable Banking Group in South East Asia and Champion of Financial Inclusion,” jelas Catur.

Program Pemberdayaan UMKM

Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto
Wakil Direktur Utama Catur Budi Harto. (Humas BRI/Bogordaily.net)

Keberhasilan BRI mengakselerasi pembiayaan kepada segmen UMKM diikuti dengan berbagai program pemberdayaan yang bertujuan mendorong pelaku UMKM naik kelas.

Seperti program Desa BRILiaN yang merupakan pemberdayaan desa. Tujuannya menghasilkan role model. Terutama dalam pengembangan desa melalui implementasi praktik kepemimpinan desa yang unggul. Dan semangat kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi desa berbasis SDG's.

Desa-desa yang tergabung dalam program Desa BRILiaN diharapkan menjadi sumber inspirasi kemajuan desa yang dapat direplikasi ke desa-desa lainnya.

Program pemberdayaan lain yang dilakukan oleh BRI yakni melalui Rumah BUMN. Rumah BUMN merupakan inisiatif dari Kementerian BUMN dan Perusahaan BUMN untuk memberdayakan ekonomi kerakyatan. Khususnya UMKM yang di dalamnya menjadi pusat literasi serta inkubasi bisnis.

Sejak pertama kali didirikan pada 2017, saat ini telah tersebar sebanyak 54 Rumah BUMN milik BRI di seluruh Indonesia.

Sejak awal terbentuk, terjadi pertumbuhan signifikan jumlah UMKM yang mendaftar dari tahun ke tahun.

Sampai per Desember 2023, sebanyak 418.588 UMKM telah terdaftar dengan 12.232 jumlah pelatihan. Jumlah ini naik 3 kali lipat dibanding 2019.

BRI juga memiliki program pemberdayaan UMKM lain yang memberikan dampak masif terhadap upaya UMKM agar go global dan go international yakni UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 

Pada UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR  2023 tercatat berhasil mencatatkan nilai penjualan business matching senilai 81,3 juta dolar AS. Atau sekitar Rp 1,26 triliun (dengan asumsi kurs Rp 15.500 per dolar AS).

Business matching tersebut dilakukan oleh 86 buyers yang berasal dari 30 negara (dari target 80 buyers dari 25 negara). Di antaranya dari Australia, Kanada, Taiwan, Australia, Singapura, Malaysia, dan UAE atau Uni Emirat Arab bersama dengan 85 peserta UMKM.

Nilai kesepakatan melalui business matching tersebut terus bertambah dari tahun ke tahun penyelenggaraan event ini.

Seperti diketahui pada 2019 nilai business matching mencapai 33,5 juta dolar AS. Naik pada 2020 menjadi 57,5 juta dolar AS. Pada 2021 kembali meningkat menjadi 72,1 juta dolar AS. Kemudian pada 2022 lalu nilainya menembus 76,7 juta dolar AS.

“Peran BRI sebagai perusahaan BUMN tidak terbatas pada fungsi financial intermediary semata. Namun, juga memiliki fungsi dalam pemberdayaan (empowerment) bagi UMKM sehingga dapat menjadi penggerak ekonomi nasional,” ujar Catur.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here