Bogordaily.net – Permukaan jalan yang licin, genangan air yang sulit diprediksi, hingga jarak pandang yang terbatas membuat risiko kecelakaan meningkat. Di tengah situasi tersebut, masih banyak pengendara yang mempercayai anggapan bahwa mengurangi tekanan angin ban dapat meningkatkan daya cengkeram kendaraan agar tidak mudah tergelincir.
Anggapan tersebut ternyata keliru dan justru berpotensi membahayakan keselamatan. Secara teknis, mengurangi tekanan ban saat hujan bukanlah solusi yang tepat untuk meningkatkan traksi kendaraan.
Praktik ini bahkan dapat memperbesar risiko terjadinya kecelakaan, terutama di jalan raya beraspal.
Berikut sejumlah alasan mengapa pengendara tidak dianjurkan mengurangi tekanan ban saat kondisi hujan dan tetap harus mengikuti standar yang ditetapkan pabrikan.
Hilangnya Cengkeraman Bagian Tengah Ban
Ban dengan tekanan angin yang dikurangi akan mengalami kondisi kempes. Akibatnya, struktur ban berubah dan membuat hanya bagian sisi kiri dan kanan yang bersentuhan langsung dengan permukaan jalan.
Sementara itu, bagian tengah ban justru terangkat dan kehilangan kontak optimal dengan aspal. Kondisi ini mengurangi stabilitas kendaraan, terutama saat melaju di kecepatan menengah hingga tinggi.
Meningkatkan Risiko Aquaplaning
Ruang kosong di bagian tengah ban yang kempes berpotensi menjadi tempat berkumpulnya air.
Ketika ban melaju di atas permukaan jalan basah, air yang terjebak tersebut dapat membentuk lapisan tipis seperti bantalan.
Fenomena ini memicu aquaplaning, yaitu kondisi ketika ban kehilangan kontak dengan permukaan jalan sehingga kendaraan sulit dikendalikan dan berisiko tergelincir.
Tekanan Ban Standar Dirancang untuk Jalan Basah
Tekanan yang direkomendasikan pabrikan telah dirancang melalui serangkaian pengujian, termasuk untuk kondisi jalan basah.
Tekanan yang sesuai memastikan tapak ban bekerja optimal dalam membuang air, menjaga traksi, dan mempertahankan stabilitas kendaraan. Mengubah tekanan ban tanpa alasan teknis yang tepat justru mengganggu performa ban itu sendiri.
Pada dasarnya, tekanan angin ban hanya boleh diubah dalam kondisi tertentu. Tekanan ban dapat dinaikkan ketika kendaraan membawa muatan berlebih untuk menyesuaikan beban.
Sementara pengurangan tekanan ban hanya dianjurkan saat melewati medan lumpur berat atau permukaan sangat lunak, dan itu pun umumnya berlaku untuk ban dengan konstruksi nilon atau bias, bukan untuk penggunaan di jalan raya beraspal saat hujan.
Dengan demikian, mengikuti standar tekanan ban pabrikan tetap menjadi langkah paling aman dalam berkendara di tengah cuaca ekstrem.
Pemeriksaan tekanan secara rutin sangat dianjurkan agar kendaraan tetap nyaman, stabil, dan aman saat melintasi jalanan basah.
Keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada keahlian pengemudi, tetapi juga pada pemahaman teknis yang benar.
Menghindari mitos yang salah kaprah dan mengedepankan praktik berkendara yang sesuai standar menjadi kunci utama menghadapi kondisi jalan saat musim hujan.***
