Bogordaily.net – Hujan deras itu kembali turun. Lereng Pasirlangu sudah lima hari penuh bergelut dengan lumpur, batu, dan duka. Di Cisarua, Bandung Barat, alat berat berhenti. Tim SAR berhenti. Bukan karena lelah. Tapi karena langit belum memberi izin.
Di saat seperti itulah Abah datang.
Tidak membawa rompi oranye. Tidak juga helm proyek. Yang dibawanya hanya tongkat, beberapa botol air mineral, dan keyakinan yang sudah lama hidup di kampung itu: kearifan lama yang masih dipercaya sebagian warga.
Sabtu, 24 Januari 2026, longsor Cisarua memutus banyak hal. Jalan terputus. Rumah tertimbun. Dan harapan ikut tergerus. Sejak itu, pencarian korban berjalan tertatih. Cuaca menjadi musuh paling sulit ditaklukkan.
Hari keempat evakuasi menjadi titik genting. Hujan turun tanpa jeda. Tanah kembali bergerak. Risiko longsor susulan membesar. Komando di lapangan mengambil keputusan berat: evakuasi dihentikan sementara.
Saat itulah Abah berdiri di tepi gundukan tanah.
Video aksinya viral pada Rabu, 28 Januari 2026. Tongkat diputar perlahan di atas kepala. Botol air disusun mengelilingi tubuhnya. Air disiramkan ke tanah yang masih basah.
“Kun fayakun, bismillah. Lihat, langsung berhenti,” ucapnya.
Aneh? Bisa jadi. Mistis? Bagi sebagian orang iya. Tapi bagi warga sekitar, itu adalah bentuk ikhtiar yang lain. Ikhtiar yang tidak tercatat dalam buku manual kebencanaan. Tapi hidup dalam tradisi.
Media sosial pun gaduh. Ada yang mencibir. Ada yang mendukung. Ada yang hanya berharap satu hal: hujan berhenti agar korban bisa ditemukan.
“Bukan soal percaya atau tidak. Ini soal doa,” tulis netizen.
“Semangat untuk tim SAR,” tambah akun lain.
Di lapangan, pekerjaan tetap berjalan. Tidak ada ritual yang menggantikan protokol keselamatan. Tidak ada mantra yang mengalahkan prosedur. Namun suasana psikologis berubah. Ada jeda hujan. Ada waktu untuk kembali bekerja.
Hingga kini, tim DVI Polri telah menerima 50 kantong jenazah dari lokasi longsor Cisarua. Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah keluarga yang kehilangan ayah. Ibu yang kehilangan anak. Rumah yang tak lagi utuh.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyebut jumlah korban terdampak terus bertambah dibanding laporan awal. Data bergerak. Sama seperti tanah di lereng Cisarua yang belum sepenuhnya diam.
Di tengah teknologi drone, alat berat, sensor cuaca, dan sistem SAR modern, masih ada satu hal yang tidak pernah hilang dalam bencana: manusia mencari harapan dengan caranya sendiri.
Kadang lewat radio komunikasi. Kadang lewat doa. Kadang lewat tongkat yang diputar di bawah hujan.
Di Cisarua, hari itu, semua cara dipakai. Karena ketika tanah runtuh, yang tersisa hanyalah satu tujuan: menemukan mereka yang masih tertinggal di bawah lumpur.
Dan berharap langit, sekali saja, mau berhenti menangis.***
