Bogordaily.net – Dunia pendidikan tidak ada henti-hentinya dalam hal meluncurkan kurikulum baru. Di Indonesia sendiri sudah menerapkan beberapa kurikulum, misalnya dari mulai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) 2004, kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006, kurikulum K-13 (2013), hingga yang terbaru yakni kurikulum merdeka yang diluncurkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), yaitu Bapak Nadiem Anwar Makarim. Kurikulum merdeka yang baru berjalan semenjak tahun 2022 silam tentunya memiliki pro dan kontra, menuai dilema.
Pro terhadap kurikulum merdeka
Kurikulum merdeka ini dikatakan bagus karena terdapat proses belajar yang sangat spesifik demi menggapai cita-cita di masa depan. Misalnya saja, bagi siapa yang ingin meraih cita-cita menjadi dokter, maka dia mengambil mata pelajaran kimia dan biologi, tanpa perlu mempelajari fisika.
Adapun contoh lain, misalnya anak ingin masuk ke jurusan teknik, maka mata pelajaran yang dia ambil adalah fisika dan kimia, tanpa perlu biologi. Hal-hal seperti ini tentunya sangat menjanjikan, menjemput masa depan yang lebih terarah, karena anak-anak dituntut untuk fokus pada tujuannya masing-masing, tanpa perlu memikirkan hal-hal yang tidak terlalu dibutuhkan di dunia pekerjaan nanti.
Kemudian, kurikulum merdeka juga memberikan fleksibilitas kepada guru-gurunya untuk mengajar, tidak lagi dituntut dengan panduan yang kaku, tapi beralih kepada pengembangan kreativitas mengajar dan penyesuaian dengan kemampuan belajar siswa. Namun dibalik dampak positif dari kurikulum ini, ternyata terdapat kontra yang menimbulkan kekhawatiran bagi berbagai pihak.
Kontra terhadap kurikulum merdeka
Kurikulum merdeka ini kontra bagi daerah-daerah terpencil, dimana sumber daya guru belum tercukupi. Banyak daerah di Indonesia yang masih memiliki sekolah dengan jumlah anak banyak, tapi tidak sesuai dengan jumlah guru.
Hal ini menyebabkan guru sulit untuk mengajar, terlebih lagi kurikulum ini mengarahkan guru untuk mengembangkan kreativitas mengajar di mata pelajaran pilihan anak didiknya, dimana dia harus berkompeten di bidang itu.
Sementara guru-guru di daerah terpencil belum menerima cukup pelatihan, sehingga dirasa kurang bisa melakukan pengajaran di kurikulum merdeka yang sifatnya bebas tanpa panduan tersebut.
Kemudian, seperti yang sudah dibahas sebelumnya, bahwa kurikulum merdeka ini mengarahkan siswanya untuk memilih mata pelajaran sesuai apa yang dicita-citakannya di kemudian hari, seperti contohnya dokter, berarti dia tidak perlu belajar fisika.
Lalu pertanyaannya, bagaimana jika jurusan kuliah atau pekerjaan yang akan diambil, belum bisa terbayang oleh siswa-siswinya? Hal ini membuat tekanan tersendiri bagi anak-anaknya untuk memilih secara cepat.
Misalnya saja ada anak yang tidak memilih mata pelajaran biologi, sementara sewaktu lulus nanti, dia berubah pikiran ingin jadi dokter, tentu hal itu bisa membuat dilema, baik bagi anaknya maupun orang tuanya.
Maka dari itu, kurikulum merdeka sebenarnya masih perlu dievaluasi, dan mari bandingkan dengan kurikulum terdahulu.
Perbandingan kurikulum
Satu hal yang menjadi poin utama dalam kurikulum merdeka adalah bagaimana caranya supaya siswa bisa berpikir kritis. Misalnya saja di mata pelajaran matematika. Kurikulum sebelumnya, siswa dituntut untuk menghafalkan rumus untuk bisa menjawab soal matematika.
Namun pada kurikulum merdeka, siswa diajarkan bagaimana melihat sebuah pola atau rumus matematika itu sebagai eksperimen, bagaimana mereka mengkritisi rumus tersebut (misal: dari mana asalnya, kenapa jawabannya bisa seperti itu), bukan hanya belajar menghafalkan rumus atau perkalian semata.
Hal ini membuat guru-guru, orang tua, dan juga anak didik sulit beradaptasi. Karena mereka yang sebelumnya bisa menyelesaikan persoalan dengan mudah, kini menjadi sesuatu yang harus dikritisi terlebih dahulu, yang harus dicari tahu terlebih dahulu kenapa bisa seperti ini dan itu.
Misalnya perkalian dua kali empat, di kurikulum terdahulu pasti sudah langsung tahu jawabannya dengan cara menghafalnya atau dengan menggunakan logika. Tapi di kurikulum merdeka, perkalian semudah itu menjadi hal yang sulit, harus ditelaah terlebih dahulu.
Bayangkan bagaimana jika ilmu dasar tersebut mau digunakan di kehidupan sehari-hari seperti belanja? Berarti dia harus siap menghitung terlebih dahulu sesuai pikiran kritisnya.
Langkah selanjutnya
Ada baiknya guru-guru di Indonesia diberikan pelatihan yang rutin terkait kurikulum ini mengenai cara mengajarnya. Kemudian, kurikulum merdeka ini tentunya memerlukan teknologi untuk menunjang proses pembelajarannya.
Sementara itu masih banyak daerah terpencil yang belum memiliki fasilitas yang baik, maka seharusnya pemerintah Indonesia bisa memberikan dana yang cukup untuk melengkapi fasilitas di sekolah-sekolah terpencil, jadi tidak ada lagi ketidakseimbangan pendidikan.
Selain itu, mohon didiskusikan kembali mengenai ilmu dasar matematika seperti contoh perkalian tadi. Mungkin pembelajaran tersebut memang bagus untuk meningkatkan pemikiran kritis anak, tapi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sepertinya berat.
Selanjutnya untuk hal-hal seperti pemilihan mata pelajaran untuk menentukan jurusan kuliah, ada baiknya melakukan pendekatan yang mendalam, antara guru, murid, dan orang tua, supaya bisa didiskusikan lebih awal, agar anak benar-benar siap untuk memilih masa depannya.***
Oleh: Wanda Fithriana Mahasiswa Komunikasi Digital & Media, Sekolah Vokasi IPB