Oleh: Eko S Dananjaya
Dalam suasana keprihatinan yang dalam, pada nasib bangsa yang beberapa minggu ini dirundung kemalangan. Kepergian seorang aktivis Fikri Thalib menambah suasana duka bangsa.
Jika kita kembali pada sejarah masa lampau, dimana kaum muda dan mahasiswa era itu, mengingatkan ulang pada kita sebuah etape perjuangan seorang anak bangsa yang penuh getir dan resiko.
Sedikit diantara penyandang disabilitas yang memiliki dedikasi perjuangan untuk mewujudkan bangsanya menjadi demokratis, maju, damai dan sejahtera. Dalam realitas hingga hari ini cita-cita itu masih harus dilantangkan.
Deretan peristiwa yang akhir-akhir ini menggores luka bangsa, mengiringi kepergian seorang Fikri yang senantiasa aktif di berbagai kegiatan sosial. Dari mengurus radio silatarahim yang eksis hingga hari ini. Sebagai wahana siar umat Islam dan pluralitas mengudara sejak puluhan tahun lalu. Radio ini metamorfosa dari Radio buruh yang pernah ia gagas bersama Amir Husein Daulay (almarhum) dan teman-temanya, yang sempat mengudara di seputar wilayah Cileungsi, Bantar Gebang sekitarnya.
Meski memiliki keterbatasan secara fisik, tidak menyurutkan dirinya untuk aktif di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Remaja Masjid Umar Bin Khattab. Masjid tersebut ia didirikan bersama keluarganya. Masjid Umar Bin Khattab yang terletak di Bekasi Timur Gang Padang Rawa Bunga ini dulunya sebuah hotel.
Hotel Danau Toba yang dimiliki keluarga Fikri bukan saja sebagai tempat usaha. Tetapi juga dijadikan persinggahan kaum pergerakan. Hotel Danau Toba memiliki sejarah tentang bagaimana para aktivis mahasiswa dan kaum muda era 80-90 pernah berinteraksi dalam perjuangannya untuk meruntuhkan rejim Orde Baru.
Meski tidak terlampau besar hotelnya, tapi sudah cukup membantu aktivis untuk singgah dan menginap. Terutama aktivis yang berasal dari luar Jakarta. Hotel Danau Toba sebagai jujugan kaum pergerakan karena mudah di akses. Aktivis tidak perlu sulit mencari alamat karena letaknya di seberang setasiun Jati Negara.
Fikri tercatat sebagai aktivis mahasiswa Universitas Pancasila Jakarta fakultas Hukum. Salah satu orang yang juga aktif menjalin komunikasi dengan para aktivis luar Jakarta. Sehingga ia mempunyai jumlah teman serta relasi yang banyak. Bahkan, keterampilannya untuk membawa mobil teruji hingga ke luar kota. Tidak jarang ia bepergian sendiri dengan mobilnya. Kemandirian hidupnya nampak sedari kecil.
Fikri semasa hidupnya menjalin dan membangun komunitas gerakan difabel. Pernah suatu ketika mengadakan reli mobil khusus difabel. Acara ini diselenggarakan di kota Yogyakarta awal tahun 1990 an. Acara sukses, peserta reli mobil berasal dari berbagai kota di Jawa.
Fikri Thalib adalah ide yang berjalan. Tidak pernah Ia berhenti hanya sampai pada gagasan. Ia bukan sekedar motivator gerakan tapi juga memiliki sense of business yang genuine. Memiliki talenta yang tidak semua orang miliki. Di sela aktifitas membangun jaringan gerakan, Fikri juga membangun basis ekonomi dan usaha di luar Jakarta. Sebagai sepekulan tanah yang mana hasilnya sebagian digunakan untuk menghidupi gerakan.
Fikri juga andil dalam mengagas lahirnya Yayasan Pijar yang diprakarsai oleh Almarhum Amir Husein Daulay dan kawan-kawan. Sebuah lembaga Pusat Informasi dan Jaringan untuk Reformasi. Adalah lembaga yang memiliki andil besar dalam perubahan Indonesia semasa reformasi.
Lembaga Pijar menjadi tolok ukur gerakan 80-90 an sebagai pelopor gerakan mahasiswa Indonesia, Pers Mahasiswa, Kaum Muda dan Intelektual. Martir perubahan telah dibuktikan dengan banyaknya anggota Pijar yang masuk penjara di era Orde Baru hingga feformasi tiba.
Fikri, Amir Daulay, Endi Martono adalah sahabat yang saling menguatkan. Tak pernah saling menyakiti, meninggalkan kenangan yang indah diantaranya. Mereka kini telah pergi untuk selamanya. Banyak kesan dan sumbangan pemikiran untuk bangsa Indonesia hingga bisa menjadi seperti ini.
Tokoh-tokoh pergerakan aktivis 80 an kini satu persatu luruh tergerus waktu. Tapi semangat ide dan gagasannya untuk bangsa dan negara tidak pernah pupus dimakan masa.***
Penulis aktivis 80 an
Tinggal di Yogyakarta.