Bogordaily.net – Ada sesuatu yang selalu terasa menenangkan saat mengunjungi galeri seni. Mungkin karena ruangannya yang sunyi, mungkin juga karena setiap karya seni seperti berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti jika kita benar-benar memperhatikannya. Kemarin, saya memutuskan untuk meluangkan waktu sejenak dari kesibukan dan mengunjungi Museum Toeti Heraty di Jakarta.
ADVERTISEMENT
Perjalanan dimulai dari Bogor, tempat saya naik KRL menuju Stasiun Gondangdia. Perjalanan dengan KRL selalu membawa nuansa tersendiri, melihat berbagai orang berlalu-lalang dengan tujuan mereka masing-masing.
Setibanya di Stasiun Gondangdia, saya melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit menuju museum yang terletak di Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-11, Menteng, Jakarta Pusat. Kawasan Menteng sendiri memiliki atmosfer yang berbeda jalanannya rapi, bangunan-bangunan tua berdiri dengan elegan, dan suasana sekeliling terasa tenang meski masih berada di tengah ibu kota.
ADVERTISEMENT
Museum Toeti Heraty, yang juga dikenal sebagai Cemara 6 Galeri-Museum, didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N Roosseno pada tahun 1993. Awalnya merupakan rumah pribadi, museum ini kini berfungsi sebagai ruang pameran seni yang menampilkan berbagai karya lukisan, patung, dan instalasi seni.
ADVERTISEMENT
Suasananya hangat dan intim, jauh dari kesan formal seperti museum besar lainnya. Ada perasaan nyaman yang muncul begitu saya memasuki area museum, seolah-olah saya sedang berkunjung ke rumah seseorang yang sangat mencintai seni.
Di bagian depan, terdapat taman kecil yang asri dengan kolam ikan yang membuat suasana semakin tenang. Saya melangkah masuk ke ruang pamer utama yang memajang koleksi pribadi Prof. Dr. Toeti Heraty, termasuk karya-karya dari seniman ternama seperti Salim dan Mochtar Apin. Beberapa lukisan menggambarkan potret manusia dengan ekspresi mendalam, sementara yang lain menyajikan komposisi abstrak yang penuh warna.
Selain ruang pamer utama, terdapat juga ruang belakang yang sering digunakan untuk berbagai acara diskusi seni, pertunjukan puisi, dan presentasi video art. Ruang ini terasa lebih dinamis dibandingkan dengan ruang pamer utama, mencerminkan bagaimana museum ini bukan sekadar tempat menyimpan karya seni, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi komunitas seni dan budaya.
Harga tiket masuk ke museum ini cukup terjangkau, Rp. 35.000 Untuk umum dan Rp. 25.000 Untuk pelajar dan mahasiswa. Museum ini buka dari Selasa hingga Sabtu, mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB.
Selain menikmati koleksi seni, pengunjung juga bisa bersantai di kafe kecil yang berada di dalam area museum, atau membeli beberapa suvenir bertema seni di toko yang tersedia.
Ketika mengunjungi tempat seperti ini, saya selalu merasa lebih terhubung dengan diri sendiri. Ada sesuatu tentang galeri seni yang membawa saya kembali ke inti dari siapa saya sebenarnya.
Seseorang yang menikmati seni bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi juga sebagai sesuatu yang dirasakan. Duduk di bangku yang menghadap salah satu lukisan, saya membiarkan diri tenggelam dalam pikiran saya sendiri, mencoba memahami cerita yang ingin disampaikan oleh para seniman.
Selama beberapa jam di museum ini, saya merasa seolah-olah dunia luar menghilang. Tidak ada kebisingan lalu lintas, tidak ada notifikasi ponsel yang terus-menerus berbunyi, hanya ada saya dan karya seni di hadapan saya.
Ini adalah pengalaman yang jarang bisa ditemukan di tempat lain, dan itulah yang membuat saya selalu kembali ke galeri seni setiap kali merasa perlu melarikan diri sejenak dari kesibukan.
Sebelum pulang, saya sempat berbincang sebentar dengan salah satu staf museum. Dari obrolan itu, saya mengetahui bahwa Museum Toeti Heraty juga sering menjadi tempat bagi pameran seni temporer, di mana seniman-seniman muda mendapatkan kesempatan untuk memamerkan karya mereka.
Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan seni, tetapi juga sebagai ruang bagi seniman untuk berkembang.
Saat keluar dari museum dan kembali berjalan menuju stasiun, saya merasa lebih fresh, lebih tenang. Seperti ada bagian dari diri saya yang kembali utuh setelah menghabiskan waktu di sana.
Kunjungan ke museum ini mengingatkan saya bahwa di tengah segala hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada tempat untuk berhenti sejenak, mengamati, dan menemukan kembali diri sendiri melalui seni.
Bagi siapa pun yang mencari tempat untuk beristirahat sejenak dari kesibukan kota, Museum Toeti Heraty bisa menjadi pilihan yang sempurna. Atmosfernya yang nyaman, koleksi seninya yang menarik, serta komunitas seni yang hidup di dalamnya menjadikan museum ini lebih dari sekadar tempat pameran ia adalah ruang untuk refleksi, inspirasi, dan apresiasi terhadap seni yang sesungguhnya.***
Maudyandra Chairunnisa | Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB