Sunday, 16 June 2024
HomeOpiniOpini: Konten di Media Sosial dan Sampah

Opini: Konten di Media Sosial dan Sampah

Bogordaily.net Kini penggunaan plastik sangat melekat pada keseharian masyarakat, karena plastik dinilai lebih praktis dan ekonomis.

Di samping nilai praktis dan ekonomis dari plastik, ternyata penggunaan plastik ini menimbulkan masalah baru.

Dari yang pada awalnya digunakan untuk memberikan kemudahan bagi manusia menjadi penyebab masalah baru karena tidak diolah secara tepat.

Masyarakat menganggap membuang sampah sembarangan adalah suatu hal yang wajar dan normal, padahal pada kenyataannya membuang sampah sembarangan tidak sepatutnya untuk dinormalisasi.

Mungkin pola pikir yang ada pada masyarakat adalah hanya sedikit sampah yang ia buang secara sembarangan, tanpa terpikirkan ‘membuang sembarangan sedikit sampah' apabila dilakukan secara terus-menerus dan oleh banyak orang maka sampah tersebut akan membentuk satu gunung sampah yang tinggi.

Keberadaan sampah plastik yang berserakan dimana-mana pun sudah menjadi pemandangan yang tidak asing sejak plastik digunakan untuk membungkus makanan, minuman, produk rumah tangga dan sebagainya.

Sampah-sampah yang dibuang sembarangan banyak memunculkan masalah yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat itu sendiri.

Bencana banjir merupakan salah satu dampak yang sering terjadi karena sampah dan sudah seperti agenda tahunan apabila memasuki musim penghujan.

Selain itu, bahaya dari mikro plastik juga menjadi ancaman lain bagi ekosistem dan manusia akibat sampah karena ukurannya yang sangat kecil. Makanan dan minuman yang dikonsumsi, bahkan udara yang dihirup pun berpotensi mengandung mikro plastik yang apabila masuk ke dalam tubuh akan sangat berbahaya. Karena mikro plastik membutuhkan waktu yang sangat lama agar terurai, tidak sebanding dengan harapan hidup manusia. Mikro plastik dapat menyebabkan kanker dan tumor apabila masuk ke dalam tubuh manusia.

Oleh karena itu, masyarakat perlu disadarkan betapa pentingnya untuk menjaga kebersihan dengan bijak terhadap sampah yang dihasilkannya. Dimulai dari kesadaran diri dan konsisten menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Salah satu upaya untuk mengurangi sampah yaitu dengan menerapkan gaya hidup minim sampah.

Gaya hidup minim sampah dilakukan dengan meminimalisir jumlah sampah yang dihasilkan dari keseharian, baik itu sampah sisa makanan, limbah rumah tangga, maupun sampah anorganik lain yang sulit terurai.

Gaya hidup minim sampah ini mengharuskan masyarakat untuk menggunakan kembali barang yang sudah ia punya dan menghabiskan makanan, minuman, skincare, make up, produk-produk rumah tangga, dan sebagainya  hingga tak tersisa. Mendaur ulang sampah agar memiliki nilai guna juga dapat diterapkan untuk mengurangi sampah yang sulit terurai.

Pada awal penerapannya memang akan terasa sulit, ribet, dan mungkin bagi sebagian orang akan memalukan. Nyinyiran atau tatapan heran ketika membawa wadah sendiri ketika membeli sesuatu adalah hal yang biasa terjadi ketika berhadapan dengan masyarakat yang terbiasa menggunakan kemasan sekali pakai.

Maka dari itu perlu sekali mendapatkan dorongan dari motivasi agar bisa terus berkomitmen dalam menerapkan gaya hidup minim sampah.

Saat ini sudah banyak konten-konten di yang memberikan motivasi dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungannya. Sesimpel konten yang berisi tentang keseharian yang menerapkan gaya hidup minim sampah, sampai konten yang berisi aksi bersih-bersih sampah di sungai, pantai, dan tempat lainnya.

Semua konten tersebut mempunyai satu tujuan sama yaitu mengajak masyarakat untuk peduli akan lingkungan.

Namun tentunya tidak jarang dari konten-konten tersebut ditemukan komentar negatif dari masyarakat karena dinilai merepotkan, bertentangan dengan apa yang mereka yakini, bahkan ada pula yang menganggap mempermalukan kelompok atau institusi tertentu.

Namun di sisi lain konten-konten tersebut memberikan motivasi pada masyarakat untuk peduli dengan lingkungannya. Walaupun tidak memberikan dampak secara keseluruhan pada kehidupan masyarakat untuk mengurangi jumlah sampah, tetapi konten-konten tersebut memberikan pandangan yang secara perlahan mengubah perilaku masyarakat ke arah yang lebih positif.***

media sosial
Andiena Awaliatu Nissa. (Foto: Dok. Pribadi)

Penulis: Andiena Awaliatu Nissa

Mahasiswi Program Studi Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here