Bogordaily.net – Model dan aktivis Manohara Odelia Pinot kembali menjadi sorotan publik setelah membagikan rangkaian unggahan emosional di Instagram yang mengungkap pengalaman pahit masa lalunya.
Curahan hati tersebut menyingkap dugaan praktik child grooming yang dialaminya sejak remaja, serta menyeret peran sang ibu kandung, Daisy Fajarina, dalam peristiwa yang selama ini menjadi misteri publik.
Nama Manohara sendiri pernah menghebohkan publik lebih dari satu dekade lalu. Saat itu, ia dikabarkan menikah pada usia 16 tahun dengan Pangeran Kelantan, Malaysia.
Kisah tersebut sempat dibingkai sebagai cerita dramatis tentang penculikan usai ibadah umrah, di mana Daisy Fajarina menyatakan putrinya diculik dan ditahan di luar negeri. Manohara kemudian disebut berhasil melarikan diri dan kembali ke Indonesia.
Namun, bertahun-tahun kemudian, narasi tersebut terbantahkan. Dalam unggahan terbarunya, Manohara secara terbuka menyebut bahwa cerita penculikan itu tidak benar.
Ia mengungkap sendiri kebohongan tersebut setelah isu child grooming kembali ramai diperbincangkan, dipicu oleh viralnya buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans yang membahas pengalaman serupa.
Situasi semakin memanas ketika akun Instagram Manohara diserang oleh sebuah akun anonim bernama @aisyah_nadawi, yang diduga kuat merupakan akun palsu milik ibunya sendiri.
Serangan tersebut justru memicu Manohara untuk membongkar berbagai perlakuan yang ia klaim dialaminya sejak masih di bawah umur.
Dalam unggahannya, Manohara menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak pernah menyetujui pernikahan di usia muda.
Ia mengaku dipaksa oleh sang ibu, meski telah berulang kali memohon agar rencana tersebut dihentikan.
Ia juga mengungkap bahwa permintaannya untuk tidak ditinggalkan sendirian bersama pria tersebut justru dibalas dengan kekerasan fisik dan verbal.
Manohara juga membantah tudingan yang menyebut dirinya tidak berminat melanjutkan pendidikan.
Ia menyebut justru memiliki keinginan besar untuk bersekolah dan menimba ilmu, namun harus menghadapi tekanan untuk bekerja dan membantu membiayai pendidikan seni saudaranya di Sydney.
Tekanan dan perlakuan tersebut membuatnya merasa kehilangan figur ibu dalam kehidupannya, hingga ia mengaku kesulitan menyebut Daisy Fajarina sebagai “ibu”.
Tak berhenti di situ, Manohara turut mengungkap pengalaman traumatis lain yang ia kaitkan dengan praktik ilmu hitam.
Ia menyebut kerap dibawa ke dukun di wilayah Sukabumi dan Bogor karena dianggap kerasukan dan tumbuh menjadi anak pembangkang.
Berbagai ritual yang ia jalani, mulai dari meminum air ritual hingga mandi dengan cairan tertentu, disebut meninggalkan trauma mendalam yang masih ia rasakan hingga dewasa.
Manohara juga menyoroti sikap sang ibu yang dinilainya kerap memanfaatkan agama demi kepentingan pribadi.
Ia mengungkap bahwa Daisy Fajarina sempat berpindah agama mengikuti lingkungan pertemanan yang didominasi pemeluk Kristen kaya, dan menyebut seluruh tindakan tersebut bersifat transaksional serta berorientasi pada keuntungan.
Pengakuan panjang Manohara tersebut langsung memicu reaksi luas dari warganet. Kolom komentar media sosialnya dipenuhi dukungan, empati, sekaligus hujatan keras terhadap Daisy Fajarina.
Banyak netizen menyebut keputusan Manohara menjaga jarak dari ibunya sebagai langkah yang wajar demi kesehatan mental.***
