Bogordaily.net – Jakarta, kota yang memiliki banyak tempat menarik untuk bisa dieksplorasi. Saya dan teman saya, Emery, melakukan perjalanan untuk menyelesaikan tugas fotografi digital di semester 3. Kami ingin melengkapi kekurangan foto jurnalistik dalam tugas fotografi digital dan kami memiliki ide untuk memotret aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta.
Kami memulai perjalanan dari Stasiun Bogor pukul 14.00 WIB dengan menaiki KRL Commuter Line menuju Stasiun Juanda, melewati 19 stasiun, termasuk stasiun-stasiun besar seperti Stasiun Depok, Stasiun Pasar Minggu, dan Stasiun Manggarai.
Setelah kurang lebih 50 menit perjalanan, kami tiba di Stasiun Juanda sekitar pukul 14.50 WIB. Dari sana, kami berjalan kaki sekitar 900 meter menuju Istana Merdeka di Jalan Medan Merdeka Utara.
Dalam perjalanan, kami melewati bangunan-bangunan besar seperti Kementerian Dalam Negeri, Mahkamah Agung, serta Markas Besar TNI AD.
Sesampainya di depan Istana Merdeka, kami melihat Aksi Kamisan yang sudah berlangsung.
Para peserta aksi yang berpakaian serba hitam, berdiri dengan poster dan payung hitam sebagai simbol protes terhadap berbagai kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan.
Kami memotret aksi ini dengan kamera, untuk mendapatkan hasil yang baik dalam tugas kami.
Selesai memotret, kami melanjutkan perjalanan menuju Monas. Namun, setibanya di sana sekitar pukul 16.30 WIB, kami meliha Monas sudah tutup.
Meski tutup, kami tetap mengambil beberapa foto dari luar pagar, untuk melengkapi dan menambah koleksi foto-foto.
Beberapa wisatawan yang tidak bisa masuk seperti kami juga memilih untuk berfoto dari luar, menikmati suasana yang tetap menarik meski hanya dari kejauhan.
Karena Monas sudah tutup, teman saya, Emery mengusulkan agar kami mencari spot foto lain, dan dia mempunyai ide untuk pergi ke Lapangan Banteng yang tidak terlalu jauh dari Monas, hanya sekitar 1 kilometer saja.
Kami berjalan kaki ke Lapangan Banteng melalui Jalan Lapangan Banteng Timur. Dalam perjalanan, kami melewati Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral.
Dua bangunan ini sangat menggambarkan sekali bagaimana bisa menjadi suatu symbol toleransi yang kuat di Indonesia.
Kami pun menyempatkan untuk berhenti dan melihat serta mengambil beberapa foto di depannya saja untuk menambah Kembali koleksi foto jurnalistik Kami.
Lalu kami melanjutkan berjalan kaki ke tempat tujuan utama kami yaitu Lapangan Banteng.
Sesampainya di Lapangan Banteng, kami langsung bisa melihat Monumen Pembebasan Irian Barat yang menjulang setinggi 35 meter.
Menurut informasi yang kami dapat, Monumen ini didirikan untuk mengenang perjuangan Trikora (pembebasan Irian Barat dari Belanda), dimana masyarakat Irian Barat yang memilih tetap menjadi bagian dari Republik Indonesia. Memliki latar belakang sejarah, penampilan Lapangan Banteng sangan pas untuk foto jurnalistik.
Perjuangan tersebut tentu sangat menginspirasi seluruh masyarakat, hingga dibuatkan monument tersebut.
Selain monumen yang megah dan fotogenik ini, Lapangan Banteng juga memiliki area terbuka hijau yang luas, sering digunakan masyarakat untuk jogging, bersantai, atau membuat konten.
Ada beberapa masyarakat yang membuat konten dengan memanfaatkan keindahan lapangan ini. ada area juga untuk kami bersantai dekat kolam kecil di lapangan tersebut.
Kemudian, kami bersantai sejenak di area tempat duduk dekat kolam yang bentuknya seperti tribun kecil.
Semakin malam, area ini semakin cantik karena dihiasi berbagai lampu-lampu yang menerangi mulai dari tempat duduk, hingga kolam di depannya. Sangat pas untuk foto jirnalistik.
Setelah bersantai kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. sebelum pulang, kami menyempatkan untuk makan terlebih dahulu di sekitar Lapangan Banteng.
Terlihat ada cukup banyak pedang kaki lima di sekitar pintu keluar Lapngan banteng, mulai dari minuman dingin hingga makanan berat.
Setelah makan dan beristirahat, sekitar pukul 21.30 WIB, kami berjalan kembali menuju Stasiun Juanda melalui Jalan Lapangan Banteng Barat untuk menaiki KRL pulang ke tujuan kami.
Kami mendapati bahwa perjalanan ini sangat mengesankan karena bisa melihat dan mengetahui sejarah-sejarah dari bagian Indonesia, dan tentu saja untuk tugas kami yang terselesaikan.***
Matius Salomo Nababan
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB University