Wednesday, 14 January 2026
HomePolitikJokowi Terima Eggi–Damai, Kasus Ijazah Berpeluang Diselesaikan Damai

Jokowi Terima Eggi–Damai, Kasus Ijazah Berpeluang Diselesaikan Damai

Bogordaily.net – Ijazah Jokowi kembali menjadi cerita yang tak selesai di negeri ini. Bukan karena kertasnya, bukan pula karena stempelnya, melainkan karena manusia-manusia di sekitarnya. Kamis pagi itu, 8 Januari, di sebuah rumah di Kelurahan Sumber, Banjarsari, Solo, kisah panjang itu mengambil jeda sejenak—bukan di ruang sidang, tapi di ruang tamu.

Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, membenarkan bahwa dua nama yang selama ini keras menyuarakan tudingan ijazah palsu—Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis—datang menemuinya. Bukan untuk berdebat. Bukan pula untuk adu argumen. Mereka datang, kata Jokowi, untuk silaturahmi.

“Saya sangat menghargai silaturahmi,” ucap Jokowi saat ditemui awak media, Rabu (14/1/2026). Kalimatnya sederhana. Gaya bicaranya tetap khas: datar, pelan, tapi tegas. Eggi dan Damai hadir didampingi kuasa hukum mereka, Elida Netty. Duduk. Berbincang. Tidak ada mikrofon. Tidak ada panggung.

Di sinilah Ijazah Jokowi berubah wajah. Dari isu hukum menjadi soal kemanusiaan. Dari laporan polisi menjadi kemungkinan damai. Jokowi secara terbuka menyebutkan harapannya agar pertemuan itu bisa menjadi bahan pertimbangan penyidik Polda Metro Jaya untuk menempuh jalan restorative justice.

“Karena itu adalah kewenangan penyidik,” kata Jokowi. Ia tidak menggurui. Ia tidak memerintah. Ia hanya menyampaikan harapan, sebuah kata yang jarang terdengar dalam hiruk-pikuk politik nasional.

Apakah ada permintaan maaf? Jokowi memilih tidak menjawabnya secara tegas. Menurutnya, ada atau tidak ada permintaan maaf bukanlah inti persoalan. Yang lebih penting adalah niat baik untuk datang dan bersilaturahmi. Di titik itu, Jokowi berhenti menimbang masa lalu.

Kasus Ijazah Jokowi memang telah menyeret banyak nama dan emosi. Ada yang diproses hukum. Ada yang berdebat di ruang publik. Ada pula yang menunggu dengan sabar, berharap cerita ini segera menemukan akhir yang lebih sejuk.

Mungkin, di ruang tamu rumah di Solo itulah, negara ini kembali diingatkan: tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan suara keras. Kadang cukup dengan duduk, berbincang, dan memberi ruang bagi akal sehat untuk bekerja.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here