Thursday, 3 April 2025
HomeBeritaPengaruh Komunikasi Orang Tua terhadap Kehidupan Anak Diera Digital

Pengaruh Komunikasi Orang Tua terhadap Kehidupan Anak Diera Digital

Bogordaily.net – Diera digital, dunia saat ini telah dipenuhi oleh berbagai macam inovasi, termasuk salah satunya ialah teknologi untuk berkomunikasi yang sangat mungkin dilakukan dari jarak dekat maupun jauh. Teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah media atau alat bantu dalam memperoleh pengetahuan antara seseorang kepada orang lain (Anatta Sannai, 2004).
Kehadiran teknologi komunikasi pada zaman ini, tentu membuat hidup semakin mudah, para pengguna teknologi ini bisa membuat orang yang jauh menjadi terasa dekat. Masyarakat mulai aktif menggunakan media sosial sebagai tempat untuk berkomunikasi secara digital, misalnya seperti penggunaan Whatsapp, Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain.
Pengguna-nya pun cukup beragam, dari mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Adanya teknologi komunikasi, berdampak kepada hubungan antara orang tua dan anak. Di satu sisi, teknologi komunikasi seperti pesan teks dan panggilan video memungkinkan orang tua dan anak berkomunikasi secara instan, terlepas dari jarak geografis yang memisahkan mereka.
Hal ini dapat memperkuat rasa kebersamaan dan ikatan emosional antara orang tua dan anak (Valkenburg & Peter, 2011). Namun di sisi lain, banyak juga yang merasa jauh karena masih tinggal satu rumah, tapi gadget menjadi prioritas masing-masing, sehingga komunikasi secara langsung pun tidak tercipta. Hal ini membuat orang tua perlu mengawasi lebih dalam terkait penggunaan gadget oleh anak-anaknya, karena saat ini banyak sekali konten yang tidak pantas untuk dilihat apalagi sampai ditiru anak-anak.
Komunikasi tatap muka yang tidak tercipta di antara orang tua dan anak pun bisa membuat hubungan menjadi terasa jauh, kurang mengenal satu sama lain, hingga akhirnya kehangatan sebuah keluarga tidak lagi dirasakan.
Sisi Negatif Teknologi Komunikasi
Keluarga adalah tempat belajar pertama kali, menjadi tempat diskusi yang hasilnya bisa sangat berpengaruh terhadap keputusan seseorang untuk menjalani hidupnya. Keluarga akan menjadi tempat ternyaman jika komunikasi di dalamnya berjalan lancar. Namun karena komunikasi saat ini sudah serba digital, maka banyak keluarga yang merasa terpisah padahal masih satu atap. Berikut beberapa contoh negatif dari anak-anak yang terlalu bergantung kepada teknologi komunikasi :
1. Berpamitan kepada orang tua melalui chat, padahal masih satu rumah
2. Memegang gadget saat makan bersama keluarga
3. Mengabaikan perintah orang tua karena asik dengan gadget.
4. Hubungan pertemanan rusak hanya karena salah mengartikan komunikasi di chat.
Hal-hal remeh seperti itu justru membuat kehadiran anggota dalam keluarga menjadi tidak terasa. Anak-anak bisa menjadi kecanduan karena tidak diawasi oleh orang tuanya, terlebih bagi mereka yang sudah terpapar sejak dini.
Orang tua terkadang menjadikan alasan sibuk dalam pekerjaannya sebagai penyebabnya mereka memberikan smartphone sejak dini. Hal yang berulang diberikan kepada anak bisa menyebabkan kecanduan memegang smartphone (Hasanah et al., 2020). Anak kecil yang sudah terpapar gadget, sangat memungkinkan dirinya lebih berpihak kepada dunia maya dibanding dunia nyata.
“Kemajuan teknologi berpotensi membuat anak cepat puas dengan pengetahuan yang diperolehnya sehingga menganggap apa yang didapatnya dari internet atau teknologi lain adalah pengetahuan yang terlengkap dan final” (Ratih Ibrahim, 2012).
Dampak lain dari perubahan komunikasi orang tua-anak di era digital adalah perubahan dalam pola komunikasi dan ekspresi emosi. Pesan teks dan media sosial seringkali tidak mampu menggambarkan nuansa emosi dengan baik seperti komunikasi langsung tatap muka (Mills-Koonce, Appleyard carmody, & Propper,, 2011). Hal ini dapat mengurangi pemahaman emosi antara orang tua dan anak serta mengganggu perkembangan keterampilan sosial anak (Uhls et al., 2014).
Sisi Positif Teknologi Komunikasi
Baik dan buruknya teknologi komunikasi diera sigital tergantung dari aktivitas penggunanya. Jika orang tua memberikan pendampingan pada anaknya saat memakai gadget, anak akan memiliki pemikiran yang kuat, dan tidak mudah terbawa arus atau kecanduan gadget. Berikut contoh positif dari teknologi komunikasi karena peran komunikasi orang tua yang kuat terhadap anak-anaknya :
1. Anak berkarya dengan cara membuat konten positif
2. Mendapatkan pertemanan yang positif
3. Memperluas wawasan
4. Meningkatkan kreativitas
Sisi positif itu bisa didapat melalui pendekatan komunikasi sederhana antara orang tua dan anak. Misalnya sering melakukan diskusi-diskusi kecil terkait apa yang ditemukan anak di laman internet. Tentunya anak akan memiliki pikiran yang lebih matang dan kuat saat menghadapi konten-konten teknologi komunikasi tersebut.
Penguatan Komunikasi Orang Tua
Orang tua bisa melakukan cara-cara ini untuk mendampingi anaknya di era digital :
1. Melakukan diskusi secara rutin tentang apa yang ditemui anaknya di laman internet
2. Membatasi waktu penggunaan gadget
3. Meluangkan waktu untuk mengobrol dengan anak tentang hari-harinya, sehingga anak merasa diperhatikan, dan tidak kecanduan gadget.
4. Mengajak anak untuk melakukan aktivitas di rumah, seperti memasak, dan lainnya.
Seperti itulah teknologi komunikasi diera digital bermain dalam hubungan orang tua dan anak. Bukan berbicara seberapa canggih teknologi berkembang, namun seberapa canggih orang tua berkomunikasi dengan anaknya di tengah-tengah kehadiran komunikasi digital di kehidupan. Teknologi komunikasi bisa fatal jika orang tua mengabaikan anak-anaknya.
Segala ekspresi dan emosi yang dikirimkan melalui chat diera digital bisa menjadi berbeda makna, hal ini bisa memicu kesalahpahaman antara yang satu dengan yang lain. Namun jika mengobrol langsung, pastinya orang tua dan anak bisa saling mengekspresikan perasaannya tanpa perlu takut keliru. Untuk menghadapi teknologi komunikasi yang semakin berkembang, diharapkan orang tua bisa selalu mempelajari apapun yang menjadi bagian dari teknologi tersebut, demi menjaga anak-anaknya terhindar dari hal-hal negatif yang setiap detik bisa saja bermunculan.
Selain itu, diera digital orang tua juga perlu memikirkan mengenai usia anak yang cocok untuk memegang gadget, sehingga kehidupan anak bisa dipenuhi dengan didikan dari orang tuanya terlebih dahulu, bukan dari dunia komunikasi digital di luar sana. Kemudian jika dirasa cukup usia untuk memegang gadget, tetap berikan pendekatan berupa diskusi-diskusi kecil sehingga membuat pola pikir anak terjaga.***
Wanda Fithriana 
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here