Penjajahan harus di hapuskan dari muka bumi karena tidak sesuai dengan Peri Kemanusiaan dan Peri Keadilan. Tetapi kalimat tersebut memakan dirinya sendiri. Orde Baru tidak bergeming. Maka MALARI jawabannya. Malapetaka 15 Januari 1974. Demo pemuda mahasiswa anti modal asing saat PM Jepang Tanaka tiba di Jakarta. Demo menentang Rezim Soeharto yang lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi yang menguntungkan segelintir elite dari pada pemerataan keadilan sosial rakyat Indonesia. Gerakan yang dimotori aktivis demokrasi Hariman Siregar, Gurmilang Kartasasmita, Judilherry justam, Salim Hutajulu(Alm), dan banyak lagi lainnya mempunyai fokus issue yg jelas yaitu Anti Penjajahan. Gerakan ini pada akhirnya berdampak luas, menimbulkan korban harta dan jiwa serta berakhir dengan dipenjarakan para aktivis nya.
Gerakan anti penjajahan mahasiswa/pemuda di negeri ini setidaknya sudah mengakar sejak jaman penjajahan Belanda mulai Gerakan Kebangkitan Nasional Boedi Oetomo 1908 dan Sumpah Pemuda 1928 sampai terjadi nya Revolusi Pemuda 1944-1946(Ben Anderson). Meskipun sebelumnya juga banyak gerakan melawan penjajah, seperti Fatahillah (1448-1570) yang mengusir portugis dari sunda kelapa Jakarta 1527, Sultan Agung (1593-1645), Perang Diponegoro 1825-1830 , Perang Padri 1803 – 1838, Perang Atjeh 1873 – 1904, dan banyak lagi perang / gerakan anti penjajahan lain nya.
Setelah zaman revolusi kemerdekaan 1945, issue Gerakan anti penjajahan baru muncul kembali saat Peristiwa Malari 1974. Bahwa setelah Malari memang masih berlangsung aksi seperti Gerakan Mahasiswa 1978 dengan issue Anti Rezim Soeharto / Anti Militerisme yang melahirkan tokoh Sukmadji Indro Tjahyono dengan Perlawanan nya ” Indonesia di bawah Sepatu Lars”, Rizal Ramli(Alm.), Heri Akhmadi dan lainnya. Selanjutnya Gerakan Mahasiswa 80 an hingga 90 an yang melahirkan Revormasi. Gerakan Reformasi 98, adalah berbeda dengan Malari. Meskipun gerakan revormasi 1998 juga memakan korban mahasiswa pemuda dan akhirnya dengan berbagai tekanan Rejim Orba jatuh dengan mundur nya Soeharto, namun gerakan tersebut tidak memunculkan issue Anti Penjajahan dan tidak menimbulkan efek Malapetaka laksana Malari. Gerakan Mahasiswa pemuda 98 lebih fokus untuk menuntut Rejim Soeharto mundur. Begitu juga sebelumnya di jaman orla, Rejim Soekarno di jatuhkan bukan hanya dengan Demo Angkatan 66, tetapi merupakan konspirasi banyak pihak, sipil, Tentara, Jenderal Soeharto dan Asing. Meski sangat banyak korban harta jiwa rakyat tak berdosa lebih dari Malari tetapi isue nya fokus Anti Komunis (PKI) dan menggulingkan Rezim Soekarno.
Kemudian juga Aksi ditahun 2000 an termasuk Aksi 212 tahun 2016 yg melibatkan “jutaan” rakyat berlangsung damai dan hanya fokus utk menghukum seorang penista agama, meski diduga gerakan tersebut untuk menggulingkan presiden Jokowi. Dan walaupun saat ini dominasi asing makin bercokol tetapi Aksi 212 (maupun reuni 212), berbeda isue dan dampak, sehingga tidak bisa dibandingkan dengan gerakan Malari. Bahwa memang tidak menutup kemungkinan Gerakan 212 menjadi gerakan fenomenal apabila para tokoh gerakannya seperti Habib Rizieq, KH. Bachtiar Nasir, AA. Gym dan lainnya, saat itu “menggelorakan hasrat yang lebih besar” menuju issue Gerakan Anti Penjajahan / Gerakan Anti Neo Imperialisme / Anti Neo Kolonialisme. Namun apapun itu gerakan 212 tersebut telah berhasil membangkitkan solidaritas ummat Islam yang luar biasa, dan tentu saja takdir gerakan nya telah berkata lain.
Hakekat Malari adalah Gerakan Anti Penjajahan. Saat orde baru dominasi ekonomi politik asing makin menguat terutama Jepang dan Kapitalis Barat. Dominasi Kapital Asing adalah Penjajahan dalam bentuk baru yg ternyata berdampak lebih kompleks runyam bagi kesengsaraan nasib Rakyat Indonesia. Saat ini setelah Orde Revormasi negeri kita ternyata semakin dicengkeram oleh Dosa Kapital. Perusahaan Asing baik Jepang, China, Eropa, Amerika Zionis dan banyak lagi lainnya makin merajalela menguasai aset hajat hidup orang banyak mulai dari hulu sampai ke hilir. Mulai Multi National Corporation (MNC) yg besar, sedang, sampai kecil. Mulai bisnis tambang minyak, emas, mobil, air, online, satelit informasi, kontraktor, rumah sakit, pharmasi, dokter, lawyer, sampai ke dagangan rakyat kecil. Misal nya saja seperti Freeport, Exxon, Fox, CNN,Toyota, Mitsubishi, Sony, Samsung, Shiomi, Vivo, Wuling, Alibaba, google, Ford, BMW, de beers, microsoft, Aqua, McD, Starbuck, KFC, Uber Grab, laundry 5 asec, carefour, sampai ke retail macam Circle K, dan banyak macam lainnya.
Kemudian warisan Utang negara kita lebih dari Rp. 9000 Triliun pada era kekuasaan Jokowi dan pada masa pemerintahan Prabowo Subianto menuju lebih 9600 T pada awal 2026. Dan akan terus bertambah, karena kita berhutang lagi hanya untuk membayar Bunga Utang yg itu pun makin membengkak bahkan bisa tidak terbayar. Belum lagi tekanan tinggi nya nilai kurs dollar dan suku bunga dunia. Problematikanya juga adalah Utang yang selalu digunakan sebagai Rente Korupsi. Utang inilah senjata para pemilik Kapital yg sengaja terus di jejalkan agar bisa menjadi rentenir bagi negeri kita. Kapital ini pemiliknya mayoritas kaum “kapitalis barat-yahudi zionis”, seperti The FED, IMF, ADB, World Bank, dan banyak lembaga keuangan termasuk “kapitalis timur” yang didominasi OBOR China dan Jepang. Bahkan lembaga PBB pun notabene dalam cengkeraman oligarki para bankir vampir penghisap darah anti kemanusiaan. Homo homini lupus, segelintir manusia borjuis yang menjadi srigala bagi manusia manusia proletar tertindas. Merekalah sejati nya Penjajah Dunia yang tidak berperikemanusiaan. Kapital tidak lain adalah imperialis gaya baru yang lebih kejam.
Bahkan munculnya Populisme di dunia saat kemenangan Donald Trump di Amerika serikat tidak luput dari Capital Effect yg notabene adalah konspirasi para pemilik modal dalam menciptakan dasamuka kapital berupa wajah baru penjajahan dengan teknik rasa rupa berbeda namun tetap satu tujuan yaitu Kapital. Dan dengan Demokrasi Kapital Amoral maka Tatanan Dunia Baru akan berada dibawah Kekuasaan Penjajah yang lebih keji dari penjajah manapun yang pernah ada di muka bumi ini. Jika dianggap munculnya Populisme merupakan Antitesa dari Kapitalisme Global maka Sintesa nya adalah Imperialis Zionis Devilis. Terbukti saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memporakporandakan tatanan dunia dengan menjadikan Yerussalem sebagai Ibukota “Imperialis Zionis Izrahell Devilis”. Tatanan yang bermula dari Penghapusan Palestina – Al Quds. Tatanan Imperialis Kolonialis mendunia yang menancapkan kekejaman zaman. Sebuah Tatanan baru New World Order yg melampaui batas batas Perikemanusiaan dan Perikeadilan. Sebuah tatanan ultra ekstrem yg sangat mengerikan. Sebuah tatanan yg melampaui ramalan Zaman Edan nya Ronggowarsito. Sebuah Perang dashyat. Perang Kapital menuju Tatanan Penjajahan Zaman Anti Kemanusiaan. Dari sinilah munculnya konflik dunia dan dari sini pulalah akan muncul perdamaian dunia.
Lalu bagaimanakah bentuk Gerakan Perlawanan Anti Penjajahan kita saat ini.
Setidak nya gerakan “kata kata Kebenaran” adalah bentuk perlawanan kita dalam menentang segala bentuk penjajahan. Kebenaran akan meruntuhkan sistem Demokrasi Kapital Amoral menuju Sistem Demokrasi yang Beradab dan berkeadilan sosial. Dan dari gerakan kata kata Kebenaran dan Kebaikan dengan nurani yang tulus inilah nantinya akan menuju Revolusi Gerakan Anti Penjajahan mengembalikan Era Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Akhirnya, hanya Tuhan Maha Kuasa yang dapat mengalahkan jiwa jiwa iblis. Hanya Yang Kuasa sebagai pemberi petunjuk bagi para insan dalam rangka Perdamaian Alam Semesta. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.***
Ditulis Oleh: Moh. Syafiq Khan
(Aktivis INDEMO (Indonesian Democracy Monitor), dan Ketua Presidium Forum Alumni Universitas Mataram /FAUM Indonesia.
