Bogordaily.net – Liburan akhir tahun kali ini terasa begitu spesial. Aku dan keluargaku memutuskan untuk menghabiskan waktu liburan kami di kota istimewa yakni, Yogyakarta, kota yang dikenal dengan kearifan budayanya yang kental dan beragam serta kaya akan berbagai destinasi wisata yang memikat.
Selama empat hari tiga malam, kami menjelajahi berbagai tempat populer yang kian menjadi favorit para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Hingga, kemudian pada hari ketiga, kami sekeluarga pun memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda yakni, menjauhkan diri sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan dan mencari ketenangan di sudut Kota Yogyakarta yang lebih memperlihatkan keindahan alammnya dan jauh dari keramaian.
Hari itu, Kamis pagi, langit Yogyakarta terlihat kurang bersahabat. Matahari seakan enggan menampakkan sinarnya, meskipun begitu hujan pun tak kunjung turun. Cuaca yang cukup mendung sempat menimbulkan sedikit kerguan bagi kami untuk melakukan perjalanan di hari ini.
Namun, rasa penasaran dan antusiasme kami berhasil mengalahkan keraguan tersebut. Hal tersebut dikarenakan kami telah lama menantikan perjalanan ini, yaitu mengunjungi Obelix Sea View, salah satu destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tengah viral di media sosial dan digadang-gadang sebagai tempat yang wajib dikunjungi jika berlibur ke Yogyakarta.
Bersama dengan perasaan yang tak terkendali antara keraguan dan antusiasme, kami pun akhirnya memutuskan untuk berangkat dan melanjutkan perjalanan. Perjalanan menuju daerah Gunung Kidul, tempat dimana Obelix Sea View berada, memakan waktu sekitar kurang lebih 1 jam 45 menit dari hotel tempat kami menginap di kawasan Malioboro. Beruntung, kondisi lalu lintas jalan Yogyakarta pada siang hari itu cukup lengang sehingga perjalanan terasa lancar tanpa adanya kemacetan ataupun hambatan yang berarti.
Kami melakukan perjalanan sekitar pukul 11.00 WIB. Sepanjang perjalanan menuju destinasi wisata, cuaca tak juga kunjung membaik. Langit tetap mendung dengan angin yang cukup kencang. Harapan kami kala itu hanyalah satu, yakni semoga cuaca tidak semakin memburuk dan hujan tak turun ketika kami tiba di tempat tujuan.
Tepat pada pukul 13.00 WIB, akhirnya kami sekeluarga pun akhirnya tiba di Obelix Sea View. Suasana pertama yang kami rasakan ialah terasa nyaman dan sejuk. Pengunjung pada hari itu juga tidak begitu ramai sehingga untuk masuk ke dalam kami pun tidak perlu mengantre terlalu lama.
Posisi Obelix Sea View yang berada pada tebing yang cukup tinggi ini membuat pemandangan pantai-pantai di sekitar Gunung Kidul tersajikan dengan begitu indah, menakjubkan dan memanjakan mata.
Hamparan laut lepas yang biru dengan deburan ombaknya yang cukup besar berpadu dengan tebing-tebing menjulang menciptakan pemandangan yang kian memukau, meskipun matahari tetap masih bersembunyi di balik awan kelabu.
Kami pun mulai berjalan menyusuri area Obelix Sea View. Semakin lama kami berjalan untuk menyusuri Kota Istimewa dan memotret keindahannya, angin terasa semakin lama berhembus semakin kencang serta dingin menerpa kulit, namun meskipun begitu, semangat kami untuk tetap menyusuri tempat tak kunjung surut. Kami tetap menyempatkan diri untuk mengeksplor lebih jauh destinasi wisata yang cantik ini.
Di tengah perjalanan mwnuju Kota Istimewa, Kami mengeksplorasi Obelix Sea View, cuaca semakin memburuk. Kabut tebal perlahan turun, menyelimuti pemandangan indah di sekitar. Langit yang sebelumnya sudah kelabu kini terlihat semakin menggelap, kemudian mulai disusul dengan suara gemuruh petir dari kejauhan.
Ketika kami hendak menuju ke area lain, tetesan hujan mulai turun perlahan. Kami pun segera bergegas berlari kecil menuju restoran yang berada di dalam kawasan tersebut untuk berteduh.
Hujan mulai turun semakin deras ketika kami melangkah masuk, namun di balik cuaca yang memburuk, pemandangan dari restoran dengan posisi yang tinggi ini justru menyuguhkan pesona yang tak kalah memukau.
Dari dalam restoran di Kota Istimewa, kami dapat melihat area kolam renang yang terletak pada bagian outdoor restoran yang dikelilingi kursi-kursi dan sofabed berpayung, menghadap langsung ke tebing dan lautan lepas.
Meski pemandangan laut mulai tertutup kabut tebal, pesonanya tetap terlihat cantik dan memanjakan mata dengan ombak besar yang terasa menyegarkan. Tetapi sayangnya, angin yang kian kencang, udara yang semakin dingin, dan hujan yang kian menderas membuat kami memilih untuk duduk di dalam area indoor restoran sembari memasan makan siang yang hangat untuk mengusir rasa dingin yang semakin menyelimuti udara Yogyakarta hari itu.
Saat kami tengah menikmati makanan yang disajikan, hujan turun semakin lebat. Kini, suara gemuruh petir menggema di seluruh penjuru Obelix Sea View, gemuruh besar yang disertai dengan angin kencang membuat payung-payung di sekitar kolam terangkat dan berterbangan.
Para pekerja restoran pun dengan sigap membereskan area tersebut di tengah derasnya hujan. Kejadian tersebut sempat membuat kami dan para pengunjung lainnya merasa terkejut serta was-was, namun suasana restoran yang nyaman membuat kami tetap dapat menikmati liburan kami.
Setelah beberapa waktu, hujan perlahan mereda, gemuruh petir yang sebelumnya terdengar jelas kini sudah tak lagi terdengar. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari itu dan kembali ke hotel sebelum cuaca kembali memburuk.
Meskipun kami tidak sempat menjelajahi seluruh sudut Obelix Sea View, namun pengalaman ini memberikan kesan menegangkan yang berbeda tetapi tak terlupakan.
Perjalanan ke Obelix Sea View di tengah cuaca yang tak terduga menjadi perjalanan seru yang penuh kejutan. Pemandangan yang menakjubkan, suasana sejuk dengan pemandangan berkabut tebal, hingga pengalaman menikmati makanan hangat di tengah hujan deras dan gemuruh petir, seluruhnya menjadi bagian dari kenangan indah yang akan selalu kami ingat.
Mungkin di lain waktu, ketika matahari bersinar cerah, kami akan kembali berlibur menyusuri Obelix Sea View yang belum sempat kami telusuri. Menikmati pesona laut dari ketinggian dengan lebih leluasa tanpa kabut yang menyelimutinya. Namun, hingga saat itu tiba, perjalanan menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang tak terduga ini akan tetap menjadi salah satu kenangan liburan terbaik kami di Daerah Istimewa Yogyakarta.***
Tania Putri Awinda
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University