Bogordaily.net – Pada awal bulan Februari lalu terdapat sebuah boygroup K-pop SEVENTEEN yang akan menyelenggarakan konsernya di Jakarta International Stadium (JIS) tanggal 8 sampai 9 Februari 2025. Sebelum konser diselenggarakan, para penggemar harus menukarkan tiketnya terlebih dahulu namun selama penukaran tiket berlangsung terjadi kericuhan. Penukaran tiket ini dijadwalkan berlangsung di Fun Atrium, Lotte Mall Kuningan dari tanggal 4 hingga 7 Februari 2025 namun lokasi penukaran tiket dianggap para fans tidak strategis dan menimbulkan permasalahan. Masalah ini tidak hanya berdampak pada pengalaman penonton tetapi juga mencoreng citra promotor, Mecima Pro.
ADVERTISEMENT
Kericuhan Penukaran Tiket
Kericuhan yang terjadi saat penukaran tiker konser bukanlah hal baru dalam industri hiburan namun kasus yang terjadi pada konser SEVENTEEN ini menjadi sorotan besar.
Salah satu yang menjadi permasalahan utama adalah lokasi yang terlalu jauh dari lokasi konser diadakan serta ribuan penggemar harus mengantre untuk bisa mendapatkan tiket yang mereka beli.
ADVERTISEMENT
Bahkan selama penukaran tiket berlangsung antrean panjang terjadi dan beberapa penggemar mengatakan harus menunggu selama kurang lebih delapan jam. Berdasarkan pernyataan penggemar dengan username @yongke, ia mengungkapkan “Salah satu kenalan aku sudah antre dari 10.40 pagi dan baru mendapatkan tiketnya pada jam 18.00 sore ini.”
ADVERTISEMENT
Banyak penggemar SEVENTEEN atau yang biasa disapa CARAT mengeluhkan apa yang dirasakan selama proses penukaran tiket berlangsung.
Di antaranya melaporkan harus menunggu dengan waktu yang cukup lama dengan fasilitas yang kurang memadai. Ada pula CARAT yang mengalami kecelakaan akibat terlindas mobil saat mengantre di parkiran basement.
Peristiwa yang terjadi menimbulkan sikap geram CARAT terhadap promotor konser SEVENTEEN yaitu Mecima Pro.
Beberapa penggemar berkeluh kesah terkait penyaluran informasi yang minim dari pihak promotor dan ketidakjelasan jadwal serta petunjuk di lokasi penukaran tiket.
Selain itu, staff crowd control yang berjaga juga terbilang minim tidak sebanding dengan massa yang ada.
Dampak Citra Mecima Pro dan Loyalitas Penggemar
Dalam hal ini, promotor Mecima Pro belum mengimplentasikan sistem pengelolaan massa yang efektif padahal keberhasilan dan kepuasan penggemar atau pengguna jasa pembelian tiket konser ini bisa dilihat dari kemampuan manajemen crowd control yang baik (Purwantari, 2023).
Kericuhan ini berdampak negatif terhadap reputasi Mecima Pro sebagai promotor acara. Dalam hitungan jam, keluhan membanjiri media sosial, dengan tagar seperti #MecimaProGagal menjadi trending.
Para penggemar menyoroti kurangnya perencanaan, pemilihan lokasi yang kurang memadai, dan komunikasi yang tidak transparan dari pihak promotor.
Dampak dari komunikasi yang buruk ini sangat signifikan dalam dunia hiburan. Menurut Studi Komunikasi Krisis dari IBI Kesatuan (2023), perusahaan yang gagal menangani krisis dengan baik dapat kehilangan kepercayaan konsumen secara drastis.
Loyalitas pelanggan dalam industri hiburan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, dan kekecewaan yang dialami penggemar SEVENTEEN berpotensi mengurangi partisipasi mereka dalam konser yang diselenggarakan oleh promotor yang sama di masa depan.
Tanggapan dan Langkah Perbaikan oleh Promotor
Menyadari tingginya kritik yang dilayangkan, Mecima Pro segera merilis permintaan maaf resmi dan menyatakan bahwa mereka akan melakukan evaluasi mendalam.
Selain itu, pihak Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) juga memanggil Mecima Pro untuk bisa menjelaskan apa yang telah terjadi dalam proses penukaran tiket konser SEVENTEEN.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas langkah-langkah yang akan diambil untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan konsumen di acara mendatang.
Kemudian, Mecima Pro berkomitmen untuk mengevaluasi prosedur operasional mereka, termasuk pemilihan lokasi penukaran tiket dan manajemen antrean, untuk meningkatkan pengalaman penggemar di acara-acara selanjutnya.
Evaluasi dan Pembelajaran
Kekacauan dalam penukaran tiket konser SEVENTEEN menjadi pelajaran penting bagi promotor acara hiburan. Kejadian ini menegaskan pentingnya perencanaan yang matang, komunikasi yang jelas, dan respons cepat terhadap masalah yang muncul.
Selain itu, transparansi dalam penyampaian informasi kepada publik dapat membantu mencegah ketidakpercayaan di kalangan konsumen.
Dengan berkembangnya digitalisasi, penyelenggara konser harus mulai mempertimbangkan solusi berbasis teknologi, seperti e-ticketing dengan QR code dan sistem penjadwalan antrean berbasis aplikasi.
Penggunaan sistem e-ticketing dengan fitur penjadwalan terbukti dapat mengurangi kepadatan dan meningkatkan pengalaman pengguna. (Wahyudi 2020)
Kesimpulan
Kericuhan dalam penukaran tiket konser SEVENTEEN menunjukkan betapa pentingnya manajemen transparansi dan komunikasi di era digital.
Kesalahan yang dilakukan promotor menjadi pengingat bahwa pengelolaan acara yang buruk dapat berdampak besar terhadap citra brand dan loyalitas pelanggan.
Dengan menggunakan strategi komunikasi yang lebih baik serta inovasi digital dalam sistem pembelian ataupun penukaran tiket, promotor dapat menghindari kejadian serupa di masa depan dan mempertahankan kepercayaan penggemar.***
Maulina Dwi H