Oleh: Irenne Grace Sahatmaida Sibatuara (J0401231192), Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB
Jam satu subuh lewat empat puluh menit, notifikasi handphone saya berbunyi. Rafilza, teman baik saya di kuliah, mengirimkan pesan berisi harga tiket one day trip kawah ratu.
Murah, hanya Rp120.000 tapi sudah dapat Tiket Simaksi, Tiket Canar, Coffee, Makan siang & Snack, Gas Port, Leaflet, Refill Air Minum, Guide, dan Kebersihan.
Pertamanya saya tidak tertarik karena saya tidak pernah memiliki pengalaman tracking, disisi lain, ibu saya yang mudah khawatir terhadap keselamatan anak nya pasti tidak akan mengizinkan saya.
Selang beberapa hari, Rafilza mengirimkan kembali broadcast yang sama, ia menanyakan ulang apakah ada yang mau ikut atau tidak karena pendaftarannya sudah mau ditutup.
Ia sedikit memaksa setidaknya 1-3 orang di geng kami ikut trip ini agar ia bisa mendapatkan sponsorship dari penyedia trip ini.
“Eh ini ada yang mau ikut lagi gak, ayo napa ikut bantuin gw, gw lagi nyari sponsor nih, ada target yang harus dipenuhi” ujarnya dalam beberapa bubble chat.
Melihat kondisinya yang butuh bantuan dan kondisi saya yang sedang sakit hati karena baru saja putus cinta membuat saya berpikir, apakah ini saat yang tepat untuk mencoba hal yang baru?
Saya mulai menanyakan beberapa hal kepada Rafilza, yang kemudian ia mengarahkan untuk menanyakannya saja secara langsung kepada kontak yang tertera. Saya pun segera menghubungi pihak terkait.
Setelah berbincang dan merasa cocok, ia menanyakan apakah saya mahasiswa dari Fakultas Sekolah Vokasi IPB. Sontak saya menjawab “Iya kak, saya anak komunikasi angkatan 60” lalu ia menjawab “Kalau anak Vokasi bisa dapet diskon nih, ajak lagi ya temen-temennya”.
Saya agak kaget karena pihak penyelenggara ini merupakan kakak tingkat saya, bahkan kami berasal dari jurusan yang sama.
Pada akhirnya, h-5 keberangkatan, saya menerima ajakan tersebut dan untungnya mengantongi izin dari mama saya, setelah dua hari mencoba meyakini beliau – padahal saya sudah hampir nekat.
Saya langsung membayar uang pendaftaran dan tak lama dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sebagai tempat untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan rombongan yang jumlahnya 8 orang itu.
Empat orang dari tim penyelenggara, saya, Rafilza, dan dua orang teman seangkatan yang sampai sekarang hanya saya ingat wajah dan bukan namanya.
Tak lama terdengar beberapa notifikasi masuk, ternyata admin mengirimkan peraturan yang perlu kami taati selama tracking nanti beserta list barang bawaan. Setelah pesan itu sampai, mulailah kami bertanya mengenai informasi lainnya.
Selain pertanyaan, muncul juga perasaan tidak sabar agar trip ini segera dilaksanakan.
Fast forward ke h-1 keberangkatan, saya menghubungi Rafilza dan menanyakan apa yang dia bawa.
Maklum, ini kali pertama saya tracking, jadi saya mau samaan dengan Rafilza agar merasa aman.
Kali pertama tracking dan saya sudah telat untuk berkumpul, seharusnya jam 7 teng saya sudah berapa di kampus, tapi karena begadang meratapi hubungan yang terpaksa selesai membuat saya sampai kesiangan.
Akhirnya saya minta jumpa tengah saja untuk mempersingkat waktu, lebih tepatnya halte sebelum lampu merah Yasmin, Bogor.
Setelah bertemu, kami langsung menancapkan gas motor kami. Selama perjalanan, saya berbincang dengan rafilza yang sudah pindah motor setelah kami jumpa tengah tadi.
“Ge, liat tangan gw dah” panggil Rafilza kepada saya yang sedang fokus mengemudi. “Kenapa emang?”, ucap saya sambil mencoba melihat tangannya yang dibalut beberapa handsaplas.
“Digigit kucing kaka gw kemarin malam” ucapnya sambil tersenyum bangga. Saya sampai tidak bisa berkata-kata, sebentar lagi kita akan berada di alam liar, sekali lagi, alam liar dan bisa-bisanya dia memaksakan keadaannya untuk sebuah sponsor, tapi yang namanya musibah tidak ada yang tahu kapan datang.
Jadi saya hanya bisa merespon dengan menyuruhnya untuk sangat berhati-hati. Setelah setengah jam berjalan, kami sudah mulai masuk ke dalam pemukiman warga.
Saya sendiri tidak tahu semua nama daerah yang kami lewati karena saya hanya mengikuti motor yang berada di depan saya. Jika ia berbelok ke kiri, saya ikut. Jika ia berbelok ke kanan, saya ikut, dan saat mereka berhenti karena salah satu rombongan kami perlu ke toilet juga saya ikut berhenti.
Angin yang menyentuh kulit kami terasa semakin dingin, medan yang kami lalui juga mulai menanjak dan berkelok, menandakan bahwa kami sudah masuk ke area gunung.
Setelah satu setengah jam dari tempat kami kumpul tengah tadi, akhirnya sampai juga di pos masuk. Kami disuruh berhenti dan membayar.
Setidaknya itu yang saya analisis karena kami disuruh berhenti dan seperti tidak diperbolehkan untuk masuk, entah karena alasan apa.
Tak lama kami dipersilahkan masuk dan kemudian rombongan kami bertambah 1 orang, sekarang kami bersembilan.
Ia bergabung di pos yang tadi untuk memandu kami masuk ke tempat yang lebih tinggi lagi. Perjalanan sempat terhenti sebentar karena kami ingin melihat burung elang yang sedang terbang masuk ke arah jalan yang kami ingin lalui juga.
Setelah sepuluh menit lainnya berlalu, akhirnya kami sampai di tempat penitipan motor, kami segera berkumpul dan mendapatkan pengarahan.
Saat mulai menanjak kami diberikan ucapan selamat datang oleh palang yang dibuat seadanya dari bambu yang diikat dengan beberapa tali berserat.
Untuk perjalanan awal ini, masih mudah untuk dijalani, saya rasa ini karena energi kami yang masih penuh dan jalan yang rapi susunan batunya. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya kami mencapai tempat bertuliskan “Camp Canar”.
Kami diarahkan untuk beristirahat sambil memakan snack. Kami menunggu cukup lama, sekitar satu jam.
Saya menanyakan mengapa kami harus menunggu terlebih dahulu, ternyata kami harus menunggu 3 orang lainnya, yaitu navigator, swiper, dan logistik untuk trip ini.
Setelah mereka bertiga datang, perjalanan di mulai. Jam 11 siang, kami meninggalkan Camp Canar sambil dipandu oleh Ka Wisnu sebagai Navigator.
Selama perjalanan menanjak kami banyak berbincang, namun karena saya berada di barisan belakang, saya kebanyakan berbicara dengan swiper dan logistik, ka Danang dan Ka Talia.
Saya menanyakan banyak hal saat perjalanan, dan dengan baik mereka selalu menjawab. Setelah setengah jam berlalu akhirnya kami sampai juga di pos satu. Senang sekali rasanya menyampai pos satu, kami berhenti sejenak untuk berswafoto.
Di track menuju ke pos satu tidak ada yang spesial menurut saya. Jalannya masih berbatu dan belum ada medan yang sulit, namun ada kejadian unik yaitu salah satu orang tadi rombongan kami terjatuh karena tidak berhati hati.
Alih-alih langsung menolong, kami tertawa dulu sebentar karena dari awal menanjak, sudah kami peringati berulang kali agar tidak pecicilan. Kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos dua.
Medan kali ini terasa lebih sulit dan menantang. Kami di dengan jalanan yang mulai licin, sayangnya saya menggunakan sepatu olahraga, bukan sepatu gunung seperti yang disarankan. Hal ini membuat saya hampir jatuh beberapa kali.
Namun, berbekal dahan pohon yang lumayan kokoh saya berhasil tidak jatuh. Kami melewati beberapa kubangan air, ada yang tingginya kurang semata kaki sehingga kami perlu memasukkan beberapa dahan pohon agar sepatu kami tidak tenggelam, tapi ada yang hanya genangan air biasa.
Para crew biasanya akan membantu kami untuk melewati medan tersebut dengan memegang tangan kami, biasanya mereka akan melalui medan yang sulit terlebih dahulu lalu untuk memastikan keselamatan kami.
Sangat aman rasanya diperlakukan seperti itu, saya yang tengah patah hati ini jadi melamun. Saya berpikir dan berkata kepada diri sendiri bahwasanya tidak akan mau mempunyai kekasih yang mempunyai side job open trip seperti ini. Karena nanti dia akan melakukan kontak fisik dengan orang lain.
Membayangkannya membuat saya menjadi sedikit melow dan kesal. Tapi saya rasa itu berlebihan, lagi pula apa yang akan mereka lakukan, bukan? Saya segera kembali fokus dan memandangi keadaan sekitar.
Trip kali ini saya harus fokus kepada diri sendiri, bukan percintaan. Setelah sekitar 40 menit di jalan, akhirnya kami sampai di post dua, sama seperti di pos sebelumnya, kami kembali mengambil swafoto.
Tak terasa kami sudah berjalan selama lebih dari satu jam, nonstop. Lelah mulai mengejar, akhirnya setelah 20 menit berjalan dari pos, kami memutuskan untuk berhenti untuk mengisi tenaga.
Persis di samping kami ada sungai kecil dengan deras arus yang agak tinggi, sungainya agak bertingkat sehigga kita dapat melihat seperti air terjun berukuran sangat mini, mungkin tinggi dataran satu ke lainnya hanya sekitar 1 meter.
Kami melanjutkan perjalanan sambil diberikan edukasi oleh pemandu kami mengenai berbagai flora dan fauna yang kamu temui sampai tiba-tiba ada orang yang berjalan dengan sangat cepat bahkan sedikit berlari ke arah kami.
“Akhirnya sampai juga” ucap Ka Danang (Swiper yang posisinya paling belakang). Orang Tersebut langsung menuju ke Ka Wisnu yang berada di paling depan, layaknya seorang navigator.
Perhatian pun diberhentikan sebentar untuk menyambutnya dan beristirahat sejenak. Orang tersebut memperkenalkan dirinya, namanya Eben dan merupakan alumni dari program studi ekowisata, seharusnya ia yang memandu acara ini namun ternyata dia tidak dapat datang tepat waktu.
Saya adalah penikmat suara-suara alam, salah satunya suara air mengalir, ini untuk membantu saya relax saat saya merasa cemas.
Kesukaan saya terhadap suara air ini membuat istirahat kali ini menjadi sangat menyenangkan.
Saat istirahat ini, kami berjumpa dengan beberapa pendaki lain, ada satu rombongan yang menyita perhatian saya, mereka menyapa kami dengan “semangat-semangat, bentar lagi sampe.”
Sontak kami tertawa dan menjawab salam mereka dengan mengucapkan hati-hati. Kami segera melanjutkan perjalanan kami menuju puncak. Medan yang sekarang, lebih rumit lagi.
Kami harus agak memanjatkan kaki kami diantara beberapa akar pohon, kami juga perlu melangkahi beberapa dahan pohon besar yang tumbang, namun semuanya kami lalui bukan dengan ketakutan. Kami semua malah merasa semakin tertantang dan bersemangat.
Menuju pos ketiga ini, pakaian kami para pendaki pemula mulai terlihat semakin kotor dan basah karena lumpur keringat, namun hal ini bukan lah menjadi penghambat.
Kami juga menemukan feses babi hutan yang didalamnya terdapat beberapa bagian tubuh hewan lain, seperti kuku. Kata ka Eben, kalau speerti ini artinya kita harus berdoa agar tidak bertemu dengan babi hutan tersebut, tapi menurut pernyataannya kami juga tidak akan berpapasan karena pasti babi hutan tersebut akan masuk ke dalam hutan dan menjauhi manusia.
Kami melanjutkan perjalanan kami, setelah sekitar 30 menit kami berjalan, kami sudah sampai di post tiga, namin disini kami sudah tidak melanjutkan tradisi swafoto kami lagi, karena medan yang kami memang semakin sulit, kalau tadi kami seakan naik terus, kali ini kami naik-turun.
Ada beberapa medan juga yang perlu kami lompati bahkan ada yang mengharuskan sepatu kami terendam aliran air. Walaupun kaki rasanya aneh, dingin dan segarnya air tersebut membuat saya ingin membenamkan kaki selama mungkin.
Setelah postiga, saya mulai benar-benar tidak memperdulikan berapa lama kami berjalan karena selama perjalanan kami kerap diberikan dukungan mental seperti “ayo semangat diatas ada indomaret” atau “ayo semangat, itu puncaknya sebentar lagi” akhirnya terpatri di pikiran saya bahwa memang sebentar lagi sampai, walaupun sebenarnya ini benar-benar omong kosong, dari pos 3 kami harus berjalan sekitar 30 menit lagi untuk bisa melihat asap-asap panas dari kawah ratu tersebut.
Akhirnya kami sampai di “Titik Kumpul” Begitulah tertulis di palang yang kami baca. Akhirnya kami sampai di Kawah Ratu yang kami tuju itu.
Di atas kami tidak terlalu lama, mungkin hanya sekitar 20 atau 30 menit karena waktu sudah menunjukkan waktu hampir jam 3 sore, sehingga kami harus turun.Diatas kami hanya berfoto di tulisan kawah ratu dan tinggi mdplny, melihat air di kawah ratu yang mendidih, serta membersihkan sepatu di sungai yang mengalir karena semua isi sepatu saya adalah lumpur dengan campuran kerikil.
Saya melihat ada anak kecil disana, hal ini membuat saya sangat kagum karena keberaniannya.
Menurut ka Wisnu, dulu banyak orang yang sengaja membawa telur mentah untuk nantinya direbus di kawah kecil yang berisi air mendidih bersumber dari kawah. Namun, hal ini sudah dilarang karena dapat membahayakan pengunjung.
Setelah sudah puas menikmati kawah ratu, kami akhirnya pulang dan saat perjalanan pulang benar-benar tidak ada yang spesial atau yang berkesan. Hanya satu, yaitu salah satu kakak tingkat saya ada yang jatuh karena tidak menggunakan sepatu yang proper dan terpeleset saat mencoba melewati kubangan lumpur.
Hal ini membuat kakinya sangat sakit dan ia menahan kesakitan sampai kami tiba kembali di Camp Canar.
Setelah sampai kami buru-buru mengganti baju dan makan. Setelah sudah siap, kami kembali turun untuk ke tempat parkiran motor. Kakak tingkat yang tadi terjatuh, menyatakan tidak sanggup untuk membaca motor, sehingga formasi duduk kami harus diubah.
Selain daripada itu, Rafilza, teman saya berangkat, akan kembali ke kota. Sedangkan saya akan kembali ke cibinong. Kebetulan dia rumahnya di sentul, jadi masih setidaknya searah dengan saya. Selama di perjalanan, saya hanya berpikir untuk cepat-cepat sampai rumah dan tidur.
Selama di perjalanan, saya hanya sedikit mengobrol dengannya. Setelah melewati pertigaan Yasmin, ia menepuk pundak saya mengatakan bahwa ia akan turun di halte bus depan tugu anti Narkoba. Ia berkata bahwa ia akan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil online.
Saya yang memang kecapean, langsung mengiyakan permintaannya tersebut. Saya melanjutkan perjalanan kurang lebih 30 menit dari saya menurunkan kak itu. Sesampainya di rumah saya langsung menyalam ibu saya yang ternyata menunggu kepulangan saya.
Saya langusng masuk ke dalam kamar untuk membersihkan semua hal. Setelah mandi, ternyata saya sudah tidak punya tenaga untuk membereskan tas dan sepatu saya yang kotor.
Akhirnya saya tertidur pulas dan bangun di kemudian hari dengan kondisi kaki yang terasa pegal. Sekian cerita perjalanan saya ke kawah ratu yang diinisiasi karena perasaan sakit hati setelah putus cinta dan keinginan saya untuk fokus kepada diri sendiri serta cara saya membantu teman agar beliau dapat mendapatkan uang sponsorship untuk projek yang sedang dikerjakannya.***