Bogordaily.net – Berita itu datang seperti pintu yang ditutup mendadak. Sunyi. Mengagetkan. Dunia hiburan dan jagat media sosial kehilangan satu nama yang selama ini dikenal ceria: Lula Lahfah.
Jumat sore, 23 Januari 2026, di sebuah unit apartemen kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Lula ditemukan tak bernyawa. Waktunya tercatat jelas: pukul 18.44 WIB. Angka yang kini menjadi penanda duka.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, membenarkan peristiwa tersebut. Seorang influencer berinisial LL ditemukan meninggal dunia di apartemennya.
Yang menemukan bukan keluarga. Bukan sahabat. Melainkan petugas keamanan apartemen. Mereka datang setelah mendapat laporan dari asisten rumah tangga Lula. Ada kekhawatiran. Pintu kamar tak kunjung terbuka. Tidak ada respons. Padahal, ART mengetahui Lula sedang dalam kondisi kurang sehat.
Kekhawatiran itu ternyata beralasan.
Pintu dibuka. Sunyi menyambut. Di dalam unit itulah Lula ditemukan. Sendirian.
Polisi segera bergerak. Garis polisi dipasang. Olah tempat kejadian perkara dilakukan. Petugas berkoordinasi dengan keluarga. Semua prosedur dijalankan. Satu per satu potongan informasi dikumpulkan.
Malam berubah menjadi dini hari. Sabtu, pukul 01.04 WIB, ambulans keluar dari Rumah Duka RSUP Fatmawati. Jenazah Lula telah dibungkus kain. Beberapa orang berdiri mematung di sisi jalan rumah sakit. Tidak banyak suara. Yang terdengar hanya mesin ambulans yang pelan-pelan menjauh.
Di antara yang mendampingi, tampak Reza Arap. Sang kekasih. Ia berdiri hingga ambulans benar-benar pergi. Sahabat-sahabat dekat juga terlihat: Keanu, Dara Arafah. Dari kejauhan, Wendy Walters datang. Menyusul kemudian Fuji, berpakaian putih, mengenakan masker. Semua hadir dengan wajah yang sama: muram.
Hingga dini hari itu, keluarga belum memberikan keterangan soal lokasi persemayaman. Belum juga soal rencana pemakaman. Yang pasti, rumah duka sejak Jumat malam telah dipenuhi pelayat. Kerabat, sahabat, rekan sesama selebritas datang silih berganti.
Sementara itu, penyebab kematian Lula masih menjadi tanda tanya. Polisi menyatakan penyelidikan masih berjalan. Jenazah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ada kesimpulan cepat. Tidak ada spekulasi resmi.
Yang bergerak cepat justru media sosial.
Kolom komentar di akun Lula berubah menjadi lautan duka. Ribuan pesan masuk. Banyak yang mengaku tidak percaya. Beberapa jam sebelumnya, Lula masih terlihat aktif. Masih mengunggah cerita. Masih tersenyum di layar ponsel orang-orang yang tak pernah benar-benar mengenalnya secara dekat.
Begitulah dunia digital. Hari ini tertawa bersama. Besok berkabung bersama.
Kepergian Lula Lahfah bukan hanya soal satu nyawa yang pergi. Ia juga menjadi pengingat: di balik kamera, filter, dan tawa konten, ada manusia yang bisa rapuh. Bisa sakit. Bisa pergi tanpa aba-aba.
Dan Jumat sore itu, Jakarta Selatan menjadi saksi. Sunyi. Sekaligus duka.***
