Bogordaily.net – Banyak pengendara mobil masih menyepelekan tekanan angin ban, padahal komponen ini memegang peran krusial dalam keselamatan dan kenyamanan berkendara.
Ban yang tekanannya tidak sesuai ketentuan pabrikan bukan hanya memengaruhi performa kendaraan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian serius, mulai dari kerusakan ban hingga meningkatnya risiko kecelakaan di jalan.
Tekanan angin yang kurang membuat ban bekerja di luar kondisi ideal. Dalam jangka pendek, efeknya mungkin tidak langsung terasa.
Namun, jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa sangat merugikan, baik dari sisi teknis kendaraan maupun keselamatan pengemudi dan penumpang.
Risiko pertama yang paling sering terjadi adalah kerusakan pada ban itu sendiri. Saat tekanan angin kurang, dinding ban tidak dapat berdiri tegak sebagaimana mestinya.
Kondisi ini membuat benang atau struktur penguat di sisi ban bekerja secara berlebihan.
Pada tingkat tertentu, tekanan yang tidak seimbang tersebut bisa menyebabkan benang di dinding samping ban mengalami defleksi berlebih hingga akhirnya putus.
Akibatnya, karet bagian dalam ban dapat mengalami panas berlebih dan berujung pada kerusakan permanen.
Selain mempercepat kerusakan ban, tekanan angin yang kurang juga berdampak langsung pada konsumsi bahan bakar.
Ban yang kempis membuat area tapak yang bersentuhan dengan permukaan jalan menjadi lebih luas.
Hal ini meningkatkan hambatan gulir, sehingga mesin harus bekerja lebih keras untuk menggerakkan kendaraan.
Imbasnya, penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros dibandingkan kondisi ban dengan tekanan ideal.
Dari sisi pengendalian, tekanan angin yang tidak sesuai juga menurunkan stabilitas kendaraan.
Dinding ban yang terlalu empuk membuat ban memiliki pergerakan lebih besar saat bermanuver, terutama ketika berbelok atau melaju pada kecepatan tinggi.
Kondisi ini dapat mengurangi respons kemudi dan meningkatkan risiko kendaraan kehilangan kendali, terutama di jalan yang tidak rata.
Risiko berikutnya yang tak kalah serius adalah menurunnya efektivitas pengereman.
Baik di jalan kering maupun basah, dengan tekanan angin kurang membuat jarak pengereman menjadi lebih panjang.
Area kontak ban yang terlalu lebar justru mengurangi kemampuan ban untuk mencengkeram permukaan jalan secara optimal.
Dalam situasi darurat, kondisi ini bisa sangat berbahaya karena kendaraan membutuhkan jarak lebih jauh untuk berhenti.
Tekanan angin yang kurang juga berpotensi menyebabkan masalah pada sambungan antara ban dan pelek.
Dalam kondisi ekstrem, dinding ban yang melekat pada pelek bisa terlepas akibat tekanan yang tidak mencukupi untuk menjaga posisi ban tetap stabil. Situasi ini sangat berisiko, terutama saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.
Melihat berbagai risiko tersebut, pengecekan tekanan angin ban seharusnya menjadi kebiasaan rutin bagi setiap pengendara.
Tekanan angin yang sesuai tidak hanya membuat ban lebih awet, tetapi juga membantu menjaga efisiensi bahan bakar, stabilitas kendaraan, serta keselamatan di jalan.
Mengabaikan hal sederhana ini justru dapat berujung pada kerugian besar yang seharusnya bisa dihindari.***
