Monday, 5 January 2026
HomeViralDi Balik Video Viral Botol Makarizo di TikTok yang Gegerkan Media Sosial

Di Balik Video Viral Botol Makarizo di TikTok yang Gegerkan Media Sosial

Bogordaily.net – Video viral botol Makarizo di TikTok datang bukan sebagai kabar baik, melainkan sebagai cermin lain betapa internet kerap berlari lebih cepat daripada nalar. Jagat maya gaduh.

Nama Makarizo—yang biasanya tenang di rak swalayan—mendadak melonjak di kolom pencarian. Bukan karena formula baru. Bukan pula karena iklan. Melainkan karena rasa penasaran yang diternakkan algoritma.

Seperti biasa kebiasaan warganet: kalau sesuatu dibicarakan setengah-setengah, pasti dicari habis-habisan. Dari komentar samar di TikTok—“trauma lihat botol itu”—hingga cuitan singkat di X, percakapan kecil berubah menjadi buruan massal. Orang berlomba mencari “link full”, seolah ada harta karun digital yang harus ditemukan. Di titik inilah video viral botol Makarizo di TikTok berubah dari bisik-bisik menjadi gelombang.

Pola penyebarannya sederhana, bahkan klasik. Ada kalimat ambigu. Lalu FOMO bekerja. Mesin pencari ikut menggelembung. Setelah itu, para penyebar tautan palsu datang membawa umpan. Judulnya bombastis, alamatnya mencurigakan. Yang dikorbankan bukan hanya waktu, tetapi juga keamanan gawai dan data pribadi.

Perlu diingat, internet tidak pernah benar-benar gratis. Ada harga yang harus dibayar. Tautan-tautan yang mengatasnamakan “video asli” kerap berujung pada halaman phising, iklan judi, atau unduhan berbahaya. Inilah sisi gelap viralitas: rasa ingin tahu manusia diperas menjadi komoditas.

Lalu, apa sebenarnya isi video yang membuat orang trauma itu? Dari penelusuran percakapan di X, video tersebut memang ada. Isinya tidak pantas dan jelas berada di wilayah konten dewasa. Bukan tontonan publik. Bukan pula sesuatu yang perlu diulang-ulang. Viralitasnya bukan karena mutu, melainkan karena efek kejut—menjijikkan bagi sebagian orang, mengganggu bagi yang lain. Itulah mengapa video viral botol Makarizo di TikTok lebih tepat dibaca sebagai peringatan, bukan undangan.

Kasus ini menunjukkan satu hal penting: benda sehari-hari bisa kehilangan makna ketika diseret ke ruang digital tanpa etika. Algoritma FYP tidak punya moral; ia hanya menghitung interaksi. Kita yang semestinya mengerem. Tidak semua yang ramai perlu diklik. Tidak semua yang dicari layak ditonton.

Di ujung cerita, kegaduhan ini seharusnya mengajarkan kehati-hatian. Literasi digital bukan slogan, melainkan kebutuhan. Jika tidak, setiap hari akan lahir cerita serupa—berbeda merek, sama risikonya. Dan video viral botol Makarizo di TikTok akan tinggal sebagai catatan kecil tentang bagaimana rasa penasaran, bila dibiarkan, bisa berubah menjadi jebakan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here