Sunday, 14 April 2024
HomeKota BogorMembedah Penyakit Kusta Bersama Dokter Ahli RSUD Kota Bogor

Membedah Penyakit Kusta Bersama Dokter Ahli RSUD Kota Bogor

Bogordaily.net terus melakukan edukasi untuk masyarakat, salah satunya mengenai sekaligus memperingati Hari Kusta Sedunia yang jatuh pada tanggal 28 Januari 2024.

Penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan yang cukup signifikan di Indonesia. Namun, disayangkan bahwa banyak orang awam masih menanggapinya seolah-olah itu adalah kutukan. 

“Kusta sebenarnya hanyalah infeksi bakteri yang menyerang kulit dan saraf tepi,” kata dokter spesialis kulit Dr. Marsita Endy Dhamayanti Sp Dv dalam podcast kesehatan di channel Youtube Daily yang dipandu oleh dr Ayutrisna Annisa.

Gejala Awal dan Diagnosis

Dr. Marsita merinci tiga tanda kardinal yang dapat membantu dalam diagnosis kusta. 

Pertama, adanya bercak mati rasa pada kulit yang bisa berwarna putih atau gelap.

Kedua, penebalan saraf yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan medis.

Dan ketiga, pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan bakteri tahan asam dari cuping telinga dan lesi kulit.

Pengobatan dan Peran Masyarakat

Dalam segmen ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pengobatan kusta sudah tersedia di Puskesmas dan rumah sakit. 

Dr. Marsita menyebutkan bahwa pengobatan bisa berlangsung antara 6 hingga 18 bulan, tergantung pada jenis kusta. 

Ia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat untuk menghilangkan stigma, sehingga pasien dapat menjalani pengobatan dengan semangat.

Kusta dan Faktor Genetik

Dr. Marsita menjelaskan bahwa kusta dapat memiliki keterlibatan genetik. Riwayat keluarga yang memiliki kasus kusta dapat meningkatkan risiko penularan. 

Meski begitu, ia menekankan bahwa penularan dapat diminimalkan dengan imunitas tubuh yang baik dan pola hidup bersih.

Penularan dan Pencegahan

Pada bagian ini, ia menjelaskan tentang bagaimana kusta dapat menular. 

Ia menyebutkan bahwa penularan dapat terjadi melalui droplet dan kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi dan menyoroti pentingnya pengobatan yang tuntas untuk mencegah penularan.

Apakah kulit yang terinfeksi kusta dapat kembali normal setelah pengobatan? 

Dr. Marsita menjelaskan bahwa sementara kulit bisa pulih, untuk kasus yang parah dengan kecacatan, prosesnya mungkin sulit. 

Namun, dukungan dan pengobatan yang terus-menerus dapat membantu mengurangi efek samping.

Bersama Lawan Kusta

Mereka menekankan perlunya merangkul dan memberikan semangat kepada para pasien kusta. 

Dan berharap agar stigma terhadap penyakit ini dapat dihapuskan, dan Indonesia dapat mencapai status bebas kusta pada tahun 2024.

Dr. Marsita menyampaikan harapan bahwa dengan edukasi dan kerjasama, kita dapat bersama-sama mengatasi tantangan untuk mencapai Indonesia bebas kusta.

Ia juga mengajak semua masyarakat untuk mendukung upaya pemerintah dan melibatkan diri dalam pergerakan ini.

Penutup

Bincang kesehatan ini memberikan pandangan mendalam tentang kusta, tidak hanya dari aspek medis tapi juga sosial.

Agar bersama-sama melangkah edukatif untuk mencapai Indonesia bebas kusta!.***

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here