Bogordaily.net – Matahari pagi di Terminal Bareh Solok menyinari kerumunan penumpang yang berdesakan di antara bus-bus bertuliskan tujuan “Solok – Jakarta – Bogor”. Orangtuaku memelukku cepat di pintu bus, bisikannya hampir tenggelam oleh deru mesin, “Hati-hati di jalan, Nak. Telepon kalau sampai”. Aku mengangguk, lalu naik. Aku duduk di kursi dekat jendela. Tepat pukul 10.00 WIB, roda mulai bergerak. Perjalanan panjang menuju Kota Bogor pun dimulai.
Sepanjang jalan dari Solok Ke Bogor, bus meliuk di antara bukit-bukit hijau Sumatra Barat. Kami melewati jembatan yang membentang di atas sungai. Ketika di Dharmasraya, kebun sawit menjadi pemandangan dominan. Batang-batangnya tegak seperti pilar raksasa, daunnya yang lebar berdesak-desakan tertiup angin, sementara buah sawit yang kuning kecokelatan bergelantungan seperti hiasan alami. Truk-truk pengangkut hasil kebun melintas berat, mengeluarkan suara dengus mesin yang seolah mengeluh.
Saat matahari mulai condong ke barat, pemandangan berubah. Bus memasuki wilayah Jambi. Langit senja mulai memerah, membentuk gradiasi jingga dan ungu di antara awan. Bus berhenti di sebuah masjid di pinggir jalan. Masjid itu berdiri anggun di tepi jalan. Aku mengambil wudhu di kamar mandi belakang, airnya dingin, mengalir dari kran berkarat.
Saat azan berkumandang, suara muadzin yang serak menusuk kalbu. Penumpang bus, sopir truk, bahkan pedagang asongan ikut bersaf di belakang imam yang renta. Usai shalat, bus melanjutkan perjalanan malam. Jalan mulai gelap, hanya diterangi lampu depan bus. Di kursi belakang, seorang remaja memutar lagu “Ayam Den Lapeh” dari ponsel. Beberapa penumpang ikut bersenandung, sementara yang lain tertidur lelap.
Aku tertidur di kursi, terbangun saat bus berhenti di Palembang untuk istirahat singkat. Pukul 2 pagi, udara dingin menusuk tulang. Penumpang turun bergantian ke kamar mandi, sementara sopir truk di parkiran menghisap rokoknya. Di kamar mandi, airnya tak mengalir. Bau pesing menyengat. Seorang bapak tua muntah di wastafel, mungkin mabuk perjalanan. Aku cepat-cepat keluar, kembali ke bus yang mesinnya sudah menderu.
Pukul 14.00 WIB, bus sudah memasuki Lampung dan berhenti sejenak di salah satu rumah makan disana. Setelah perut terisi dengan karbohidrat, perjalanan pun berlanjut menuju Pelabuhan Bakauheni yang memiliki peran penting sebagai penyambung dua pulau besar, Sumatera dan Jawa. Bus pun tiba di Pelabuhan Bakauheni. Kapal raksasa berjajar di pelabuhan, lambungnya berkarat tapi masih gagah. Penumpang berdesakan naik ke geladak, mencari tempat teduh. Aku memilih sudut di dekat pagar besi, menatap laut yang berkilauan di bawah matahari.
Saat kapal mulai bergerak, angin laut menerpa wajah. Di kejauhan, Gunung Krakatau tampak samar. Tiba-tiba, seorang anak kecil di sebelahku berteriak, “Ibu, lihat! Ada lumba-lumba!”. Beberapa penumpang berusaha mengambil foto, tapi lumba-lumba itu terlalu cepat, hanya meninggalkan riak air dan decak kagum. “Pertanda baik” bisik seorang ibu setengah baya di sebelahku. Aku tersenyum, membiarkan detak jantung tenang oleh irama ombak.
Kapal merapat di Pelabuhan Merak tepat pukul 17.00 WIB. Bus kembali melaju, kali ini dari Solok Ke Bogor menembus jalan tol menuju Bogor dan dihantam kemacetan parah. Pemandangan berubah drastis, pabrik-pabrik berasap menjulang, dan perumahan padat. Malam semakin larut. Kemacetan di tol membuat bus merayap seperti kura-kura. Aku mencoba tidur, tapi tangisan seorang bayi yang tak kunjung henti membuatku terjaga.
Pukul 23.30 WIB, lampu-lampu Terminal Baranang Siang, Bogor, akhirnya menyambut. Kabut tipis turun menyelimuti jalanan, membuat siluet ojek online tampak seperti bayangan. Kaki terasa pegal, baju lengket oleh debu dan peluh, tapi senyum tak bisa dibendung. Seorang tukang ojek menawarkan tumpangan, “12 ribu, Bang! Aman, cepat!” Aku mengangguk, lalu duduk di belakang motornya. Angin malam menerpa wajah, membawa aroma tanah basah khas Bogor. Di ponsel, pesan dari ibu muncul, “Sudah sampai? Istirahatlah.”.***
Zhorif Febriansyah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB