ADVERTISEMENT

Thursday, 3 April 2025
HomeBeritaPengaruh Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan dan Pekerjaan di Indonesia: Antara...

Pengaruh Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pendidikan dan Pekerjaan di Indonesia: Antara Peluang dan Tantangan

Bogordaily.net – Memasuki tahun 2025, salah satu isu yang sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, adalah revolusi yang dibawa oleh teknologi kecerdasan buatan (AI). Dari sektor pendidikan hingga dunia kerja, kehadiran AI dihadapkan pada pro dan kontra yang intens.

ADVERTISEMENT

Di satu sisi, AI menawarkan efisiensi yang luar biasa dan potensi besar untuk meningkatkan produktivitas, tetapi di sisi lain, ada kekhawatiran tentang dampaknya terhadap pekerjaan manusia, serta perubahan besar yang harus dihadapi oleh sistem pendidikan kita.

Dalam konteks ini, bagaimana kita menyikapi kemajuan teknologi ini dengan bijak, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh semua pihak tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan?

ADVERTISEMENT

Kecerdasan buatan kini telah mulai merambah dunia pendidikan, menawarkan berbagai solusi baru yang dapat mempercepat proses belajar mengajar. Dari alat pembelajaran berbasis AI yang dapat disesuaikan dengan gaya belajar siswa, hingga platform ujian otomatis yang dapat memberikan umpan balik secara real-time, teknologi ini memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan efisien.

ADVERTISEMENT

Di Indonesia, beberapa sekolah dan universitas telah mulai mengintegrasikan AI dalam kurikulum mereka, memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan mempercepat akses mereka ke materi pembelajaran yang lebih beragam.

Namun, perdebatan muncul mengenai apakah penggunaan AI dapat menggantikan peran pengajar manusia. Sebagian pihak khawatir bahwa penggunaan AI dalam pendidikan dapat mengurangi interaksi manusia yang esensial dalam proses belajar.

Bagi banyak pihak, pendidikan bukan hanya soal menguasai materi, tetapi juga tentang membangun karakter dan empati, yang tentu saja tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin. Selain itu, ada juga isu terkait kesenjangan akses teknologi antara sekolah-sekolah di kota besar dan daerah terpencil yang dapat memperlebar ketimpangan dalam kualitas pendidikan di Indonesia.

Selain pendidikan, salah satu bidang yang terpengaruh besar oleh kehadiran AI adalah dunia kerja. Pada Januari 2025, wacana tentang “otomatisasi pekerjaan” semakin berkembang, mengingat kemajuan pesat dalam teknologi AI yang dapat menggantikan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia.

Sektor-sektor seperti manufaktur, transportasi, bahkan layanan pelanggan, kini mulai menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional. Hal ini tentu membuka peluang baru, seperti pekerjaan di bidang pengembangan dan pemeliharaan teknologi AI itu sendiri.

Namun, dampak otomatisasi terhadap lapangan pekerjaan menjadi topik perdebatan yang tak kalah hangat. Banyak yang khawatir bahwa banyak pekerjaan yang akan hilang atau tergantikan oleh mesin, terutama di sektor-sektor yang padat karya.

Di Indonesia, yang masih menghadapi tantangan besar dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan, otomatisasi berpotensi memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang mendukung pelatihan keterampilan baru bagi tenaga kerja yang terdampak.

Pemerintah dan sektor swasta perlu berkolaborasi untuk merancang kebijakan yang memastikan bahwa transisi ke dunia kerja yang lebih berteknologi tinggi dapat berjalan dengan mulus.

Pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan digital harus ditingkatkan agar tenaga kerja Indonesia siap bersaing dalam era otomatisasi ini, serta untuk mengurangi dampak negatif dari hilangnya pekerjaan yang diakibatkan oleh AI.

Teknologi AI membawa serta berbagai peluang dan tantangan yang besar, baik dalam dunia pendidikan maupun dunia kerja.

Di satu sisi, AI dapat mempercepat proses pembelajaran dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai sektor, namun di sisi lain, kecanggihan teknologi ini juga menimbulkan kekhawatiran akan pengurangan lapangan pekerjaan dan kesenjangan akses pendidikan.

Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk menyikapi perkembangan ini dengan bijak. Peran pemerintah dalam memastikan adanya kebijakan yang berpihak pada masyarakat, serta investasi dalam pelatihan keterampilan digital, akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memanfaatkan potensi AI tanpa merugikan aspek sosial dan ekonomi. Teknologi harus digunakan untuk memberdayakan manusia, bukan untuk menggantikannya.***

 

Nazwa Nayla Allaysyaa (Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here