Bogordaily.net – Kebakaran di Leuwinutug Citeureup membangunkan warga Kampung Leuwinutug pada Kamis dini hari, 8 Januari 2026.
Jarum jam baru saja melewati pukul 03.40 WIB ketika api tiba-tiba membubung dari salah satu rumah di RT 02 RW 03, Desa Leuwinutug, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Malam yang semula sunyi berubah menjadi riuh. Teriakan minta tolong bersahut-sahutan. Warga berlarian keluar rumah, sebagian hanya sempat menyelamatkan diri.
Api cepat menjalar. Rumah-rumah di kampung itu berdempetan. Material bangunan yang mudah terbakar membuat si jago merah kian ganas.
Dugaan sementara, sumber api berasal dari korsleting listrik. Sebuah sebab klasik, tapi selalu menyisakan kepanikan yang sama. Listrik—yang setiap hari kita anggap remeh—kembali menunjukkan wajah berbahayanya saat malam masih gelap dan kebanyakan orang terlelap.
Laporan warga segera sampai ke petugas pemadam kebakaran Kabupaten Bogor. Tak lama berselang, empat unit mobil pemadam dikerahkan ke lokasi. Akses jalan kampung yang sempit menjadi tantangan tersendiri.
Namun, petugas tetap berupaya secepat mungkin. Selang ditarik, air disemprotkan. Warga membantu sebisanya—mengamankan barang, menjauhkan kendaraan, dan memastikan api tidak merembet ke rumah lain.
Sekitar beberapa waktu kemudian, api berhasil dikendalikan. Asap masih mengepul, menyisakan bau kayu terbakar dan sisa-sisa puing.
Beruntung, dalam kebakaran di Leuwinutug Citeureup ini tidak ada korban jiwa. Sebuah kabar yang sedikit melegakan di tengah kepanikan dan kerugian materi yang tak kecil.
Meski begitu, trauma warga jelas terasa. Wajah-wajah letih menyimpan cemas: bagaimana memulai kembali setelah rumah dilalap api?
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat. Korsleting listrik bukan sekadar istilah teknis. Ia bisa datang kapan saja, terutama saat instalasi sudah tua, kabel tak standar, atau beban listrik berlebihan.
Kebakaran di Leuwinutug Citeureup menambah daftar panjang musibah serupa yang kerap terjadi di permukiman padat. Pencegahan, seperti pengecekan instalasi listrik secara berkala, sering terdengar sepele—sampai api benar-benar menyala..
Sementara itu, rekaman kejadian yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa cepatnya api melahap bangunan. Sebuah malam panjang bagi warga Leuwinutug—dan sebuah pelajaran pahit yang kembali diulang oleh kebakaran di Leuwinutug Citeureup.***
