Sunday, 14 April 2024
HomeEkonomiSesKemenKopUKM Dukung Wadah GKN Kembangkan Wirausaha Berbasis Kreativitas, Inovasi, dan Teknologi Digital

SesKemenKopUKM Dukung Wadah GKN Kembangkan Wirausaha Berbasis Kreativitas, Inovasi, dan Teknologi Digital

Bogordaily.net mendukung wadah Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) dalam mengembangkan wirausaha berbasis kreativitas, inovasi, dan teknologi digital.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM () Arif Rahman Hakim berharap GKN dapat berkontribusi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kewirausahaan dan UMKM masa depan. Khususnya berbasis kreativitas, inovasi, dan teknologi digital.

“Hal itu juga untuk mempercepat pencapaian target wirausaha mencapai 4 persen hingga akhir tahun 2024 sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2022,” kata Arif Rahman Hakim saat berdialog dengan wirausaha muda dari GKN dalam acara Diskusi Pengaduan dan Serap Aspirasi Publik tentang Pengembangan Digitalisasi bagi Koperasi dan UMKM di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis, 28 Maret 2024.

berharap di usia 13 tahun, GKN bisa terus berkembang sebagai organisasi yang mewadahi kepentingan anggotanya yang saat ini sudah mencapai lebih dari 10 ribu pelaku UMKM.

“Sebagai wadah pelaku usaha, GKN harus selalu berinovasi, sehingga usaha para anggota bisa lebih maju lagi,” kata Arif.

Terlebih menurut Arif, saat ini banyak peluang yang bisa ditangkap GKN. Salah satunya, dari kebijakan 40 persen belanja pemerintah (pusat, daerah, BUMN, dan BUMD) yang menyasar produk dalam negeri, yakni UMKM melalui e-Katalog.

Arif Rahman Hakim berdialog dengan wirausaha muda dari GKN dalam Diskusi Pengaduan dan Serap Aspirasi Publik tentang Pengembangan Digitalisasi bagi Koperasi dan UMKM di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Kamis, 28 Maret 2024.(Foto: Dok. KemenKopUKM)

“Para anggota GKN harus membedah apa saja kebutuhan belanja pemerintah tersebut. Sehingga, tergambar item-item produk apa saja yang bisa digarap GKN,” jelas .

Untuk itu, ia mendorong wirausaha GKN meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.

“Ini menjadi tugas dari GKN untuk melakukan pendampingan dalam peningkatan kapasitas usaha pelaku UMKM,” kata .

Dalam hal ini, GKN bisa memberikan pelatihan kepada anggota yang belum memahami cara mengakses e-Katalog, memahami proses biding, sampai membuat proposal perencanaan bisnis.

“Lebih dari itu, GKN bisa mendorong anggotanya agar bisa masuk rantai pasok industri, baik nasional maupun global,” kata Arif.

Arif mewanti-wanti GKN agar memilih produk yang tepat yang akan dijadikan sebagai produk unggulan daerah.

“Produk yang dibutuhkan pasar, dan bisa memenuhi kebutuhan reguler masyarakat. Idealnya, yang memiliki usaha sejenis agar bergabung dalam mengembangkan produk unggulan. Sehingga, sesama anggota GKN tidak akan saling mematikan,” imbuh .

Bagi Arif, untuk menghadapi tantangan dan peluang di dunia digital, UMKM penting untuk memiliki pemahaman yang baik tentang literasi digital. Agar dapat berpartisipasi secara aktif dan merasakan manfaat langsung dari kemajuan teknologi digital.

Kepala Biro Komunikasi dan Teknologi Informasi KemenKopUKM Budi Mustopo menambahkan, keberadaan GKN harus memberikan manfaat besar bagi seluruh anggota, terutama dalam pengembangan kinerja usahanya.

“Karena, eksistensi sebuah organisasi atau asosiasi bisnis itu diukur dari semakin besarnya manfaat yang dirasakan oleh seluruh anggota,” kata Budi.

Budi berharap GKN mampu memfasilitasi seluruh kepentingan dan kebutuhan anggotanya dalam mengembangkan kapasitas usaha hingga pemasaran produknya. Contoh seperti di Korea Selatan, yang mana ada asosiasi bisnis yang mampu melayani kebutuhan usaha para anggotanya dari A sampai Z.

“GKN harus mampu memfasilitasi kebutuhan akan temu bisnis atau business matching, atau layanan bisnis lainnya. GKN harus mengacu ke arah sana,” kata Budi.

Budi juga melihat peran lain yang bisa dilakukan GKN. Seperti pengembangan konsep dan model bisnis yang dapat diterapkan pada anggota GKN.

“Di sini pentingnya memanfaatkan teknologi digital dalam pengembangan kewirausahaan di Indonesia,” kata Budi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) Indonesia Awang Dody Kardeli menjelaskan, sejak terbentuk pada 2011, GKN terus berupaya menyebarkan virus kewirausahaan. Khususnya bagi kalangan generasi muda dan mahasiswa.

“Gaung kewirausahaan akan terus didengungkan sampai sekarang ke seluruh Indonesia,” kata Awang.

Awang menyebut, GKN akan terus meningkatkan pelayanan dan pendampingan bagi pengembangan kualitas produk dan daya saing UMKM.

Sejumlah program yang masih berjalan dan akan terus dilanjutkan adalah terkait kelas kemasan, PIRT, legalitas usaha, perluasan pasar, hingga business matching.

“Kami akan terus berkolaborasi dengan seluruh stakeholder untuk membentuk ekosistem UMKM dan kewirausahaan yang kuat,” kata Awang.

Dengan begitu, ia meyakini organisasi yang dipimpinnya itu semakin matang dan kuat, baik dari sisi kelembagaan maupun SDM.

“Ke depan, kami akan terus mengawal program pengembangan kewirausahaan dari KemenkopUKM,” ujar Awang.

Awang merujuk kiprah GKN Subang yang terus melakukan pembinaan dan pendampingan bagi para mantan TKI dan TKW.

“Mereka kami dampingi untuk menjadi wirausaha mandiri dan tangguh,” kata Awang.

Naik Kelas

Salah satu narasumber diskusi tersebut, Direktur Lapenkop Dekopin Arifuddin menekankan, pengembangan bisnis saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi digital.

“Untuk naik kelas, koperasi dan pelaku UMKM harus sudah berbasis teknologi digital. “Pelaku usaha harus sudah bertransformasi digital dan memanfaatkan inovasi teknologi,” kata Arifuddin.

Selain itu, Arifuddin menyebutkan bahwa wirausaha muda harus juga melakukan transformasi usaha dari informal ke formal.

“Termasuk transformasi dalam rantai pasok industri atau rantai nilai global,” kata Arifuddin.

Maka, bagi Arifuddin, idealnya adalah koperasi modern itu anggota berisikan para pelaku UMKM. Sehingga, mereka akan lebih mudah untuk naik kelas.

“Karena dengan berkoperasi, mereka akan terhubung dengan offtaker, memperbesar peluang adopsi teknologi dan inovasi. Memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan tata kelola manajemen semakin profesional, hingga bisa berbasis ekosistem,” jelas Arifuddin.

Senior Expert HR Consultant Qothrun Nada juga menekankan pentingnya pengembangan SDM untuk meningkatkan kapasitas bisnis UMKM.

“Setidaknya, ada lima tantangan UMKM saat ini, yaitu faktor finansial atau modal, digitalisasi, SDM, regulasi, dan marketing,” kata Qothrun.

Tantangan inilah yang harus dicarikan solusi yang paling yang efektif untuk mendorong wirausaha muda semakin mampu mengembangkan bisnisnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here