Bogordaily.net – Pendidikan, penelitian, dan pengabdian merupakan tiang-tiang penyangga fungsi akademisi. Tersusun kokoh dalam balutan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Akademisi, sebagai tokoh utama dalam mencari solusi ilmiah dari suatu masalah juga turut andil dalam memberi secercah harapan kepada masyarakat. Upaya ini digeluti oleh Uding Sastrawan, selaku bagian dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Orsat Bogor Selatan.
Pria yang akrab disapa Uding juga menorehkan perjalanannya di bidang pendidikan sebagai Dosen Program Studi Manajemen Agribisnis di Sekolah Vokasi IPB University. Di antara kiprahnya tersebut, Beliau turut aktif berkontribusi di kehidupan sosial dengan terjun langsung mengabdi pada masyarakat.
Lantas, bagaimana semarak perjalanan Uding selama mengarungi dinamika pendidikan tinggi yang penuh dedikasi?
Awal Mula Karir
Dilahirkan di Bogor, tepatnya pada 30 Juli 1980, Uding Sastrawan kemudian dibesarkan di dua tempat berbeda. Di masa sekolah menengah, beliau bersama keluarga bermigrasi dari Bogor ke Kota Subang. Beliau mengenyam pendidikan menengah pertama di dua tempat berbeda, yakni Cibungbulang, Bogor dan Ciasem, Subang. Setelah lulus, Uding melanjutkan masa muda di SMA Negeri 1 Pamanukan.
Meskipun demikian, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi membawa beliau kembali ke Kota Bogor. Saat itu tahun 2002, Program Diploma Institut Pertanian Bogor menjadi pilihan Uding untuk memperluas wawasannya.
Beliau lulus sebagai ahli madya Program Studi Manajer Koperasi. Tahun 2006, Pak Uding mendaftarkan dirinya dalam program ekstensi untuk meraih gelar sarjana di Program Studi Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor.
Sebelum mengemban amanah sebagai dosen, Uding Sastrawan mendapat ajakan untuk bergabung sebagai asisten dosen di Program Diploma Institut Pertanian Bogor. Melihat peluang akademik yang menghampirinya, beliau lantas melanjutkan pendidikan magister pada bidang studi Manajemen Agribisnis di Kampus Pertanian terkemuka di Kota Hujan pada tahun 2014.
Berbekal limpahan ilmu yang telah didapatkan, Uding pun memantapkan diri untuk bergabung sebagai Dosen Program Diploma Institut Pertanian Bogor yang selanjutnya akrab dikenal sebagai Sekolah Vokasi IPB University.
Relevansi bidang keilmuan tersebut menumbuhkan minat ilmu finansial dalam dirinya. Uding kemudian aktif mengajarkan mata kuliah terkait ekonomi dan manajemen keuangan di beberapa program studi sarjana terapan IPB University. Di antaranya, yakni Program Studi Manajemen Agribisnis, Akuntansi, Teknologi Rekayasa Komputer, dan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Pengalaman yang semakin mumpuni tidak ayal membuat instansi mempercayainya dalam berbagai posisi. Pada tahun 2015, Uding Sastrawan didaulat sebagai Sekretaris Program Studi Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB University.
Beliau menuntaskan amanat tersebut pada tahun 2018. Setahun setelah melepas jabatan sebagai sekretaris program studi, instansi juga mempercayainya untuk mengawasi bidang manajemen mutu di Lembaga Sertifikasi Profesi Sekolah Vokasi IPB University.
Posisi inilah yang kemudian membawa beliau untuk kembali mengemban amanah sebagai pemimpin. Sejak tahun 2023, Uding aktif sebagai Ketua Komisi Lembaga Sertifikasi Profesi Sekolah Vokasi IPB University.
Meneliti dan Mengabdi
Seorang akademisi tentunya tidak pernah melupakan tupoksi perguruan tinggi yang diembannya. Selain pendidikan, penelitian dan pengabdian juga menopang atap universitas sebagai wadah berkembang para civitas. Prinsip ini tidak hanya berdiri membangun visi pendidikan.
Tri Dharma Perguruan Tinggi juga mendorong lahirnya komunitas berjiwa sosial tinggi. Tidak hanya menggalang empati, komunitas juga mengembangkan konsep fungsional meneliti menjadi lebih kredibel.
Uding Sastrawan juga melihat peluang yang sama dalam struktural organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia atau ICMI.
ICMI bertujuan merealisasikan tata kehidupan masyarakat yang diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala dengan meningkatkan mutu keimanan dan ketaqwaan, pemahaman dan pengamalan ajaran Islam, kecendekiawanan dan peran serta cendekiawan muslim se-Indonesia.
Uding sendiri telah bergabung bersama ICMI sejak tahun 2023 sebagai Sekretaris Orsat Bogor Selatan.
Di samping kontribusinya di ICMI, Uding Sastrawan juga tak luput dari partisipasinya dalam program pengabdian. Pengabdian masyarakat tidak hanya menjadi kewajiban, namun telah menjadi prinsip hidup yang terus dipenuhi oleh para akademisi. Dalam bidang ini, Uding Sastrawan meraih pencapaian besarnya.
Pada tahun 2023, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Republik Indonesia mengundang IPB University dalam program Kedaireka. Kedaireka merupakan akronim dari Kedaulatan Indonesia dalam Reka Cipta.
Program ini menciptakan sebuah platform kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Peluang ini membuka mata para akademisi di IPB University untuk meningkatkan kontribusi di tengah masyarakat, tak terkecuali Uding Sastrawan.
Beliau kemudian dipercaya kembali sebagai ketua untuk memimpin penelitian tersebut. Adapun rekan-rekan akademisi yang turut berkelana bersamanya, yakni Bayu Widodo selaku Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Komputer dan Gema Pramesti selaku Dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Pada penelitian dan pengabdian ini, Uding dan tim mencetuskan topik Sistem Informasi Keterbukaan Desa (SiKD) Sebagai Instrumen Stimulus Penciptaan Growth Pole Pedesaan.
Dalam mengemban pengabdian ini, Pak Uding dan tim menerima kontrak penelitian selama satu tahun dengan subjek utama penelitian berfokus pada desa 3T. Desa 3T sendiri didefinisikan sebagai unit daerah kecil dengan karakteristik tertinggal, terpencil, dan terluar.
Penelitian ini melibatkan tujuh desa di seluruh Indonesia yang memenuhi persyaratan tersebut. Adapun desa-desa tersebut di antaranya: Bantar Kulon, Cibarengkok, Cibitung Kulon, Cibunian, Garumukti, Mekarsari, dan Tanjung Tirta. Uding mengutarakan bahwa tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan aksesibilitas informasi masyarakat umum.
“Masyarakat umum bisa tahu tentang perkembangan desa, tentang informasi pembangunan, tentang potensi ekonomi…” ujarnya dalam sesi wawancara bersama penulis 20 Februari 2025.
Luaran utama dari proyek ini adalah peramban yang bisa diakses di laman sikd.org. Masyarakat, terutama perangkat desa dari ketujuh subjek tujuan pengabdian, menyambut proyek ini dengan sangat baik. Sesuai dengan harapan Uding dan tim, proyek ini berhasil memberikan kemudahan dalam mewujudkan transparansi informasi sumber daya desa.
Beradaptasi dengan Perubahan
Melalui pengalaman lapang tersebut, Uding juga berambisi mengembangkan minat akademisi generasi muda dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. Beliau mengakui bahwa perubahan zaman yang semakin pesat menuntut lahirnya inovasi yang semakin cerdas dan terbuka.
Pendidikan dapat meningkatkan taraf hidup dari segi edukatif, namun ilmu yang diperoleh juga perlu bermanfaat bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Melalui hal ini, Uding Sastrawan menegaskan pentingnya berada dekat dengan masyarakat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dinamika sosial mempengaruhi kebutuhan masyarakat. Sebagai pengemban amanat pendidikan tinggi, sikap adaptif sangat diperlukan untuk membuka mata terhadap lingkungan sekitar.
Masalah yang muncul perlu diselesaikan dengan solusi terbarukan. Hal ini tentunya tidak dapat diraih tanpa memanfaatkan ilmu yang dimiliki dalam pengabdian masyarakat.
“Sebaik-baiknya orang itu adalah orang yang bermanfaat,” sahut Uding.
Berbicara soal dinamika sosial, tentunya tidak terlepas dari cepatnya dunia berubah. Pendidikan juga terkena imbasnya. Pergantian zaman mendorong pemutakhiran kurikulum dari waktu ke waktu.
Alih-alih terkendala, Uding Sastrawan justru memandang perubahan sebagai sebuah kelaziman. Perubahan akan selalu ada, sekeras apapun kita berusaha menghindarinya.
Satu-satunya hal yang mendorong perubahan ke arah yang positif adalah sikap adaptif seseorang. Apabila bisa mengikuti perubahan, maka seseorang tentunya mampu bertahan dalam situasi yang goyah sekalipun.
Sisi positif dari perubahan adalah hal yang perlu dipegang erat untuk mewujudkan kecerdasan bangsa. Sementara itu, sisi negatif perubahan adalah revisi terbaik yang dapat dilakukan untuk memperbaiki celah-celah yang merugikan.
Berkaca dari perjalanannya di pendidikan vokasional, Uding tentunya mengharapkan perubahan ini sebagai kesempatan emas. Pendidikan vokasional mempunyai titik berat keterampilan sehingga dapat membuka potensi yang lebih praktikal. Mewujudkan potensi ini tidak luput dari adanya pemanfaatan teknologi modern.
Sumber daya primer dapat beralih menjadi output maksimal apabila wawasan teknologi cukup untuk mengimplementasikan prosesnya. Ibarat merubah singkong menjadi tepung tapioka.
Sesuatu yang sederhana akan memiliki daya guna tinggi. Syaratnya dengan memanfaatkan teknologi terbarukan. Wawasan tersebut tentunya dapat diraih apabila seseorang bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi yang melesat cepat.
Sebagai akademisi, Uding Sastrawan menyatakan bahwa mengembangkan kecerdasan bangsa adalah usaha yang kompleks. Membutuhkan perjalanan yang panjang untuk merealisasikan ekspektasi pendidikan yang tinggi.
Namun, niat dan kemauan yang kuat patut menjadi acuan bagi setiap elemen pembangun pendidikan untuk meraih kemajuan pesat dalam mencerahkan masa depan bangsa. Kontribusi akademisi perlu didukung dengan dedikasi negara sebagai pengemban amanah pusat.
Melalui kolaborasi aktif, tujuan Nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tentunya dapat dipikul sebagai tanggung jawab bersama. Mengikuti alur revolusi dan membuat inovasi untuk beradaptasi dengannya menjadi salah satu upaya prioritas bagi setiap pengemban amanat pendidikan.
“Satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri” – Uding Sastrawan
Halwa Khairani
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media IPB University